Finding God in all things

Dulu saya keberatan dengan terjemahan frase encontrar a Dios en todas las cosas ke dalam bahasa Inggris to find God in all things dan ke dalam bahasa Indonesia jadi “menemukan Tuhan dalam segala (hal)”. Maklum, saya belum berat, jadi bisanya keberatan. Pikir saya waktu itu, ‘menemukan Tuhan dalam segala’ itu berbau-bau memperlakukan Tuhan seperti objek pengamatan lainnya dan saya tak pernah klop dengan perspektif itu (bdk. posting Jangan Mengobjekkan Tuhan atau Jangan Mempertuhankan Yesus). 

Meskipun demikian, karena teks bacaan hari ini, saya kembali diingatkan bahwa 99,99% perjumpaan dengan Tuhan senantiasa terjadi melalui mediasi atau perantara. Mediasi itu bisa kitab fiksi, bisa juga Kitab Suci, tanah suci, para nabi, orang suci, dan lain sebagainya sehingga dikatakan oleh Ignasius Loyola bahwa Tuhan dapat ditemukan dalam segala hal. Artinya tidak lain ialah bahwa dalam segalanya, orang bisa mengangkat kesadarannya akan jejak-jejak kehadiran Allah dalam semesta ini.

Lagipula, rupanya di belakang kata encontrar masih ada sebelum Dios. Itu indikasi bahwa to find God tidak harus dimengerti sebagai menemukan Tuhan secara langsung, tetapi bahwa dari hal-hal lain dapat ditelusuri kerjaan Tuhan. Belum lagi, berkali-kali sudah saya bilang sendiri bahwa kalau orang berwacana mengenai Tuhan, nuansa metafora ada di situ sehingga ‘menemukan Tuhan’ tidak berarti seperti menemukan hutan. 

Teks bacaan hari ini menyodorkan sosok teman Tomas, yang tak jauh-jauh amat darinya, menginginkan perjumpaan langsung dengan Allah. Ini semacam keinginan orang frustrasi terhadap dirinya sendiri yang susah mengerti, tinggal main klaim sana sini. Jawaban sang guru mengembalikan Filipus ke dalam hidup konkret: mau lihat Allah, lihatlah Aku. Kita ingat bahwa kata melihat dalam tulisan Yohanes ini identik dengan percaya. Semoga masih ingat perbedaan kata orao dan blepo. Kalau mau nyontek bisa lihat posting berjudul Learning by Nyemplung; di sini dipakai kata berakar orao.

Ignasius dari Loyola menjabarkan langkah untuk melihat Allah itu dalam pemeriksaan batin (examen of consciousness alias examen conscientiae, bacanya konsiènsié). Asumsi dasarnya: Allah masih aktif bekerja di semesta dengan aneka manifestasi. Maka orang perlu menyelisik (menyingkap) karya-karya Allah itu. Penyelisikan itu tak mungkin terjadi kalau orang mengambil posisi seperti Tomas dan Filipus: cuma dengan modal blepo dan minta jalan pintas tanpa mediasi. Disposisi seperti itu tak memadai bagi suatu pemeriksaan batin.

Orang baru bisa melakukan examen of consciousness kalau ia membebaskan diri dari aneka sentimen tak teratur dalam dirinya seperti direpresentasikan sekelompok orang Yahudi dalam bacaan pertama: egosentrisme, kemarahan, kejengkelan, keirihatian-kecemburuan, prasangka buruk, kebencian, minder, skrupel, dan sebagainya. Pada saat hati terbebaskan dari aneka sentimen tak teratur itu, ia lebih reseptif dan bisa melihat dengan kualitas orao: bagaimana Tuhan menata cinta-Nya baik lewat kompleksitas semesta maupun kesederhanaan hidup ini, sejak matahari nongol sampai esok nongol lagi.

Ya Allah, mohon rahmat kejernihan hati dan budi supaya kami dapat melihat cinta-Mu dalam sejarah hidup kami. Amin.


SABTU PASKA IV
28 April 2018

Kis 13,44-52
Yoh 14,7-14

Posting 2017: Plis, Jangan Mau Bodoh
Posting 2016: Iman Tidak Terima Jadi

Posting 2015: Shortcut to God

Posting
 2014: Akal versus Okol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s