Beban Cinta

Baru tahu saya bahwa bahasa Jawanya kuk adalah pasangan, jadi tak perlu repot-repot menerjemahkan bahasa Latin dengan menambahi con pada kata iugum (kuk) untuk mendapat kata pasangan. Kata tetangga kamar saya, pasangan ini berkonteks kerja. Memang betul, pasangan ini tidak dipakai untuk beristirahat, tetapi untuk bekerja. Lha apa gak malah tambah berat bekerja dikasih pasangan? Apa gak berat juga dah tua masih disuruh belajar juga #eh…? Kenyataannya begitulah permintaan si guru dari Nazareth: pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah daripadaku. Janjinya: kuk yang kupasang itu enak dan bebanku pun ringan.

Guru dari Nazareth bukan pemberi janji palsu, kuknya beneran enak dan bebannya pun ringan. Akan tetapi, orang tak mengalaminya begitu justru karena mempertahankan kuknya sendiri: paradigmanya sendiri, pikirannya sendiri, kelekatannya sendiri, dan seterusnya. Andai saja memang kuk guru dari Nazareth itu yang dipakai, enak dan ringanlah hidup dan kerja orang. Kuk macam apa sih tuh?
Andaikanlah Anda jatuh cinta, kasmaran, infatuation, atau apalah istilahnya. Sebetulnya Anda mengalokasikan waktu, tenaga, pikiran, duit Anda bagi objek yang Anda jatuhi cinta itu. Secara objektif sebetulnya itu merepotkan, mengganggu ritme biasa, bahkan bisa mengganggu tugas pokok Anda. Akan tetapi, apakah Anda merasakannya sebagai sesuatu yang berat? Ya tidak dong.

Apakah kuk itu rasa jatuh cinta, kasmaran, atau infatuation itu? Bukan. Kuk itu adalah Cintanya. Cintalah yang membuat jatuh cinta jadi enak dan enteng. Cintalah yang menjadikan kasmaran begitu indah dan infatuation itu jadi mengasikkan. Akan tetapi, apa mau dikata. Relatif tak banyak orang yang bisa bangun cinta dan bisanya cuma jatuh cinta. Tak banyak orang yang bisa mentransformasi infatuation jadi komitmen. Kenapa? Justru karena mau mempertahankan keenakan dan keasikan seturut perasaan, pikiran, kemauannya sendiri. Lihatlah bagaimana orang yang jatuh cinta, kasmaran, atau infatuation itu jadi terbebani: gampang cemburu, uring-uringan kalau objeknya tak mau dicium atau dipegang (atau sebaliknya), ngambek (atau ngêmbèk?) kalau pasangan tak menuruti keinginannya, dan seterusnya.

Cinta dalam bentuk superfisialnya (janji manis, tutur kata halus, perilaku sopan, wajah cool, dan lain-lainnya) memang bisa membuat orang tertipu. Cinta yang sesungguhnya pada akhirnya meringankan orang, mengangkat beban orang bahkan meskipun secara objektif beban itu tak berubah. Kerja tanpa cinta, seringan apapun, bakal jadi beban. Kualitas pelayanan bisa jadi kembali ke zaman jahiliyyah karena orang berfokus pada kepentingannya sendiri. Itulah yang disampaikan guru dari Nazareth itu: kenakanlah cinta yang kupasang, kerja seberat apapun tak akan membuat burn out, kelelahan jenis manapun takkan membuat orang desolasi.

Nota bene: cinta begini punya kemampuan untuk mengajak orang punya perspektif keadilan sosial, sehingga meskipun tak punya problem dengan beban berat, orang masih bisa berpikir jernih apakah memang beban berat itu secara objektif perlu dipertahankan atau diubah. Ia mendesakkan perubahan bukan karena dorongan emosional belaka seperti orang yang kasmaran tadi, melainkan karena dorongan nalar yang melawan ketidakadilan sosial.

Tuhan, ajarilah kami bahasa cinta-Mu supaya hidup kami sungguh ringan dan memberikan buah kehidupan. Amin.


KAMIS BIASA XV B/2
19 Juli 2018

Yes 26,7-9.12.16-19
Mat 11,28-30

Kamis Biasa XV A/1 2017: Ego Eimi
Kamis Biasa XV C/2 2016: Yesus Tukang Pijat
Kamis Biasa XV B/1 2015: Allah Beneran Gak Eksklusif

Kamis Biasa XV A/2 2014: The Art of the Midwife

3 replies

    • Wahahaha… tengkyu mas Agung, yang dapat pengetahuan malah saya. Di ensiklopedia saya gak ada kata mahabbah, nanti saya carinya, tapi sepertinya bukan padanan kata ‘kuk’ toh ya (karena kuk cuma berarti pasangan untuk sapi2 itu). Salam buat Abdul ya semoga cepat siuman.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s