Ego Eimi

Bacaan kedua hari ini adalah cuplikan kecil yang terjemahan Latinnya ada pada posting Beban Pembawa Nikmat. Sudah saya sayembarakan berhadiah lebih dari sekadar sepeda tetapi tak ada yang menjawabnya sehingga hadiah akan hangus pada waktunya. Dengan kombinasi bacaan pertama hari ini kiranya ada pesan atau insight berbeda (lha wong tanpa dikombinasi dengan bacaan pertama saja sudah bisa memberi insight yang berbeda) dari Beban Pembawa Nikmat tadi. 

Bacaan pertama hari inilah yang sesungguhnya jadi pokok perhatian para ahli karena di sini dinyatakan identitas Allah: ego eimi (Yunani) atau Eyeh Asher Eyeh (Ibrani). Saya tidak paham kedua bahasa itu tetapi ulasan mengenai kalimat itu ada banyak sekali. Kalau mau melihat salah satu ulasannya, silakan klik link ini. Kalau tidak berminat, ya gak usah klik atau tap. Lompat saja ke point to pondernya, tetapi ini agak kefilosofis-filosofisan. Gak papa ya, mosok gak mama…

Bahasa Indonesia kurang akrab dengan to be. Orang cukup mengatakan ‘Saya laki-laki Sejati’ alih-alih mengatakan ‘Saya adalah laki-laki ndeso‘ [padahal Sejati itu nama desa ya]. Kata kopulatif ‘adalah’ dihilangkan. Tentu gak masalah karena orang Indonesia sudah tau sama tau dan justru karena gak masalah itu orang jadi cenderung take it for granted dan gak dapat inspirasi apa-apa. Mari lihat misalnya kalimat ‘Itu meja’. Kalimat itu tak mungkin muncul kalau tidak ada meja, bagaimanapun mau didefinisikan atau diperdebatkan, bagaimanapun adanya. Pokoknya ada.

Nah, Allah ini, sewaktu ditanya Musa soal legitimasi ‘wangsit’ yang diterimanya (kalau ditanya orang banyak siapa yang mengirimnya, dapat wewenang dari siapa) menjawab dengan rumusan ‘pokoknya ada’ itu tadi, yaitu Aku sudah selalu ada dan akan selalu ada. Setdah…ini identitas macam apa? Tak terkatakan (dalam bahasa Indonesia dilesapkan tadi) sampai-sampai orang Yahudi tak berani menamainya selain dengan menggunakan tetragrammaton YHWH (piye macane jal?). Akan tetapi, justru di situlah poinnya: Dialah yang memungkinkan semuanya ada.

Kembali ke meja tadi, kalimat itu oke karena memang ‘meja’nya ada. Susah, kalau tidak mau mengatakan mustahil, menyebutkan sesuatu yang gak ada! Tak perlu bersilat lidah mengenai filsafat lubang, tentu saja, wong artinya ya adanya ketiadaan: pokoknya ada. Allah yang memperkenalkan diri kepada Musa itu adalah yang mengadakan apa saja. Ini tak perlu disangkutpautkan dengan penciptaan karena nanti bisa rancu dengan penilaian bahwa Allah mengadakan perang, kejahatan, dan seterusnya. Orang bisa menikam sesamanya karena pisaunya ada. Orang bisa menembak orang lain karena ada pistolnya. Pisau ada karena materialnya ya ada. Peluru bisa dibikin karena ada elemen penyusunnya. Begitu seterusnya.

Ego eimi itulah yang memungkinkan adanya dunia ini, apapun teori penciptaan yang diyakini dan bagaimanapun dunia ini berjalan. Maka, bacaan kedua bisa juga dipahami dalam konteks filosofis seperti itu: Yesus tidak membuat proposal untuk mengubah situasi cara adanya dunia ini yang bisa jadi beban dan bahan keluhan orang. Ia menunjukkan ‘kuk’ yang lain: kehadiran ego eimi tadi, yang menyertai, yang memungkinkan adanya sesuatu, bak energi yang tak bisa diciptakan maupun dimusnahkan. 

Dunia ada bukan sebagai kenyataan semu tetapi cara adanya sangat bergantung dari bagaimana treatment pihak-pihak yang ada di dunia itu. Maka, cara adanya itulah yang contingent, yang tampak semu. Dalam hirarki manajemen, orang yang di bawah tentu menanggung kerepotan lebih daripada mereka yang ada di posisi atasnya. Itu ya memang begitu alamnya, tak usah dikeluhkan dan jadi beban. Tak ada ceritanya bahwa kuli angkut memerintah mandornya untuk mengangkut karung dari truk. Betul bahwa ada presiden yang langsung turun ke proyek, tetapi tetaplah ia takkan mengerjakan pekerjaan tukang aduk semen selama-lamanya. 

Yesus tidak mengubah kenyataan eksternal. Kenyataan eksternal itu, agama misalnya, buah dinamika sejarah. Yang ditawarkan Yesus adalah koneksi dengan kenyataan ‘internal’, ego eimi tadi. Koneksi dengan ego eimi itulah yang membebaskan orang dari ikatan-ikatan aneka label yang terus menerus bisa berubah atau berbeda. Dalam terang itu, orang bisa menerima bahwa hati yang gembira adalah obat mujarab dan hati gembira itu persis adalah perjumpaan dengan ego eimi

Ya Tuhan, mohon rahmat supaya kami senantiasa menambatkan diri pada-Mu lebih daripada yang lainnya. Amin.


HARI KAMIS BIASA XV A/1
20 Juli 2017

Kel 3,13-20
Mat 11,28-30

Kamis Biasa XV C/2 2016: Yesus Tukang Pijat
Kamis Biasa XV B/1 2015: Allah Beneran Gak Eksklusif
Kamis Biasa XV A/2 2014: The Art of the Midwife

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s