Ingusan

Published by

on

Juga jika kemarin Yesus mengecam orang-orang kota tempat ia dibesarkan, itu tidak berarti bahwa semua orang di kota itu bebal dan tak peka terhadap tanda-tanda zaman. Pasti ada yang punya kesadaran akan kerja senyap Allah lewat aneka fenomena di sekitarnya, ora kètang mung sepuluh persen. Untuk itulah, seperti disodorkan dalam teks bacaan utama hari ini, Yesus bersyukur.

Akan tetapi, apakah ia bersyukur karena 10 persen itu? Tampaknya tidak, karena yang ditampilkan sebagai alasan bukan semacam ‘untung masih ada yang baca’ atau ‘untung masih ada orang baik’ atau ‘untung masih punya follower’ dan sejenisnya. Yang disyukuri Yesus ialah bahwa kebijaksanaan Allah atau wahyu Allah itu disampaikan kepada ‘anak kemarin sore,’ anak ingusan, orang kecil, sederhana, yang tak berpretensi sebagai orang beriman yang benar di atas orang-orang lain yang juga beragama.

Saya membayangkan ‘anak kemarin sore’ ini seperti mereka yang beribadat pun hanya pas hari raya atau kalau pun setiap minggu mereka beribadat, mereka mengakui diri tak paham apa-apa selain menjalankan kewajiban, dipaksa orang tua, dipaksa negara, dan sejenisnya. ‘Anak kemarin sore’ itu seperti mereka yang tak aktif di lingkaran jemaat orang beragama, tetapi punya concern dan komitmen kuat untuk membangun kemanusiaan yang beradab. Bahkan, ‘anak kemarin sore’ ini, karena kurangnya pengetahuan mereka, malah bisa menyodorkan kritik agama, yang bisa jadi pijakan untuk mendalami agamanya sendiri.

Aseeeeek, berarti Romo setuju ya anak-anak muda tak usah ke gereja dan yang penting aktif di kegiatan sosial kemasyarakatan?
Wakakakakak… apa saya tadi bilang gitu ya?

Poinnya sama sih: orang yang aktif di kegiatan sosial masyarakat tidak per se memiliki kesadaran akan kerja senyap Allah. Ini bukan perkara aktif di mana, melainkan perkara bagaimana ‘anak kemarin sore’ itu menangkap kerja senyap Allah. Yang disyukuri Yesus ialah kerja senyap itu di-unboxing (atau di-unboxed?) bagi mereka yang punya kerendahhatian untuk menanggalkan kenyamanan hidupnya dan terus mencari di balik tabir kerahiman Allah. Ini diinsinuasikan dalam kisah teks bacaan pertama: Musa mesti menanggalkan kasutnya, yang melindungi kakinya dari tajamnya batu padas.

Jadi, ini bukan semata perkara yang penting bermoral baik dan aktif dalam kegiatan sosial, melainkan perkara keterbukaan dengan rendah hati untuk menangkap wahyu Allah lewat apa saja. Di situ diandaikan ‘anak kemarin sore’ itu punya komitmen pada dimensi ‘vertikal’ yang ditawarkan oleh agama, atau apa pun istilahnya.

Semoga Anda dan saya diberi rahmat kerendahhatian untuk selalu menjadi ‘anak kemarin sore’ di hadapan misteri Allah. Amin.


RABU BIASA XV C/1
16 Juli 2025

Kel 3,1-6.9-12
Mat 11,25-27

Rabu Biasa XV B/2 2019: Lepaskan Sandalmu
Rabu Biasa XV A/1 2017: Selfie with God?
 
Rabu Biasa XV B/1 2015: Sejarah Allah Bukan Sejarah Agama

 

Previous Post
Next Post