Silent Majority

Kemarin sudah disinggung soal Cinta nan rapuh: rapuh terhadap tendensi untuk melakukan kekerasan, bukan rapuh terhadap kekerasan. Memang, dalam beberapa atau banyak kasus, orang yang rapuh terhadap kekerasan mengklaim bahwa sikap submisifnya terhadap kekerasan itu dilandasi cinta. Akan tetapi, kalau sudah mengklaim begitu ya dihormati saja. Memang sulit dibedakan antara menanggung penderitaan karena takut menyuarakan kebenaran dan menanggung penderitaan karena Cinta. Yang perlu dicatat, Cinta itu minimal bergandengan tangan dengan keadilan dan keberdayaan atau kekuatan, untuk tidak mengatakan kekuasaan.

Orang yang bilang dirinya dipenuhi cinta tapi tak berdaya untuk merealisasikan keadilan tentulah pembual; dia impoten, bukan dalam arti seksual. Orang yang menyatakan dirinya adil tetapi landasannya modal kuasa semata juga kualitas cintanya sangat meragukan. Demikian pula orang yang mengagung-agungkan jabatan kuasanya atas nama cinta, sangat mungkin yang dipraktikkannya adalah ketidakadilan. Love, power, justice saling terkait dalam relasi cinta nan rapuh terhadap tendensi untuk melakukan kekerasan karena begitu tiba pada kekerasan, tiga hal itu runtuh dengan sendirinya.

Karena itu, tak mengherankan juga bahwa bacaan hari ini membawa pesan supaya semua orang saling mengasihi. Cinta yang begini ini menyeimbangkan kerapuhan dan kekuatan Cinta bukan karena bermodalkan keroyokan, melainkan karena cinta dua arah ini bersumber dari perintah Tuhan sendiri yang dibenum dalam hati setiap orang. Maka dari itu, saya comot istilah silent majority bukan dalam kerangka strategi politik, melainkan realisasi Cinta ilahi dalam hidup setiap orang. Andai saja silent majority ini adalah kumpulan orang-orang yang dalam hatinya tertanam Cinta Allah, orang-orang yang adil dan penuh cinta tak akan silent lagi alias tinggal diam. Minimal, mereka menunjukkan keberpihakan kepada keadilan yang terbuka bagi siapa saja.

Pengungkapan keberpihakan ini, karena bukan show of force, memang bisa jadi sasaran kenyinyiran pihak yang keculasannya terbongkar, yang takut masa depannya suram, yang tak bisa jadi gentleman, dan sejenisnya. Saling mengasihi bisa jadi mekanisme peneguhan. Sekali lagi, ini bukan pertama-tama karena jumlah. Kalau karena jumlah, mungkin malah orang perlu mencurigai diri sendiri, seperti kata Mark Twain: Whenever you find yourself on the side of the majority, it is time to pause and reflect. Peneguhan dari saling mengasihi ini muncul karena orang memahami dan meyakini bahwa dalam hati setiap manusia sesungguhnya ada panggilan akan cinta, keadilan, dan daya kekuatan Allah sendiri, juga dalam diri orang yang tampaknya ancur ya ancur.

Ya Allah, mohon rahmat untuk bertekun dalam keadilan dan kekuatan cinta-Mu. Amin.


JUMAT PASKA V
19 Mei 2017

Kis 15,22-31
Yoh 15,12-17

Posting Tahun 2016: Asal Bapak Senang
Posting Tahun 2015: Dalam Untung Rugi

Posting Tahun 2014: Receive in Giving

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s