Koin untuk Apa

Melihat Tom & Jerry beradu trik itu senantiasa mengundang tawa. Begitu juga melihat Yesus dan orang Farisi yang tak kunjung akur, ada-ada saja akal si Farisi dan Yesus. Baru setelah politik kekuasaan meresapi ketidakakuran itu, suasananya jadi horor. Jelas, yang waras ngalah dan yang kuat korupnya pêtèntang-pêtèntèng. Tapi sekarang belum (atau sudah lewat) saatnya kita lihat yang horor itu. Kita lihat lucunya saja, sembari melihat kelucuan alias kekonyolan diri.

Apa lucunya? Pada suatu hari Sabat, murid-murid Yesus kelaparan, njuk memetik gandum untuk dimakan. Nah, memetik gandum itu didefinisikan sebagai kerja dan lalu orang Farisi mak cling menyitir Kitab Suci: gimana tuh murid-muridmu? Apa tidak kau ajari untuk menaati hari Sabat?
Orang Farisi mengkritik Yesus dan mak clong Yesus juga menyitir Kitab Suci: apa kamu gak baca dulu Daud mengambil roti sajian yang dikhususkan bagi imam di Bait Allah? Itu kan juga melanggar hukum Taurat? Apa kamu gak liat juga bagaimana imam-imam di Bait Allah itu bekerja lebih dari yang lainnya pada hari Sabat untuk menyembelih, bersih-bersih, menimbang, dan lain-lain? Bandingkan Kitab Bilangan 28,9-10 [loh kok kayak nulis artikel]. Argumentasi dari Kitab Suci, ditanggapi juga dengan argumentasi dari Kitab Suci, malah lebih banyak. Lucunya, si Farisi ini berani mengkritik Yesus dan murid-muridnya, tetapi tak berkutik terhadap sosok Daud, seolah Daud ini benar segala-galanya.

Menarik juga bahwa dengan keributan itu menjadi jelas bahwa bahkan Kitab Suci pun tak luput dari crash, dari inkonsistensi; entah Taurat ataupun Kitab Suci Kristen; wong sama-sama ditulis dalam konteks historis, ya pasti ada luputnya. Ini gak berarti Kitab Suci itu salah, tetapi berarti bahwa Kitab Suci tak bisa diperlakukan sebagai ilah di samping Allah. Ia perlu dibaca dalam terang relasi orang dengan Allah sendiri. Relasi itulah yang memberi makna bagi Kitab Suci.

Yesus menyitir Kitab Suci lagi untuk memberi contoh buah relasi yang berguna untuk memaknai Kitab Suci itu: yang Kukehendaki ialah belas kasihan, bukan persembahan. Apa artinya? Tuhan tidak menghendaki persembahan, gitu? Ia tidak menginginkan ritual? Hmm… kalau dicari dalam Kitab Suci, pasti ada keterangan bahwa Tuhan menginginkan persembahan, tetapi Yesus mau menyampaikan paradigma yang lebih klop, lebih jujur dengan kemanusiaan: ritual itu untuk kepentingan kelompokmu, untuk Tuhan, kamu cuma bisa memberikan hatimu. Jadi, kamu mau bikin ritual sekhidmat dan sebenar apapun, kalau hatimu digragoti mental korup dan penindas bagi mereka yang menderita, tak usah berkoar-koar sebagai orang beriman, apapun atributnya.

Njuk apa kudu ngasih koin ke pengemis di jalan? None of my business, terserah, silakan pertimbangkan keadaan perjumpaan dengannya. Pokoknya, Tuhan lebih menginginkan hati yang berbelas kasih daripada amal ibadah yang membungkus mental arogan.

Tuhan, semoga kami tulus dalam belas kasih. Amin.


JUMAT BIASA XV
15 Juli 2015
Peringatan Wajib St. Bonaventura

Yes 38,1-6.21-22.7-8
Mat 12,1-8

Posting Jumat Biasa XV B/1 Tahun 2015: Idul Fitri untuk Semua
Posting Jumat Biasa XV Tahun 2014: Andaikan Besok Aku Mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s