Juara Dunia? Tenané…

Celakalah orang yang sudah merasa diri diselamatkan sebelum berjumpa dengan Allah, Sumber Selamat, bukan judul bus AKAP. Celakanya, ada banyak orang celaka karena mengklaim diri sebagai pemilik Kerajaan Allah (lha wong begitulah yang diajarkan agama dan Kitab Suci), karena begitu yakin tidak tergolong sebagai orang kafir (lha wong percaya kepada Tuhan kok), atau karena agamanya lebih baik daripada agama lainnya (lha wong jumlah penganutnya lebih banyak). Orang-orang begini ini celakanya celaka dan pantas dikecam Yesus seperti disodorkan dalam bacaan hari ini. Mentang-mentang

Lah, Romo sendiri apa gak termasuk orang celaka yang pantas dikecam Yesus itu? Hehehe… iya sih, tetapi minimal sadar bahwa diri ini pantas dikecam. Kenapa? Karena kualitas pertobatan yang diharapkan bisa jadi naik turun dan celaka deh kalau lebih sering turun. Bukankah Yesus mengecam kota karena orang-orangnya tak bertobat dan bukankah pertobatan itu tak pernah berhenti pada titik tertentu alias bersifat ongoing? Artinya, kecaman Yesus itu tidak melekat pada status orang tertentu, tetapi pada sikap dasar yang dipegangnya. Celakalah orang yang sikap dasarnya tidak mencerminkan pertobatan terus menerus.

Bisa saja orang yang menjadi juara dunia lari, misalnya, menganggap dirinya sebagai pelari tercepat di dunia, atau juara dunia tenis sebagai petenis terbaik di seluruh dunia. Pada kenyataannya, ia hanya memenangkan kejuaraan dunia, tak lebih dari itu. Kemenangan tidak menyatakan bahwa orang lebih baik dari orang lainnya. Ia tidak mengalahkan semua orang di dunia, wong tidak semua orang ikut kejuaraan dunia! Masih ingat, bukan, anekdot promo warung terbaik di seluruh negeri dan seluruh dunia dikalahkan oleh promo warung terbaik di jalan itu? Ini bukan soal falsafah di atas langit masih ada langit, melainkan soal, sekali lagi, ongoing conversion. Jadi, persoalannya bukan bahwa saya lebih baik daripada orang lain dan sebaliknya, melainkan bahwa saya senantiasa memerlukan perspektif yang berbeda bahkan untuk keselamatan jiwa saya sendiri.

Kalau orang tak terbuka pada perspektif yang berbeda itu, ia akan berkubang dalam kebenarannya sendiri dan tak mampu melihat bagaimana Allah mengundangnya juga melalui perspektif dan hal-hal lain yang bahkan tak ia pahami sebelumnya. Saya kira, Yesus mengecam Khorazim dan Betsaida bukan karena dia baper dengan sentimen pribadi bahwa orang-orang itu menolak apa yang dia ajarkan. Jauh lebih berat persoalannya: mereka tak mau mengadopsi sikap dasar yang dibutuhkan bahkan bagi keselamatan jiwa mereka sendiri.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami senantiasa mampu mengembangkan sikap tobat di hadapan-Mu dan sesama. Amin.


SELASA BIASA XV A/1
18 Juli 2017

Kel 2,1-15a
Mat 11,20-24

Selasa Biasa XV C/2 2016: Susah Melihat Rahmat 
Selasa Biasa XV B/1 2015: Untuk Apa Agama?

Selasa Biasa XV A/2 2014: Kolektivitas Non-Partai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s