Berdoa bagi Presiden, Mulai!

Apa jadinya kalau seorang gubernur terpeleset mulutnya sewaktu bicara di depan publik membawa-bawa isu SARA? Dia bisa kena tuntutan satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun. Bagaimana kalau yang melakukannya itu wakil presiden? Entahlah, belum ada presedennya. Akan tetapi, sebetulnya tak ada orang yang kebal hukum semata karena dia wakil presiden atau gubernur, misalnya.

Ini contoh dari senior saya yang sudah almarhum sewaktu dia dikejar polisi karena menerobos lampu merah. Dia tidak sedang mengenakan jubah tetapi memang terburu-buru hendak menuju tempat ibadat untuk memimpin kegiatan doa. Dimintalah surat kelengkapan kendaraan dan SIM, lalu polisi itu bertanya,”Jadi, bapak ini pastor ya?” [Kemungkinan besar polisinya bukan Katolik] Senior saya ini merasa lega, sepertinya dia akan mendapatkan dispensasi. Dia menganggukkan kepala dan menjawab ya. Lalu polisi itu memberi nasihat,”Kalau jadi pastor itu, tidak boleh melanggar lalu lintas.” Gubraaakkkk….

Sebagaimana pemimpin agama tak kebal hukum, aparat pemerintah pun tak kebal hukum, bahkan meskipun jabatan aparat itu adalah presiden. Ia mesti bergerak dalam koridor hukum juga. Akan tetapi, produk hukum mana sih yang tanpa celah? Saya tak tahu. Hukum yang tanpa pasal karet pun masih bisa dimanfaatkan oleh aparat busuk yang hendak merealisasikan niat tengiknya, juga dengan kata-kata dan himbauan manisnya. Ujung-ujungnya, hukum hanya menyediakan koridor supaya kebaikan bersama bisa diwujudkan. Apakah kebaikan bersama ini memang bisa diwujudkan, pada akhirnya bergantung pada good will orang-orang yang ada dalam jangkauan hukum itu sendiri.

Itulah relevansi bacaan yang disodorkan hari ini: Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Bukan perbuatannya yang penting, melainkan apa yang memungkinkan perbuatan itu jadi penting: keterpautan hati pada wajah Allah. Hukum dan implementasinya itu semestinya memungkinkan realisasi sketsa wajah Allah yang merangkul kemanusiaan seutuhnya. Kemanusiaan seutuhnya itu tak mungkin direduksi sebagai ideologi agama tertentu, entah mayoritas ataupun minoritas. Semua perlu duduk bersama untuk berkontribusi dalam memperkaya kualitas kemanusiaan yang hendak dibangun.

Memang tidak mudah menerima perbedaan sebagai kekayaan. Lebih gampang menganggap yang berbeda itu sebagai lawan atau pengkhianat atau penyeleweng atau makhluk lain yang mesti dibasmi. Bagaimana menerima perbedaan sebagai kekayaan? Ya belajar dari yang berbeda itu. Mengapa mayoritas mesti menganggap diri sempurna dan tak ada hal dari minoritas yang bisa dipelajari? Mengapa kultur modern mesti menempatkan diri lebih tinggi dari kultur tradisional (yang nota bene lebih ekologis)?

Kalau tak mau belajar, sekurang-kurangnya tak usah memakai isu SARA-lah untuk mengkritik apalagi menjatuhkan pihak lain. Ini mengerikan. Semakin banyak orang memakan isu SARA, semakin banyak pula orang yang minder alias gak pede pada sukunya sendiri atau agamanya sendiri, misalnya. Singkatnya, semakin isu SARA ini membesar, semakin tampaklah orang-orang yang krisis identitas. Itu mengapa muncul istilah politik identitas dan sungguh mengerikan kalau orang-orang yang nyinyir dengan politik identitas menempati posisi struktural yang strategis.

Saya mengundang Anda untuk mendoakan presiden periode ini dan orang-orangnya yang concern pada pembangunan karakter bangsa Indonesia. Semoga senantiasa diridai Allah. Amin.


RABU PASKA V
17 Mei 2017

Kis 15,1-6
Yoh 15,1-8

Posting Tahun 2016: Susahnya Mikir Bareng
Posting Tahun 2015: Persahabatan bagai Vacuum Cleaner

Posting Tahun 2014: Gak Usah Ngotot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s