Legowo Nan Cerdas

Tolong ingat-ingat kalau Anda pernah dizalimi seseorang sehingga hidup Anda terpuruk lalu orang yang menzalimi Anda itu mengutip ayat suci supaya Anda tak perlu mengingat-ingat pengalaman buruk itu. Atau, kalau mau, bayangkanlah bagaimana kelompok orang yang saat kampanye benar-benar memecah belah rasa kebangsaan dengan isu SARA, lalu segera setelah menang, mengundang yang kalah itu untuk legowo dan rekonsiliasi. Bukannya mengaku salah, malah skip dan langsung meminta pihak lain untuk move on. Haaahahaha…. ini lucu-lucu gimanaaaa gituseperti orang yang gertakannya sangar dan begitu jumpa dengan lawan lalu melarikan diri, bahkan sampai luar negeri [kok ora sisan nang luar galaksi wae].

Pesan damai yang disodorkan teks hari ini pasti bukan perdamaian politis, tetapi perdamaian yang bersumber dari Allah sendiri. Lho memangnya perdamaian politis sumbernya bukan dari Allah sendiri po? Ya jelas bukan dari Allah sendiri, namanya juga politis, pasti berkenaan dengan pihak-pihak lain yang punya kepentingan politis. Perdamaian yang datangnya dari Allah ini tak bersifat politis dan tidak rentan terhadap problematika relasi horisontal.

Ambil saja contoh bagaimana umat Katolik melakukan ritus Salam Damai pada perayaan Ekaristi. Bisa jadi ketika orang sedang jengkel pada orang lain, ia mengambil tempat yang jauh dari orang itu supaya nanti tidak bersalaman dengan orang yang menjengkelkan itu. Dalam benaknya, ia tak bisa berdamai dengan orang itu sehingga tak pantaslah ia mengatakan ‘Damai Kristus’. Artinya, ‘Damai Kristus’ itu bergantung pada rasa perasaannya terhadap orang yang menjengkelkan itu.

Damai yang berasal dari Allah bukan damai yang dilekatkan pada like-dislike. Maka, bahkan meskipun aku tidak suka dengan tingkah polahmu yang merusak tatanan itu, aku masih bisa membagikan damai yang berasal dari Allah itu: yaitu dengan mengundangmu supaya bertobat, mengakui kesalahanmu dan berlapang dada untuk menerima konsekuensi dari kesalahanmu itu, bukannya malah meminta orang lain untuk legowo, minta rekonsiliasi tanpa mengakui kesalahan, minta pihak lain untuk mewujudkan keutamaan pengampunan, dan sebagainya.

Problemnya tidak terletak pada pengampunan (Allah), melainkan pada pertobatan manusianya. Kalau orang tidak meminta pengampunan, bagaimana pengampunan itu bisa diberikan kepadanya? Bagaimana orang bisa meminta pengampunan kalau ia tidak melihat tingkah polahnya sebagai kesalahan yang perlu dikoreksi? Bagaimana mungkin orang melihat tingkah polahnya sebagai kesalahan kalau hobinya malah mencari kambing hitam? Singkatnya, damai Tuhan itu adalah undangan kepada manusia untuk bertobat, untuk membiarkan Tuhan menjadi Allah bagi siapapun.

Allah itu ya legowo mestinya. Orang berdosa yang bertobat tentu diterimanya. Akan tetapi, legowonya Allah ini bukan legowonya orang berpolitik yang bisa disuap dengan ini itu. Legowonya Allah ini legowo nan cerdas. Wong yang bisa mendamaikan manusia dengan diri-Nya itu ya Allah sendiri kok. Jadi ya keputusan ada pada pihak manusia terhadap legowonya Allah itu. Dari pihak manusia ‘cuma’ diminta tobat, bukan malah meminta Allah supaya mau rekonsiliasi. Halah…

Ya Tuhan, mohon damai-Mu yang menistakan keculasan atau kebusukan hatiku. Amin.


SELASA PASKA V
16 Mei 2017

Kis 14,19-28
Yoh 14,27-31a

Posting Tahun 2016: Generasi Mawar?
Posting Tahun 2015: Salam Damai Gombal

Posting Tahun 2014: Imagine… No Countries, No Religions

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s