Yesus Tukang Pijat

Di beberapa rest area tampaknya ada penjual jasa pijat untuk mereka yang kelelahan mengemudi atau duduk di mobil selama perjalanan jauh. Ya sebetulnya apapun alasannya sih, kalau orang mau pijat ya pijat saja; pokoknya mbayar si penjual jasa. Ia tinggal rebahan dan penjual jasa itu memijatnya selama satu atau setengah jam.

Barangkali itu pula yang dipraktikkan orang untuk memahami kutipan teks hari ini: Marilah kepadaku, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Itu kata-kata yang dilekatkan pada mulut Yesus oleh penginjil Matius. Apa bedanya ‘orang sableng’ ini dengan penjual jasa pijat di rest area tadi? Ya pasti banyaklah bedanya. Cuma sayangnya tak sedikit orang yang maunya memperlakukan Yesus seperti penjual jasa pijat itu: datang ke gereja, menyalakan lilin di depan patung Yesus, mendaraskan novena, berkomat-kamit ria dengan rumusan doa Bapa Kami sekian kali, dan sudah begitu saja. Pokoknya percaya nanti persoalan terima beres, wong sudah bayar dengan lilin dan rumusan doa kok! Begitulah sebagian orang berpikir mengenai ‘pijat rohani’.

Sebenarnya sih ada konkruensi antara pijat fisik maupun pijat rohani. Bayangkan, adakah orang yang datang kepada tukang pijat sambil marah-marah dan selama dipijat pun masih marah-marah dengan otot kaku? Tukang pijat kiranya akan memintanya untuk rileks. Ini peran si korban pijat, selain membayar jasa tukang pijat, untuk mengobati kelelahannya: ia sendiri berpartisipasi memberi kondisi supaya otot-ototnya rileks dan pijatan itu berdampak.

Begitu pula halnya dengan pijat rohani. Ungkapan ‘aku akan memberi kelegaan kepadamu’ mesti dilihat dalam hubungannya dengan kalimat selanjutnya: belajarlah padaku, karena aku lemah lembut dan rendah hati. Dengan begitu, kelegaan yang diberikan Tuhan tidak pernah berarti mak cling terjadi dengan modal lilin, patung di gereja, dan lembaran kertas doa novena. Loh, jadi Romo ini gak percaya bahwa mukjizat itu nyata ya?

Hahahaha…. kok njuk dibawa-bawa ke sana ya? Saya tentu percaya, apalagi kalau mukjizatnya terverifikasi penelitian medis. Akan tetapi, perhatian saya tidak tertuju pada hasil mak cling tadi; itu mah sukak-sukak Tuhan aja mau gimana. Saya lebih tertarik pada bagaimana proses pijat rohani itu terjadi seturut undangan ‘belajarlah padaku’ tadi.

Mari perhatikan misalnya orang yang datang ke gereja dengan modal kertas doa novena. Ia punya kesusahan dalam hidupnya dan ia mohon kelegaan dengan doa novena yang menurut pengetahuannya harus didoakan pada jam yang sama setiap harinya. Di hari ke-8 pada jam yang semestinya ia mendoakan novena itu, ia terperangkap kemacetan di luar jam-jam macet biasanya dan ndelalahnya kertas doanya tak ada di tasnya. Semakin susah deh hatinya, bukannya kelegaan yang diperolehnya. Kenapa?

Persis karena doa novenanya tidak didasari sikap lemah lembut dan rendah hati! Ia berdoa dengan modal formalisme: kertas doa, jam yang harus sama (apapun kondisinya), bahkan tempatnya juga harus sama. Sebaliknya, kalau orang berdoa dengan sikap yang benar, lemah lembut dan rendah hati, doanya sendiri sudah membawa kelegaan, entah keinginannya terkabul atau tidak.

Tuhan, semoga sujud doa kami terlambari kelemahlembutan dan kerendahan hati. Amin.


KAMIS BIASA XV
14 Juli 2016

Yes 26,7-9.12.16-19
Mat 11,28-30

Posting Kamis Biasa XV B/1 2015: Allah Beneran Gak Eksklusif
Posting Kamis Biasa XV A/2 2014: The Art of the Midwife

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s