Aku Cinta (Papua)

Hari-hari ini, ketegangan di asrama mahasiswa Papua di Jogja mewarnai pesan di grup whatsapp dan dinding buku wajah saya. Tidak semencekam demo 1998, tetapi mengusik hati saya. Demo ’98 begitu mencekam bagi saya karena saya ada di sana dan dalam taraf tertentu saya terlibat di dalamnya, dan itu bukan hanya mengusik hati, melainkan juga mengusik fisik. Demo anak-anak Papua ini tidak mencekam saya tetapi benar-benar mengusik hati saya karena saya tak bisa (tepatnya sih tidak mau) ada di sana berhubung dengan tugas lain, tetapi juga mungkin karena jiwa protes saya sudah tak lagi memilih jalur lapangan.

Saya punya banyak kisah mengenai (orang) Papua, baik dari pengalaman sendiri maupun dari cerita orang lain, dari kisah konyol yang lucu, menjengkelkan sampai kisah menyedihkan, memprihatinkan. Kisah-kisah itu memengaruhi saya juga dalam memandang demo anak-anak Papua yang ditengarai sebagai kelompok separatis. Yang memprihatinkan saya bukan aspirasi anak-anak Papua itu sendiri, melainkan justru reaksi-reaksi terhadap aspirasi mereka yang sebetulnya menunjukkan kesempitan perspektif orang-orangnya. Memprihatinkan bahwa orang berpendidikan bisa melontarkan ungkapan-ungkapan rasis, yang justru menggugat kualitas pendidikan yang selama ini diperolehnya.

Sikap penulis blog ini jelas: NKRI harga mati sejauh kesatuannya klop dengan Pancasila. Kalau NKRI itu artinya semua mesti beragama A, ya bubar aja. Kalau NKRI itu artinya seluruh kekayaan alam disedot untuk pembangunan pulau Jawa, lha mending Kalimantan nan kaya itu bikin negara sendiri aja toh? Begitu pula halnya, kalau NKRI berarti rasisme terhadap warga penduduk asli, apa artinya kesatuan selain arogansi kekuasaan? Jadi, kalau ada suara minta referendum, sebetulnya itu bisa jadi feedback bahwa NKRI kurang memberi kontribusi positif terhadap wilayah yang menginginkan referendum. Tindakan orang waras jelas: bukan menggilas feedback, melainkan mengupayakan kontribusi positif terhadap wilayah terkait. Tapi apa daya, bisa jadi orang parno atau lebay: siapa saja yang mangap mengatakan referendum harus disikat.

Saya teringat kisah seorang anak Papua yang dihajar oleh teman-temannya sendiri, yang juga anak Papua, karena mabuk. Artinya, tak bisa dipukul rata bahwa semua anak Papua suka mabuk. Begitu pula, tak bisa dianggap bahwa seratus anak Papua yang minta referendum adalah representasi seluruh penduduk Papua. Papua mah luas, Bang; bukan cuma satu suku pula. Maka, cukuplah aspirasi mereka dipagari (bukan dipaksa bungkam) supaya tidak destruktif tanpa mencederai prinsip keadilan seolah-olah situasinya seperti perang bersenjata. Pelanggaran prinsip seperti ini bisa jadi mengindikasikan ketakutan pihak yang bereaksi.

Teks hari ini menunjukkan sikap penolakan orang-orang Farisi dan persekongkolan untuk membunuh Yesus. Entah, mungkin mereka takut kehilangan pengaruh, atau mungkin takut terbongkar kedok korup modal kemunafikan hidup religius. Yang jelas, si sableng dari Nazaret itu jalan terus tanpa bikin demo, berkoar-koar hendak melawan pemerintah korup atau orang-orang Farisi nan munafik. Di bawah ancaman mati pun ia bergerak dalam cinta; ia tidak memaki, tidak rasis, menyembuhkan orang sakit, dan sebagainya. Tindakan ini mengatasi cinta bersyarat, cinta yang cuma mengeruk keuntungan, mengeksploitasi alam dan melenyapkan manusia. Semoga cinta tak bersyarat ini juga berlaku untuk Papua juga. Amin.


SABTU BIASA XV
16 Juli 2016

Mi 2,1-5
Mat 12,14-21

Posting Sabtu Biasa XV B/1 Tahun 2015: Agama Selingkuh
Posting Sabtu Biasa XV Tahun 2015: Working Evil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s