Laris tapi Tak Bermakna

Seorang yang dinyatakan suci dalam Gereja Katolik tentu bukan malaikat dengan kualitas pengetahuan super dan hidupnya bebas dari kesalahan. Konon ada seorang santo yang salah menafsirkan bacaan Injil yang dibacakan hari ini. Kisah Injilnya sederhana. Yesus dalam perjalanan ke Yerusalem mampir ke kampungnya Marta, yang punya saudara Maria yang juga ada di situ. Marta sibuk menyiapkan ini itu sementara Maria duduk di dekat kaki Yesus. Marta protes dan meminta Yesus menyuruh Maria untuk membantunya bekerja, tetapi Yesus malah menjawab,”Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Lha, oleh seorang santo itu teks ini dipakai untuk membuat tiga level kesucian. Yang pertama adalah orang-orang awam yang sibuk dengan urusan duniawi yang direpresentasikan oleh Marta. Yang kedua adalah kelompok imam, pastor, biarawati yang aktif membantu awam dalam menghidupi kesucian Kristen. Yang ketiga, yang tertinggi, direpresentasikan oleh Maria, adalah mereka yang hidup kontemplatif; yaitu biarawan/wati yang benar-benar tinggal di biara terpencil dan hidupnya dipenuhi doa kontemplatif. Ini yang membuat banyak orang berpikir,”Saya kan cuma awam, banyak dosanya, terlalu duniawi.”

Kabar baiknya ialah bahwa paham itu sesat! Tidak benar bahwa ada tiga kategori kesucian dengan landasan bacaan Injil hari ini. Maria bukan representasi hidup kontemplatif! Dia tidak sedang mengkontemplasikan kata-kata Yesus. Ia MENDENGARKAN Sabda Tuhan. Lagipula, ‘duduk di dekat kaki Yesus’ juga merupakan bahasa teknis Kitab Suci seperti diungkapkan tentang Paulus: παρὰ τοὺς πόδας Γαμαλιήλ (para tous podas Gamaliel, Kis 22,3) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ‘di bawah pimpinan Gamaliel’, padahal arti literalnya adalah di bawah/samping kaki Gamaliel. Jelas, maksudnya ialah bahwa Paulus berguru alias nyantrik bin jadi murid Gamaliel.

Pada masa itu, adalah sebuah skandal bahwa perempuan berguru. Yang bisa jadi murid hanyalah laki-laki. Perempuan itu posisinya di dapur, sebagaimana dalam bacaan pertama dikisahkan Abrahamlah yang menyambut tamu dan Sarah di bagian dapur. Ini juga skandal lain dalam adegan Maria-Marta: Yesus disambut oleh perempuan. Semestinya laki-lakilah yang menyambut tamu, dan ternyata Yesus membiarkan dirinya disambut perempuan.

Pesannya lalu jadi jelas: di mana Yesus disambut (untuk tradisi lain yang tak mengakui keilahian Yesus, dibaca: di mana Tuhan disambut), di mana Tuhan masuk, semua diskriminasi diatasi; kultur yang tak cocok dengan identitas kemanusiaan dihapuskan. Entah laki-laki atau perempuan, entah orang miskin atau kaya, entah baik atau jahat, semuanya boleh mengundang Yesus. Di sini ada gambaran Allah yang mengandaikan hospitalitas manusia. Seperti Abraham menyambut tiga tamu asing dengan mengupayakan sajian terbaik, hospitalitas memang mengundang orang untuk melakukan yang terbaik.

Bacaan Injil menyodorkan kriteria ‘yang terbaik’ itu, yaitu yang dilakukan Maria: mendengarkan Sabda Allah. Marta terdistraksi oleh aneka macam keperluan hidup. Ia bikin tetek bengek, banyak kerjaan, banyak kesibukan. Salahkah? Tidak, tetapi aktivitasnya mengindikasikan pola reaksioner, tak tenang dengan apa yang ada (padahal mungkin Yesus sendiri sudah sangat senang diterima di rumahnya); ia melakukan banyak hal tetapi tak mengerti arah, tak mengerti mau ke mana hidupnya. Dengan kata lain, tindakannya, sopan santunnya, kesibukannya, bukan buah hospitalitas mendengarkan Sabda Allah. Pun, orang bisa saja ke gereja, ikut Ekaristi, tetapi cuma main Pokemon GO, atau upyek dengan dandanannya. Di situ, tak ada makna bahkan meskipun dandanannya keren abis.

Kita semua seniman Allah yang baru bisa nyeni dengan gembira jika menemukan makna atas apa yang kita produksi sebagai buah mendengarkan Sabda Allah, buah solidaritas dengan Allah dan sesama. Jika tidak begitu, bisnis, karya kita sukses, laris, tapi seninya sendiri modar. Gada nilai, gada makna, tak memberi kebahagiaan kekal.

Klik link Youtube di sini untuk kualitas video Hip Hop Jogja Foundation yang lebih baik.


MINGGU BIASA XVI C/2
17 Juli 2016

Kej 18,1-10
Kol 1,24-28

Luk 10,38-42

Posting Minggu Biasa XVI B/1 Tahun 2015: Misa Kok Tegang
Posting Minggu Biasa XVI A/2 Tahun 2014: Just Do Your Job!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s