Kehebatan Terlupakan

Anda tentu masih ingat pemenang Piala Dunia bal-balan 2018 . Saya bahkan masih ingat pemenang 2014: Jerman. Anda mungkin masih ingat pemenang tahun 2010, 2006, 2002, dan terus dirunut ke belakang sampai gelaran pertama Piala Dunia di tahun 1930. Kalaupun lupa, Anda bisa mengakses informasinya di toko sebelah. Kalau hafal semua negara kampiun sepak bola dari tahun ke tahun, njuk ngopo so what gituloh? Ya dapat tepuk tangan karena kemampuan menghafal dan mengingat. Okelah. Njuk ngopo?

Tidak perlulah orang mempelajari aneka macam cara untuk menjadi hebat sementara ia tak bisa menjawab tuntas pertanyaan njuk ngopo tadi. Menjadi pemenang Piala Dunia pun tak membantu orang untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Sehebat-hebatnya orang, bangsa, generasi, zaman, ujung-ujungnya tertelan waktu dan tak ada lagi orang yang mengingatnya karena ingatan itu tak penting untuk diturunkan dari generasi ke generasi. Betul, Anda bisa tahu bahwa pemenang Piala Dunia 1930 adalah Uruguay, tuan rumah, tetapi itu cuma jadi pengetahuan, bukan bagian dari ingatan atau memori Anda. Horog piye jal mengingat-ingat hal yang tidak menjadi bagian pengalaman hidup Anda selain mengingat rumus atau pengetahuan sejenisnya?

Menariknya, ingatan yang diturunkan dan dihidupi dari generasi ke generasi bukanlah ingatan akan kehebatan orang atau kelompok tertentu, melainkan kepiawaian orang untuk menuntun orang lainnya masuk ke dalam misteri hidup: pengenalan akan diri sendiri dan pengenalan akan Allah. Tiliklah sosok para nabi, yang diingat bukan karena mereka memenangkan peperangan atau kejuaraan sepak bola berapi atau perlombaan puasa, melainkan karena mereka menyodorkan tuntunan bagi sesamanya untuk masuk ke kedalaman hidup, untuk menjalin hubungan dengan Sang Pencipta kehidupan.

Di sini orang tak perlu jadi hebat supaya dikenangkan orang lainnya. Sebaliknya, ia perlu mengenangkan orang lainnya supaya jadi hebat. Siapa yang dikenangkan? Ya mereka yang perlu dikenangkan itu tadi: orang-orang yang memberikan tuntunan untuk mengenal diri dan mengenal Allah. Mengikuti jalan hidup yang mereka tunjukkan adalah cara untuk menyatakan kebesaran Allah. Ini titik kritisnya: orang mau jadi hebat untuk menunjukkan kebesaran Allah. Itu logika terbalik. Orang beriman berangkat dari kenangan akan kebesaran Allah dan dari kenangan itu ia melakukan hal-hal yang cool

Jadi, orang yang ikhlas melakukan hal cool sebagai konsekuensi persahabatannya dengan Tuhan. Orang beriman tidak ngotot mencari kebesaran diri, melainkan menempatkannya sebagai konsekuensi. Sebaliknya, mereka yang tak percaya pada kebesaran Allah akan mencari segala upaya untuk menunjukkan kehebatannya yang cool, dan seperti tadi, kehebatan yang akhirnya tertelan waktu, seberapapun besarnya kehebatan itu.

Tuhan, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu. Amin.


RABU BIASA XV B/2
18 Juli 2018

Yes 10,5-7.13-16
Mat 11,25-27

Rabu Biasa XV A/1 2017: Selfie with God
Rabu Biasa XV C/2 2016: Pokémon Go: Playing Truth
Rabu Biasa XV B/1 2015: Sejarah Allah Bukan Sejarah Agama

Rabu Biasa XV A/2 2014: Kaum Bijak-Pandai Celaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s