Plis, Jangan Mau Bodoh

Kepada para mahasiswa saya sampaikan pendapat pribadi mengenai kasus Ahok: dia tidak menista agama dengan pernyataannya, tetapi pernyataannya itu sendiri sesungguhnya tak perlu disampaikan kepada publik. Kalau memang perlu menyampaikan gagasan bahwa orang bisa memperalat agama untuk membodohi orang lain, ia cukup mengatakan agama secara generik, tidak perlu masuk dalam ranah eksklusif ajaran agama tertentu yang tidak dihidupinya. Itu adalah kecerobohan yang runyamnya dimanfaatkan oleh kelompok orang yang memang hendak memakai isu agama untuk memukul orang lain. Permintaan maaf takkan cukup. Bisa jadi kalau mau safe hidup di negeri ini, jangan sekali-kali mempersoalkan agama, hahaha… [Itu mengapa berkali-kali saya tegaskan blog ini bukan blog mengenai agama, meskipun inspirasi tulisannya berasal dari agama juga]

Kecerobohan seperti itu tak cuma menimpa Ahok. Ada saja tokoh publik lain yang melakukannya, meskipun saya ragu apakah itu kecerobohan atau memang bagian dari strategi untuk memukul pihak lain. Kalau cerobohnya berkali-kali, susah juga disebut khilaf. Bayangkanlah, orang yang mau berpikir sedikit tentu mengerti bahwa dalam masyarakat majemuk segmentasi berdasarkan SARA yang dipadukan dengan problem kesenjangan ekonomi itu membahayakan. Itu betul sekali, bisa dikaji dalam forum akademis, tetapi kalau lantas dipublikasikan tanpa data akurat bahwa orang kaya itu etnis A beragama A dan orang miskin itu etnis B beragama B, lha ya pikiran orang digiring dong: wo iya ya orang-orang kaya itu etnisnya A dan beragama A. Yang beretnis B dan beragama B menyimpan data itu, barangkali dengan frame konflik karena dia tergolong miskin.

Di situ, bukan sentimen kesenjangan sosialnya yang membahayakan, melainkan sentimen agamanya. Agama benar-benar dipakai untuk membuat framing kenyataan sosial dan ini jelas adalah penistaan agama. Agama semestinya membantu orang untuk meneropong bagaimana relasi umat beragama dengan Tuhannya, tetapi malah dijadikan bagian dari konflik sosial. Entah, ini orang ber-Tuhan atau tidak, yang menjadikan agama sebagai objek kepentingannya.

Bacaan hari ini hendak mengembalikan kesadaran orang akan agama yang sejati. Mind you! Saya tidak sedang membahas agama Islam, Kristen, Katolik, Konghucu, Buddha, Hindu, dan sebagainya. Agama sejati tak terletak pada label yang diberikan dunia, tetapi pada sinkronisasinya dengan Allah yang diimani umat beragama itu. Filipus meminta Yesus supaya menunjukkan Allah Bapanya dan dijawab untuk kesekian kalinya: tidak percayakah kamu bahwa Allah Bapa dan aku satu?

Dhuaaaarrrr! Ini penista agama!!! Dia mempersekutukan dirinya dengan Allah!!!
Padahal, kalau dipikir dengan hati dan kepala dingin, lama-lama ya orang ngerti bahwa maksudnya ialah bahwa Allah yang disebut Bapa itu tak jauh-jauh dari kemanusiaan: hatinya, wajahnya, perilakunya, dampaknya, dan sebagainya. Allah bisa dihadirkan dalam kemanusiaan, tetapi bahkan murid-murid Yesus sendiri bebal sampai guru mereka mati! Kalau orang tidak percaya pada kenyataan ini, wajarlah orang lalu mencoreng wajah kemanusiaan itu sendiri karena tak punya konsep bahwa mencoreng wajah kemanusiaan adalah mencoreng wajah Allah sendiri.

Sungguh saya mohon doa supaya orang-orang beragama semakin cerdas dan tak lagi mau dibodohi oleh isu atau sentimen agama…


SABTU PASKA IV
13 Mei 2017

Kis 13,44-52
Yoh 14,7-14

Posting Tahun 2016: Iman Tidak Terima Jadi
Posting Tahun 2015: Shortcut to God

Posting
Tahun 2014: Akal versus Okol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s