Agen Ritual

Saya pernah bekerja setahun sebagai pastor di sebuah gereja Katolik di kota gudeg dan itu sudah cukup bagi saya untuk mengerti bahayanya jadi pastor paroki (teritori gereja Katolik): direduksi jadi agen pelayanan ritual. Terserah mau jempalitan bagaimana, mau bikin perkara bagaimana, asalkan bisa memenuhi permintaan pelayanan ritual di sana-sini, sudah cukup. Selebihnya waktu bisa dipakai untuk mancing, basket, kuliner, plesir, liburan, dan sebagainya. Saya sendiri, karena waktu itu hanya pastor ‘pembantu’, memang bisa lebih leluasa menata kegiatan saya. Ada waktu untuk olah raga bersama anak-anak muda, untuk kunjungan keluarga, untuk belajar, untuk bermain, di sela-sela tugas pelayanan ritual itu. Saya tidak terlibat aktif dalam rapat-rapat pembangunan jemaat maupun gedungnya. Sebetulnya, pastor kepala saya juga bisa tidak harus terlibat aktif dalam aneka rapat karena umat bisa jalan sendiri. Persis di situlah bahaya yang tadi saya sebut: pastor cuma jadi agen pelayanan ritual untuk misa lingkungan, peringatan arwah, baptisan, pengurapan orang sakit, dan seterusnya.

Lha, bukannya tugas pastor memang sebagai pelayanan ritual itu ya Mo? Iya, tapi itu tugas minimalnya dan lagi saya ulangi bahayanya di situ: orang jadi pastor minimalis, asal sudah menyelesaikan tugas pelayanan ritual tadi ya sudah. Padahal, Anda sudah tahu, juga dari posting Absensi Allah atau Tak Ada Tuhan dalam Liturgi, pelayanan ritual tidak otomatis mengantar orang sampai pada Tuhan. Ritual bisa saja dirasakan seperti orang merasakan sikat gigi atau mandi: cuma psikis sifatnya karena sudah menunaikan kewajiban atau kebiasaan, tidak sungguh jadi pengalaman eksistensial. Memangnya kalau begitu kenapa sih Mo? Ada masalah?

Ini sudah tahun kelima saya menuliskan catatan atas teks bacaan misa harian. Itu tidak membuat saya hafal bunyi teksnya meskipun setiap tahun bacaannya berulang, tetapi dari hari ke hari cara berpikir saya sendiri terbentuk. Risikonya, bisa saja dari situ saya berpikir bahwa saya sudah sampai pada kebenaran, dan tak perlu lagi perubahan, tak perlu insight dari yang lain. Itulah yang dikritik guru dari Nazareth dalam bacaan hari ini. Orang-orang Khorazim dan Betsaida tak memandang sebelah mata tanda-tanda kehadiran Allah dan tak ada pertobatan, tak ada perubahan. Ini paralel dengan teguran Yesaya pada bacaan pertama. Suasana politik yang digambarkan dalam teks bacaan pertama mungkin bisa jadi gambaran incumbent di negeri ini: mendapat serangan dari sana-sini. Yesaya menegur Raja Ahas yang bersama rakyatnya begitu takut oleh ancaman luar negeri (mungkin juga dalam negeri, entahlah). Teguran Yesaya mengarah pada Ahas yang tidak menyertakan Allah dalam kepemimpinannya.

Bisa Anda bayangkan bagaimana orang kasmaran terkena candu cinta sehingga malah abai terhadap perkembangan dirinya, bagaimana persahabatan sekian lama jadi taken for granted, dan cinta tak berkembang di situ. Pertemanan yang tak bersubstansi (formal, dipaksakan) jadi melelahkan dan tiada guna. Paralel dengannya, iman yang tak kenal ‘Aha experience‘ cuma menuntun orang pada zaman old dan itu memprihatinkan.

Tuhan, mohon rahmat untuk jeli melihat keagungan-Mu dalam diri yang lain dan tidak hanya jadi agen ritual. Amin.


SELASA BIASA XV B/2
17 Juli 2018

Yes 7,1-9
Mat 11,20-24

Selasa Biasa XV A/1 2017: Juara Dunia? Tênanè
Selasa Biasa XV C/2 2016: Susah Melihat Rahmat
Selasa Biasa XV B/1 2015: Untuk Apa Agama?

Selasa Biasa XV A/2 2014: Kolektivitas Non-Partai

4 replies

  1. Terima kasih untuk refleksinya. Menjadi inspirasiku

    Pada tanggal Sel, 17 Jul 2018 16:02, A Pathway to God menulis:

    > romasety posted: “Saya pernah bekerja setahun sebagai pastor di sebuah > gereja Katolik di kota gudeg dan itu sudah cukup bagi saya untuk mengerti > bahayanya jadi pastor paroki (teritori gereja Katolik): direduksi jadi agen > pelayanan ritual. Terserah mau jempalitan bagaimana,” >

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s