Percaya Itu Indah? Gombal!

Barangkali tak banyak orang yang percaya bahwa percaya itu indah persis karena pengalamannya yang berkebalikan: percaya itu melukai diri. Ciyeh… Coba gimana dahsyatnya 20 tahun perkawinan njuk tahu-tahu mak bedunduk jebulnya ketahuan ada orang ketiga di antara kita! Sakitnya tuh di sana sini!
Betul!!! Itu membuktikan bahwa orang-orang itu tak bisa dipercaya! Absolutely yes!

Njuk ngopo?

Toh meskipun punya pengalaman seperti itu, orang belum tentu mau mengoreksi paham kepercayaannya. Cuma berhenti pada pengertian basi bahwa laki-laki atau perempuan omongannya gak bisa dipegang. Itulah yang membuat orang tak percaya bahwa percaya itu indah! Apa? Karena dia tak mau mengoreksi caranya menaruh kepercayaan! Pokoknya, orang lain salah, tak bisa dipercaya. Padahal, they trust others as if they were God! Begitulah penyembah berhala: memperlakukan istri/suami sebagai Allah yang tanpa cacat cela. Akibatnya, begitu hari ‘yang dinanti-nantikan’ itu tiba, ancur ya ancurlah. Bagaimana dikatakan ‘percaya itu indah’ kalau ujungnya seperti itu?

Begitulah kiranya pola pikir orang yang tak percaya bahwa percaya itu indah, seperti ahli Taurat dan orang Farisi yang meminta tanda. Persoalannya tidak terletak pada tiadanya tanda, melainkan tiadanya disposisi batin untuk percaya. Barangkali juga orang sudah mengambil sikap percaya tetapi kepercayaannya ini menjerumuskan dirinya sendiri sehingga ujung-ujungnya kembali lagi: gombal amoh bahwa percaya itu indah!

Wong ya dari dulu sudah diberitahu supaya percaya kepada Tuhan, lha kok ya masih memperlakukan orang bahkan materi seolah-olah sebagai Tuhan. Ini rak yo jelas keliru, bukan? Silakan kalau punya waktu senggang, buat penelitian mengenai orang-orang yang married, bagaimana mereka memandang lembaga perkawinan itu, sebagai lembaga sosial atau lembaga religius. Silakan observasi apakah mereka yang married itu menganggap perkawinan sebagai kontrak sosial (yang bisa diputus sesuai dengan kondisi sosial) atau kontrak religius (yang bergantung pada bagaimana relasi dengan Allah disertakan di situ).

Saya curiga, bahkan mereka yang menerimanya sebagai kontrak religius pun (yaitu yang married dengan legitimasi agama) de facto menganggap perkawinan sebagai kontrak sosial belaka: ini jadi soal bisnis kepercayaan terhadap pasangan. Ini soal apakah suami atau istri bisa dipercaya. Akibatnya, jika dalam rentang waktu terjadi pengkhianatan, orang kehilangan kepercayaan bukan hanya kepada (mantan) pasangannya, melainkan juga kepada orang lain dan bahkan merembet sampai pada Allah. Nah, kalau sudah begini, memang ‘percaya itu indah’ adalah gombal amoh atau mukiyo.

Ungkapan ‘percaya itu indah’ muncul dari paradigma yang tidak melulu melihat relasi transaksional antarmanusia, tetapi menempatkan relasi itu dalam skenario besar cinta Allah. Allah yang hadir dalam sejarah hidup manusia adalah Allah yang mengakui kerapuhan tetapi tidak berkubang di dalamnya. Ini adalah Allah yang bahkan mati karena aneka macam perselingkuhan, balas dendam, perang, dan semacamnya yang jelas melukai kemanusiaan, tetapi kemudian bangkit dengan kultur yang baru, yang lebih besar, lebih universal: Cinta yang melampaui aneka kelekatan yang tak terarah pada-Nya. So, ungkapan ‘percaya itu indah’ jadi gombal jika objeknya adalah ideologi, orang, materi. Hidup jadi complicated, tak sesederhana dibandingkan orang yang menaruh kepercayaannya kepada Allah.

Tuhan, ajarilah kami untuk percaya.


HARI SENIN BIASA XVI A/1
24 Juli 2017

Kel 14,5-18
Mat 12,38-42

Senin Biasa XVI C/2 2016: Takhayul Bego’
Senin Biasa XVI B/1 2015: All about Relationship
Senin Biasa XVI A/2 2014: Permintaan Kurang Ajar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s