Lepaskan Sandalmu

Tahukah Anda siapa penemu hologram tiga dimensi dan kapan ditemukan? Penemunya Musa, hari ini, dalam bacaan pertama. Iya sih tepatnya saya yang baru hari ini ngeh narasi Musa dalam pelariannya menemukan hologram tiga dimensi itu (mungkin malah empat atau lima). Butuh berapa ribu tahun rupanya manusia untuk mengembangkan teknologi berbasis fenomena gelombang itu [koyo yak-yako ngerti, Rom!].
Dari teks bacaan kemarin-kemarin bisa dimengerti bagaimana galaunya Musa yang melihat ketidakadilan yang menimpa bangsanya ditambah dia sendiri bereaksi brutal terhadap ketidakadilan itu sampai merenggut nyawa orang Mesir sehingga dia sendiri malah ketakutan. Mungkin juga galaunya itu berisi kemarahan besar bahwa de facto dia tak bisa berbuat apa-apa di hadapan ketidakadilan itu.

Narasi bacaan pertama menunjukkan kepada pembaca bahwa dalam kondisi hati yang kacau balau dengan kemarahan dan ketakutan itu pun Allah bisa saja menjumpai umat-Nya alias manusia. Tentu saya tidak bisa mengatakan bahwa semak yang terbakar-tapi-tak-terbakar itu adalah Allah. Akan tetapi, sekurang-kurangnya begitulah manifestasi Allah yang menyapa dan memanggil Musa. Api, meskipun terbatas dalam pengindraan manusia, merepresentasikan suatu dorongan, cahaya, kehangatan, keindahan, kekuatan menyala-nyala yang menyertai misteri Allah yang tremendum et fascinosum (fasyinosum aja ya bacanya) itu.

Mengapa tremendum? Karena memang menakutkan. Mengapa fascinosum? Karena mengagumkan dan menarik, sehingga Musa pun mendekat untuk memenuhi rasa keponya. Pada momen itulah Tuhan menegaskan transendensi-Nya: Jangan mendekat! Lepaskan sandalmu karena tempatmu berpijak itu kudus.
Mengerti liyan mungkin masih jauh lebih gampang karena kita punya struktur yang sama sebagai manusia, tetapi memahami Liyan yang satu ini bisa jadi mustahil karena totally different. Para filsuf dan teolog membuat aneka rumusan, tetapi aneka macam rumusan itu tak pernah memadai untuk menaklukkan Allah Yang Mahabesar ini.

Satu-satunya jalan untuk mendekati Allah yang transenden itu, ditunjukkan dalam bacaan kedua, adalah disposisi orang kecil, yang dikontraskan dengan mereka yang bijak-pandai.
Salah satu imaji yang muncul di benak saya ialah bagaimana saudara-saudari Muslim menjalankan ibadatnya di masjid. Memang ada banyak poster yang beredar pada saat Ramadhan lalu: kehilangan sandal di masjid itu tragedi kecil, yang besar ialah kalau sandalnya tak pernah di masjid; tetapi yang mengesankan saya ialah bagaimana sebelum masuk masjid untuk ibadat itu mereka mesti melepaskan alas kaki dan membasuh diri. Itu adalah salah satu wujud konkret disposisi orang kecil. Apapun kendaraan, pakaian, sepatunya, bisa jadi di batas suci penguasa dominan alas kakinya bermerk Sw*ll*w. 

Wujud konkret lainnya mesti ditemukan sendiri oleh orang beriman dalam konteks hidupnya, yang menunjukkan bahwa ia membiarkan ikhtiar dan kerja keras lahir batinnya dijumpai oleh Yang Tremendum dan Fascinosum tadi. Kalau tidak, ia jatuh dalam berhala: bukan lagi wujud eksternal patung, melainkan rasionalitasnya sendiri. Yang membuat berhala bukan patungnya, melainkan pikiran orang sendiri, bukan?

Tuhan, mohon rahmat kerendahhatian dan kebijaksanaan supaya kami tidak memberhalakan pikiran dan usaha kami sendiri. Amin.


RABU BIASA XV C/1
17 Juli 2019

Kel 3,1-6.9-12
Mat 11,25-27

Rabu Biasa XV B/2 2018: Kehebatan Terlupakan
Rabu Biasa XV A/1 2017: Selfie with God?
 
Rabu Biasa XV C/2 2016: Pokémon Go: Playing Truth

Rabu Biasa XV B/1 2015: Sejarah Allah Bukan Sejarah Agama

Rabu Biasa XV A/2 2014: Kaum Bijak-Pandai Celaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s