#2019GantiAnjing

Saya lupa apakah pernah cerita soal dua anjing yang kerap saya tanyai apakah mereka sudah bosan jadi anjing atau belum. Setiap kali saya berangkat kuliah mereka ini ada di depan pintu sebagai anjing. Sewaktu saya pulang kuliah sudah dengan bekal pengetahuan baru, bertemu mereka di pintu dan masih juga mereka ini anjing. Saya curiga jangan-jangan orang tua mereka ini anjing dan kalaupun mereka punya anak, anak mereka juga bakal jadi anjing.

Saya harap Anda tidak menilai saya membuat sarkasme. Memang sejak jumpa pertama, mereka ini anjing kok. Pernah kapan itu pas hari bebas mobil yang satu saya kasih kaos bertuliskan #2019gantipresiden dan satunya #diasibukkerja. Eh… no pic = hoax ya? Wah, iya ya. Tapi bahkan meskipun ada video aja kalau dilaporkan ke wagabener ujung-ujungnya dicurigai videonya editan kok. Jadi yasutralah mau dianggap hoax juga boleh.

Pokoknya, anjing yang saya kasih kaos #2019gantipresiden itu polahnya menjijikkan, intimidatif, tak punya perikemanusiaan! (Lha iyalah, Mo, namanya juga anjing mosok dituntut supaya berperikemanusiaan.) Sewaktu di rumah itu, biasanya saya kasih #2019gantipresiden tulang lebih dulu, dan sementara dia makan, tulang lain saya lemparkan ke yang satunya. Apa yang terjadi?

Si #2019gantipresiden ini menyeringai dan mendekati tulang yang saya berikan ke anjing satunya. Si #2019gantipresiden ini maunya tulang satunya juga untuk dia. Buset dah, masih belum cukup juga rezeki baginya! Ini tak cuma sekali dua kali, selalu begitu, dan si #diasibukkerja ya senantiasa diam. Dasar anjing rakus. Mungkin kaosnya perlu saya ganti #2019gantianjing!

Akan tetapi, itu bukan yang penting. Lagipula, bisa jadi cerita itu dianggap hoax. Yang penting justru pesan yang saya peroleh dari teks bacaan hari ini. Bunyinya: Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
Ketika membaca pesan damai dalam kalimat itu saya lalu teringat gambar di bawah ini:

Gambar itu tampaknya merujuk pada seorang ibu yang melindungi anaknya yang ketakutan dengan afirmasi bahwa mereka tak perlu gentar kalau benar. Itu yang hendak saya katakan pada #diasibukkerja. Kalau kita benar, tak perlu gentar. Si #2019gantipresiden pasti akan berulah dan itu memang bikin gimanaaaa gitu Lha wong berantem gak cuma pagi atau siang. Tengah malam juga begitu, cèn njêlèhi og. Mungkin baik juga diharapkan, siapa tahu, siapa tahu loh ini, harapan saya bisa terpenuhi #2019gantianjing. 

Sementara #2019gantianjing itu belum terpenuhi, pesan damai teks bacaan hari ini tetap relevan untuk dipegang: jangan gelisah dan gentar hati; penguasa dunia takkan berkuasa sedikit pun terhadap mereka yang sungguh mencintai dan dicintai Allah. Lha piye jal, jangankan cuma dipenjara seperti gubernur siapa itu, mati pun tak menunjukkan kekalahan terhadap polah #2019gantipresiden kok. Begitulah risiko orang beriman: dia bawa payung sebelum hujan tetapi toh kehujanan karena payungnya dirampok orang tak beriman.

Loh, berarti orang beriman itu selalu mengalah ya, Mo? Enggak gitu, saya cuma bilang itu risikonya. Orang beriman berjuang demi kepentingan luhur, tetapi risiko kalah selalu ada. Poinnya bukan menang-kalah: orang beriman tak gentar mewartakan kebenaran.

Tuhan, mohon rahmat kekuatan, keteguhan hati untuk berjalan dalam kebenaran-Mu. Amin.


SELASA PASKA V
1 Mei 2018

Kis 14,19-28
Yoh 14,27-31a

Posting 2017: Legowo Nan Cerdas
Posting 2016: Generasi Mawar?

Posting 2015: Salam Damai Gombal

Posting 2014: Imagine… No Countries, No Religions

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s