Wajah Baru Allah

Kebahagiaan orang sekarang barangkali terletak pada intuisinya untuk mengubah paham Allahnya! Orang perlu memberikan wajah Allah baru, yang beda dari topeng Firaun atau gambaran guru yang memetik benang sejarah. Apa itu? Orang perlu menemukan paham Allah kembali dalam kebaruan. Penemuan ini bukan dalam arti discovery, melainkan invention. Contoh discovery ialah penemuan benua baru oleh Columbus. Benua itu sudah ‘lama’ ada sebelum Columbus tiba di sana. Contoh invention ya penemuan listrik dan lain-lainnya. Bahan-bahannya memang sudah tersedia di alam, tetapi ide orang yang berkembang kemudian ‘menciptakan’ hal baru yang belum ada sebelumnya.

Barangkali wajah Allah yang baru itu ialah Cinta yang rapuh. Ini jelas bukan rapuh dalam arti orangnya jadi rapuh atau kejeglong alias terperosok dengan slogannya sendiri [misalnya koar-koar soal ganyang pornografi jebulnya ya yang perlu diganyang itu yang berkoar-koar itu tadi, haaaaaa]. Ini juga bukan rapuh dalam arti orangnya jadi sulit tidur, banyak ngelamun, makan tak enak tidur pun tak nyenyak. Cinta yang rapuh ini adalah cinta tanpa senjata, tanpa kekerasan, yang punya daya ubah bukan karena kuantitas kenalan medsos atau relasi dengan gubernur atau wakil gubernur, melainkan karena kualitas hati orangnya sendiri.

Bacaan hari ini menyodorkan Cinta yang rapuh itu: Cinta yang pola atau strukturnya ialah hati Allah, Cinta Allah sendiri, yang ditampung dalam diri orang yang rapuh. Yesus mengatakan bahwa ia mencintai murid-muridnya sebagaimana Allah telah mengasihinya. Orang yang dikasihi Allah [pada kenyataannya semua orang ya dikasihi Allah] dan sungguh-sungguh mengalami kasih Allah itu, akan meneruskannya kepada semua orang tanpa pengecualian. Memang ada preferensi seturut status atau keadaan masing-masing orang, tetapi tak ada diskriminasi. Runyamnya orang lebih mudah menangkap preferensi ini sebagai diskriminasi sehingga problem identitas muncul: eksklusif dan mengafirkan orang lain.

Lha wong Tuhan saja tidak mengafirkan orang, kok malah orang mengafirkan sesamanya? Itu sudah dengan sendirinya hendak menyangkal kerapuhan Cinta: menganggap diri sebagai figur kuat dan kuasa untuk menentukan dosa atau kafir tidaknya orang lain yang berbeda darinya. Tak heran, orang lantas memakai isu SARA dan sekarang juga nongol isu PKI sampai Presiden pun masuk ke dalamnya: kalau PKI nongol ya gebuk saja. Syukur diterangkan bahwa poin pentingnya adalah sinkronisasi dengan Pancasila, UUD ’45, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

Kalau itu poin pentingnya, bahkan pemerintah pun takkan dikecualikan dari tuntutan untuk menjaga penegakan kemanusiaan di wilayah-wilayah tertinggal, misalnya. Kalau itu poin pentingnya, bangsa Indonesia juga tak boleh melupakan peristiwa sejarah (misalnya saja deh peristiwa berdarah 1998) supaya tak jadi bulan-bulanan para monster dan predator yang hendak mengincar posisi istana dan pemerintahan sedemikian rupa sehingga bisa menghilangkan jejak kenistaan mereka. Tapi kenapa ya para monster dan predator ini tak mau mengakui kenistaan mereka? Tentu karena ada asumsi tiadanya pengampunan dalam bangsa ini dan balas dendam seolah jadi kultur.

Itu mengapa dibutuhkan paham Allah yang baru dan sayangnya paham baru ini takkan ‘tercipta’ sampai orang mengalami sendiri Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang itu.

Ya Allah, semoga wajah baru-Mu tertanam dalam batin kami. Amin.


KAMIS PASKA V
18 Mei 2017

Kis 15,7-21
Yoh 15,9-11

Posting Tahun 2016: Panama Pampers
Posting Tahun 2015: I’m Happy ‘Full’

Posting Tahun 2014: Konservatif – Liberal: Creative Fidelity

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s