Kemplang Aja Bleh…

Pernahkah Anda mengamat-amati bahwa penganut monoteisme itu diam-diam membangun ideologi politeisme? Tak usah susah-susah mikirnya. Jika agama A beda dari agama B dan agama C, dan masing-masing keukeuh bahwa Tuhan agama A dan B dan C itu berbeda (dan masing-masing agama mengklaim monoteisme), ya jadinya politeisme, bukan? Iya gak sih? (Wakakak… romonya galau)

Memang tidak mudah menghidupi agama dengan mental monoteisme. Orang beragama cenderung eksklusif. Akan tetapi, tentu bukan hanya karena ada tendensi itu lantas agama mesti dihapuskan seperti menghapus lembaga DPR #eh… Justru tantangan agama zaman ini ialah meminimalkan radikalisme sehingga kecenderungan eksklusif itu tak termanifestasikan. Apa ya belum kapok dengan Perang Salib? Masih mau memancing terjadinya konflik seperti terjadi di Marawi?
Lah, itu kan bukan konflik agama, Mo! Lha ya betul, itu problem politik dan ekonomi, tetapi justru jadi begitu karena agama tak berhasil memangkas kecenderungan eksklusifnya. Agama tak punya taji lagi selain malah mengawetkan ideologi politeisme.

Wah, kejam nian. Lha gimana emang gitu kenyataannya.
Kalau menilik bacaan pertama hari ini, jantung hati yang dicari-cari itu malah dijumpainya setelah si pencari meninggalkan situs-situs atau orang-orang yang diharapkan bisa menunjukkannya. Di situ susahnya. Gimana kita meninggalkan agama meskipun tetap beragama? Kelihatannya susah, tetapi sebetulnya ya gampang. Tepatnya, gampang-gampang susah deh (atau wis sakkarepmu Mo).

Balik saja lagi ke ulasan-ulasan kemarin mengenai label. Tak usahlah ribut dengan atribut. Poinnya ialah bagaimana dengan atribut itu orang sampai pada jantung hati, yang bisa ditemui juga dengan atribut lain. Yang penting perjumpaan dengan jantung hatinya itu, bukan atributnya. Perjumpaan seperti ini tak mungkin terjadi dengan mentalitas politeisme yang menyembah Tuhan sebagai Pencipta, Penyelamat, Bapa, dan sebagainya. Loh loh loh, Romo ini sesat! Bukankah agama Katolik memakai atribut-atribut itu? Bukankah Yesus mengajarkan orang supaya memanggil Allah sebagai Bapa? Haiya justru itulah tadi: meninggalkan agama meskipun tetap beragama.

Bayangkanlah orang beragama mendupai sesuatu, sujud bersimpuh menyembah-nyembah apapun itu, mendedikasikan kapel atau lapangan atau bangunan megah untuk mengormati Allah yang mahabesar! Di mana Allah yang disembah itu? Dan pertanyaan itu takkan bisa dijawab oleh donatur besar yang membangun tempat ibadah atau kuburan mewah dari hasil kemplangan berasnya sekian trilyun rupiah selain dengan keyakinannya bahwa Allah itu ada di galaksi nun jauh di sana. Kita sembah dari sini.

Penyembah Allah yang sesungguhnya ialah yang tak berlagak mengedepankan atribut atau label agama penyembah Tuhan, tetapi mengorek pengemplang beras dan bagaimana proses pengemplangan itu bisa terjadi. Kenapa? Karena penyembah Allah justru adalah mereka yang mencari jantung hati tadi, yang mengalami perjumpaan justru dalam hati, yang terbebaskan dari ketakutan untuk kehilangan label atau atribut. Kerap kali tertusuk juga hati saya ketika melihat saudara Muslim justru dilabeli kafir oleh sesama Muslim sendiri justru karena mereka berupaya mengundang orang untuk masuk ke dalam jantung hati, jantung persoalan hidup kemanusiaan yang dikemplang oleh mereka yang rakus dan penyembah Allah nan palsu.

Lha kok Romo tahu Allah yang disembah itu palsu? Allah sejati takkan ngemplang beras #eh… kemanusiaan!


PERINGATAN WAJIB ST. MARIA MAGDALENA
(Sabtu Biasa XV A/1)
22 Juli 2017

Kid 3,1-4
Yoh 20,1.11-18

Posting Tahun 2016: Kenapa Nangis?
Posting Tahun 2015: Tak Usah Takabur
Posting Tahun 2014: You Need Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s