Absensi Allah

Kalau sudah terbiasa makan sashimi, Anda tak perlu selalu menelan kata-kata dalam Kitab Suci secara mentah-mentah. Karena, biar bagaimanapun, Kitab Suci bukan sashimi. Mungkin ada kalanya perlu ditambahi bumbu tertentu, tapi jangan kebanyakan micin, tau sendiri akibatnya: termakan hoax. Entah bagaimana teks hari ini saya baca dengan sedikit “Ah mosok!” Yaitu ketika saya tiba pada klausa “sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Sebetulnya dua tahun lalu juga saya terbentur dengan klausa itu, tetapi tidak dengan bumbu “Ah mosok!” tadi, melainkan bumbu gubernur yang jadi korban conservative turn. Tak usah dibahas yang ini, paper saya belum selesai je. Bumbu yang nongol di kepala saya adalah rekan sejawat yang entah tinggalnya di mana. Konon dia adalah pemuka agama yang luar biasa aktifnya dan bahkan membawa perubahan dalam hidup keagamaan umat yang digembalakannya. 

Khotbahnya mendapat banyak pujian. Pemikirannya cemerlang dan hidupnya sebagai imam benar-benar ces pleng. Orang seakan-akan tak melihat sisi lemah dari pemuka agama ini. Akan tetapi, apa mau dikata, pada akhirnya ia menanggalkan statusnya sebagai pemuka agama, bukan dengan pergi ke luar negeri. Ia benar-benar mundur dari imamatnya. Tak ada skandal yang biasanya menyertai kemunduran pemuka agama macam ini.

Skandal itu ada dalam batinnya sendiri: dalam segala tindak-tanduknya, pekerjaan, pelayanan yang hebat itu, Allah absen. Apakah Allah absen? Tentu tidak, tetapi itu berarti ia tidak hidup di hadirat Allah yang senantiasa mengisi daftar presensi di semesta ini. Ia tak menemukan Tuhan dalam ritual, dalam doa(!), dalam agama, dalam khotbah, dan seterusnya. Itulah maksudnya bahwa di luar Aku, kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan kalau perbuatanmu dekat altar, dekat tempat ziarah, dekat tempat suci, semuanya itu bukan apa-apa jika kamu tidak hidup di hadirat Allah.

Seperti apa toh orang yang hidup di hadirat Allah itu? Ya seperti kebanyakan orang pada umumnya: makan, minum, kerja, tidur, mbolanghang out, kuliner, sakit, sehat, lemah, perkasa, populer, sepi, heboh, dan seterusnya, dan semua itu terjadi dalam kesadaran bahwa setiap momen adalah momen istimewa saat Allah itu senantiasa hendak menunjukkan Diri. Tentu saja, ini bukan kesadaran yang didominasi oleh ketakutan karena Tuhan hadir di mana-mana. Ini justru kesadaran untuk membangun relasi batin dengan-Nya dalam hidup yang serba biasa.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat menemukan Engkau dalam segala. Amin.


RABU PASKA V
2 Mei 2018

Kis 15,1-6
Yoh 15,1-8

Posting 2017: Berdoa bagi Presiden, Mulai!
Posting 2016: Susahnya Mikir Bareng

Posting 2015: Persahabatan bagai Vacuum Cleaner

Posting 2014: Gak Usah Ngotot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s