Let’s Kill This Love

Tetangga kamar saya ahli bahasa kamera (kayak gimana tuh?). Kalau menonton film bareng di rumah itu suka menebak mood adegan yang akan disajikan atas dasar bahasa film. Yang saya ingat, CMIIW alias correct me if I’m wrong, hujan dengan petir itu mengantar adegan kritis yang moodnya negatif. Dengan modal begitu, dari kisah bayi Musa sudah bisa dipetik pengertian bahwa Musa ini bukan hanya terlindung dari bahaya (air sungai, danau, laut, konon menyimbolkan dunia gelap), melainkan juga bertumbuh, dididikdikdikdikdik di lingkungan istana Firaun, yang telah mengeluarkan maklumat genosida terhadap bangsa bayi Musa ini.

Apakah pendidikan yang diterimanya di kalangan istana itu membuatnya jadi bermental seperti Firaun? Rupanya tidak. Juga dalam kutipan teks hari ini disertakan kisah Musa remaja, yang rupanya masih punya ikatan primordial dengan bangsanya sendiri. Ketika melihat bangsanya dipukuli oleh orang Mesir, ia toleh kiri kanan lalu menyeberang jalan #eh… membunuh orang Mesir itu. Poinnya bukan bahwa Musa membunuh orang Mesir itu, melainkan bahwa dia melihat ketidakadilan yang konkret di luar istana.

Begitulah Allah mendidik umat-Nya. Ini bukan lagi perkara atribut suku, bangsa, agama, melainkan perkara kesetaraan manusia di hadapan Allah. Bahwa Musa berparadigma primordial kesukuan dan bahkan menghalalkan pembunuhan, itu tidak menyangkal kerinduan batinnya pada keadilan Allah itu. Gak hanya Musa yang begitu, para penerusnya pun masih akrab dengan chauvinisme agama yang didasarkan pada adat kesukuannya. Bahkan, sentimen itu terpelihara sampai zaman now meskipun banyak nabi mewartakan keadilan Allah yang mengatasi sentimen-sentimen tribal, meskipun tokoh-tokoh agama menggembar-gemborkan bahwa agama jadi berkat bagi kemanusiaan.

Tentu saja, pada zaman Musa remaja belum ada komitmen dekalog alias Ten Commandments bin sepuluh perintah Allah. Jadi, sebetulnya bunuh membunuh belum diberi kerangka kedosaan. Akan tetapi, mari lihat penggambaran Musa remaja dalam membunuh orang Mesir itu. Seperti tadi saya bilang, dia tengok kiri kanan dulu, gak ada orang lain, barulah dia bunuh orang Mesir yang memukuli pekerja rodi dari sukunya. Setelah itu, ia menyembunyikan mayatnya dalam pasir karena takut ketahuan, dan betul Firaun mengetahuinya lalu berupaya untuk membunuh Musa.

Itu artinya, pembunuhan sebetulnya tak dikehendaki baik oleh Musa maupun Firaun. Akan tetapi, karena sentimen kesukuan, mereka menghalalkan kekerasan yang berujung pada kematian. Cinta tribal, dengan demikian, sudah lumrah dalam arti tidak masuk dalam kerangka Sepuluh Perintah Allah itu. Baru setelah Musa menerima Taurat, cinta tribal itulah yang semestinya dibunuh karena melanggar prinsip keadilan di hadapan Allah. Itu teorinya.

Pada praktiknya, sebagian orang beragama masih hidup dalam perspektif cinta bersentimen agama nan lebay dan itu memang susah membunuhnya. Ini yang kemarin bisa diberi label sebagai orang beragama yang jadi tirani karena kedamaiannya tak sinkron dengan keadilan. Cinta yang begini ini mencabut orang beragama dari tanah tempatnya berpijak untuk cari damai tanpa berpihak pada keadilan universal. Andai saja Blackpink bisa membunuhnya…

Tuhan, mohon rahmat kepekaan batin untuk menangkap keadilan-Mu dalam hidup kami bersama. Amin.


SELASA BIASA XV C/1
16 Juli 2019

Kel 2,1-15a
Mat 11,20-24

Selasa Biasa XV B/2 2018: Agen Ritual
Selasa Biasa XV A/1 2017: Juara Dunia? Tênané 

Selasa Biasa XV C/2 2016: Susah Melihat Rahmat
 
Selasa Biasa XV B/1 2015: Untuk Apa Agama?

Selasa Biasa XV A/2 2014: Kolektivitas Non-Partai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s