Kurang Satu Strip…

Tetapi Engkau, Penguasa yang kuat, mengadili dengan belas kasihan, dan dengan sangat hati-hati memperlakukan kami. Sebab kalau mau Engkau dapat juga.
Keb 12,18

Ini cerita tetangga dari Calabria. Saya tak ingat persis detailnya, tapi intinya saya mengerti. Ini cerita tentang suatu negeri yang hukumnya tertata baik dan dihormati seluruh rakyat dan pemerintahnya. Tak akan ada toleransi keringanan hukum berdasarkan status atau jabatan yang dimiliki seseorang dalam pemerintahan. Anak presiden ya tetap akan diproses hukum jika kedapatan menghina wong ndeso dan pengemplang duit rakyat akan diadili bahkan meskipun menyeret wakil-wakil rakyat bereputasi tinggi.

Suatu kali, sang anak presiden yang perempuan ini mendapati teman lamanya terbelit kasus narkoba dan sudah diputuskan hukuman mati. Uang tebusan yang dipakai untuk meloloskan hukuman matinya tak terbayarkan, yaitu uang sejumlah seribu keping emas, yang setara dengan satu juta keping perak atau satu milyar uang perunggu. Wis mboh gimana hitungannya pokoknya si putri presiden ini berhasil mengumpulkan uang 800 keping emas. Itu juga mungkin uang keluarganya. Habis-habisan dia hendak membela teman lamanya itu. Tetapi apa mau dikata, 800 keping emas tetaplah kurang dari seribu keping emas. 

Waktu hukuman mati hampir dilaksanakan dan si putri berjuang ke sana ke mari mengemis dan berhasil mengumpulkan 100 keping emas plus 99.000 keping perak. Disampaikannya pada hakim bahwa tinggal 1000 uang perak, tetapi hakim bergeming. Hukuman mati tetap dijalankan. Sang putri berkeliling lagi mengemis dan akhirnya mendapatkan 999 uang perak. Hakim menggelengkan kepalanya. Lagi, diperoleh 999 uang perunggu tetapi hukuman mati tetap diproses. Kurang satu uang perunggu!

Sang putri berlari menuju ke tempat pelaksanaan hukuman mati dan mendapati hakimnya sembari berteriak,”Pak Hakim, ini tragis. Hanya kurang satu uang perunggu! Tidakkah engkau punya uang satu perunggu?” Hakim menggeleng dan bersiap memberi komando kepada panitia pelaksana hukuman mati. Sang putri berteriak lagi,”Coba tolong periksa teman saya itu, siapa tahu dia masih punya sekeping uang perunggu!” Diperiksalah si terdakwa… dan ditemukan sekeping uang perunggu. Ia terbebaskan dari hukuman mati.

Kemunculan belas kasihan bahkan kepada orang yang jahat setengah mati bisa jadi tinggal menantikan kenyataan sesama sebagai makhluk Allah. Artinya, orang tak lagi bisa melulu memakai parameter logika manusiawi untuk menghabisinya hanya karena kurang ‘satu strip’. Belas kasihan semacam ini tak akan muncul dalam diri orang yang mempersekutukan dirinya dengan Allah sementara dia sendiri cuma memakai perhitungan-perhitungan, hukum-hukum manusiawi. Alhasil, orang macam inilah yang sebetulnya memberhalakan diri, menganggap diri sendiri punya penilaian akhir, tanpa cela, terhadap sesamanya, dan merasa berhak menghabisi nyawa orang lain.

Ya Allah, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami mampu melihat mutiara-Mu dalam diri sesama kami, juga dalam aneka keterbatasan mereka. Amin.


MINGGU BIASA XVI A
23 Juli 2017

Keb 12,13.16-19
Rm 8,26-27

Mat 13,24-43

Posting Tahun 2014: Just Do Your Job

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s