Mari Ziarah

Di kampus saya itu dosen-mahasiswa bisa kontak juga via whatsapp dan pada akhir semester biasanya muncul banyak nomer tak dikenal di hape saya. Yang tak memberi identitas langsung saya delete atau add to block list. Kebanyakan dari mereka adalah yang tidak puas karena dapat D, C, atau bahkan B; minta kebijakan dosen. Maunya dapat A dong! Mungkin berlaku prinsip ekonomis: sesedikit mungkin belajar dan mengerjakan tugas tetapi setinggi mungkin nilainya. Kalau dimodifikasi barangkali juga bisa dimengerti bagaimana mahasiswa mencari peruntungan dengan copy paste untuk menulis makalah. Irit waktu dan siapa tahu dosennya lalai, jadi dengan usaha sekecil mungkin mereka bisa mendapat hasil sebaik mungkin. Asek… atau asem? Who knows?

Tentu beberapa dialog via whatsapp itu ada yang jadi hiburan untuk saya, tetapi tak perlu diceritakan di sini. Saya pernah dimintai kebijaksanaan mengenai penilaian saya [seolah-olah pikirnya dalam menilai itu saya tak memakai kebijaksanaan (#halah baper). Padahal kebijaksanaan saya itu ya jelas, kalau mahasiswa datang dan mengerjakan semua tugas dan ujiannya, nilai terburuk hanyalah D. Saya tak pernah memberi nilai E kepada mereka yang datang kuliah dan mengerjakan tugas dan ujian karena kalau kerjaan mereka jelek, itu artinya juga saya sendiri jelek dalam mengajar. Barangkali saya kurang memberi opsi yang lebih banyak untuk ujian (bisa jadi ada mahasiswa yang lebih visual daripada verbal), barangkali penyampaian materi saya kurang menarik, tidak relevan, dan seterusnya.

Di antara mahasiswa yang mendapat D itu terdapatlah jenis orang yang oportunis tadi. Mereka mengerjakan tugas sedemikian rupa sehingga kalau beruntung dengan hanya sedikit usaha bisa mendapat nilai A atas jasa internet atau kolaborasi dengan teman bahkan lawan (mengganti nama dan nomer mahasiswa misalnya). Ini tak terjadi di kelas saya, tetapi yang seperti itu sangat mungkin terjadi.

Di atas hukum memang masih ada nilai compassion, tetapi compassion berarti juga keberpihakan proses kepada hasil dan hasil tidak mengkhianati proses, bahkan jika hasil itu adalah D. Seperti contoh pada posting Kompetensi Duit beberapa hari lalu: hasil mengikuti kompetensi. Tentu ada hasil baik yang tidak berdasar kompetensi, tetapi itu tak lebih dari label. Mereka yang mementingkan label itu jadi seperti orang Farisi dalam bacaan kedua hari ini yang tak bisa mengerti konteks keberimanan sebagai sebuah peziarahan, perjalanan hidup. Betul bahwa hidup ini pilihan dan setiap orang bebas menentukan perjalanan hidupnya, tetapi ada mutiara yang terlewatkan jika orang terpukau pada label. 

Dalam bacaan pertama gambarannya dahsyat: Tuhan lewat, dan orang yang lalai kiamat. The show must go on. Entah hidupmu amburadul bermutu kibul atau jujur ancur, takkan ada ziarah ulangan dalam hidup ini. Lagi, koneksi dengan Ego eimi jauh lebih membahagiakan daripada misalnya koneksi dengan koruptor pengemplang duit negara. Andaikan saja mereka ini mengemplang demi mendapat sesuap nasi saja, mungkin lain ceritanya. Sayangnya, yang mereka kemplang itu begitu banyak label. Sudah dikasih tahu ya tetep ngeyel, sumonggo.

Tuhan, jadikanlah kami semakin murah hati untuk mengalami cinta-Mu dalam hidup sederhana kami. Amin.


HARI JUMAT BIASA XV A/1
21 Juli 2017

Kel 11,10-12,14
Mat 12,1-8

Jumat Biasa XV C/2 2016: Koin untuk Apa?
Jumat Biasa XV B/1 2015: Idul Fitri untuk Semua
Jumat Biasa XV A/2 2014: Andaikan Besok Aku Mati

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s