Sendiri, Siapa Takut?

Mari mulai dengan berita tentang seorang ibu yang sendirian menyalakan lilin sebagai aksi solidaritas terhadap kondisi bangsa belakangan ini yang dipicu oleh kasus Ahok. Saya yakin, andaikan Ahok membaca teks bacaan pertama hari ini, ia mesti kesetrum karena di situ dikisahkan bagaimana Paulus dan Barnabas diperlakukan seperti dewa oleh orang-orang di wilayah yang subur politeismenya. De facto, Paulus menyembuhkan orang sakit lumpuh dan orang-orang yang terkagum-kagum itu menyembah dia dan percaya bahwa dewa-dewa mereka telah menjelma jadi manusia, yaitu Paulus dan Barnabas tadi. Paulus berusaha menjelaskan bahwa ia adalah manusia biasa seperti mereka juga.

Ahok pasti tidak mengharapkan para pendukungnya memberhalakan dia. Pun kalau di puluhan atau ratusan kota di seluruh penjuru bumi ini dilakukan aksi seribu atau sejuta lilin, Ahok tetap akan punya preferensi untuk sebisa mungkin merealisasikan kesejahteraan dan keadilan sosial. Percuma dong jadi Ahoker ternyata buang sampah sembarangan, korupsi, ngemplang duit rakyat, dan sejenisnya. Percuma juga jadi Ahoker kalau cara-cara mendukungnya mengikuti gaya teroris. 

Ada saatnya ketika dukungan kita terhadap seseorang tidak lagi ditujukan pada per se orang itu sendiri, tetapi pada nilai kemanusiaan yang dibelanya. Itu berarti, aksi mendukung Ahok yang sebenarnya tidak terletak pada upaya pembebasan Ahok dari penjara, tetapi pada desakan untuk merealisasikan kesejahteraan dan keadilan sosial tadi. Memang ini termasuk juga desakan untuk membongkar kriminalisasi yang menimpa Ahok, tetapi itu bukan agenda besarnya. Agenda besar silent majority semestinya ialah gerakan masif supaya revolusi mental yang didengungkan Jokowi dulu itu semakin bisa direalisasikan.

Kata bacaan hari ini: Barang siapa memegang perintahku dan melakukannya, dialah yang mengasihi aku. Maka, kalau orang hendak mengasihi Ahok, ia mesti memegang perintahnya dan melakukannya. Akan tetapi, karena Ahok tidak bisa didewakan, poinnya bukan perintah Ahoknya sendiri, melainkan nilai yang ada di belakang perintah Ahok itu, yang dia perjuangkan juga (yang bisa jadi di sana-sini ada luputnya juga): kesejahteraan umum, keadilan sosial, misalnya.

Mari kita tutup dengan cerita seorang ibu yang sendirian menyalakan lilin sebagai aksi solidaritasnya. Saya kira, aksi itu lebih tepat diletakkan dalam frame cinta kemanusiaan, lebih daripada soal pembebasan Ahok sendiri. Pembebasan Ahok mesti ditempuh dengan jalur hukum, tetapi aksi lilin dan entah apa kemudian, perlu diletakkan dalam konteks perjuangan kemanusiaan, supaya wajah Allah itu bisa semakin dinyatakan. Perjuangan macam ini kebanyakan menuntut keberanian diri, bukan untuk show of his or her own force (yang cenderung cari kuantitas), melainkan untuk menunjukkan teriakan Allah bagi kemanusiaan.

Ya Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk menguak kebenaran-Mu. Amin.


SENIN PASKA V
15 Mei 2017

Kis 14,5-18
Yoh 14,21-26

Posting Tahun 2015: Listening to The Spirit
Posting Tahun 2014: Yesus Jadi Berhala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s