Tawakal

Published by

on

Kita perlu jujur bahwa kerap kali agama, yang diklaim sebagai agama wahyu justru merepresentasikan aturan bikinan manusia sendiri. Berapa banyak dari kita yang merasa bersalah karena ‘bolong’ ke tempat ibadat, merasa skrupel karena kelupaan bersujud, merasa berdosa karena iri hati, dan seterusnya.

Jangan salah: saya tidak mempersoalkan rasa bersalah. Yang saya persoalkan ialah rasa bersalah itu dihubung-hubungkan dengan Tuhan, dengan akibat: putus hubungan! Itulah dosa, kata guru agama kita.
Padahal, kalau kita mau berpikir sejenak, apa jadinya kalau orang putus hubungan dengan Tuhan? Ya matilah dia atau beralih dimensi atau apalah istilahnya.

Oh, jadi kita itu mau nyeleweng atau hidup lurus tetap dalam hubungan dengan Tuhan ya, Rom?
Lah mau gimana lagi kalau kita percaya Allah itu eksis?
Nah, berarti nyeleweng kan juga tetap dalam hubungan dengan Tuhan ya, Rom?
Lah, diulang lagi.
Ya udah kalo gitu nyeleweng aja, Rom, gak usah pikir hidup lurus. Wkwkwkwk….

Pertanyaan saya: hidup lurus itu maksudnya apa?
Ya gak usah rajin-rajin amat ke gereja, doa ya kalo dirasa butuh aja, sedekah ya kalau lagi kelebihan cuan aja.
Lha itu yang saya maksud di awal tadi: rajin ke gereja, doa, sedekah, itu siapa yang ngajarin?
Guru agama saya, Rom?
Manusia, bukan?
Bukan, genderuwo!
Nah, kalau begitu jelas dong itu bukan wahyu Allah, melainkan tafsir genderuwo. Selama Anda bergantung pada tafsir genderuwo itu, hidup Anda terbebani genderuwo.

Lha ya berarti betul, kan, Rom, gak usah rajin-rajin beribadat, berdoa, bersedekah, dll seturut tafsir genderuwo tadi?
Enggak gitu konsepnya ya, Satoru! Rajin beribadat itu bukan tujuan. Kalau itu jadi tujuanmu, pasti jadi beban!

Teks bacaan utama hari ini menyodorkan kuk, yang dibilang Yesus meringankan, bukan jadi beban. Kenapa? Karena kuk itu menunjuk jurusan, jalan menuju Allah, verso Dio, tidak perlu pakai dotkom. Alhasil, tafsir genderuwo tadi boleh jadi sarana, tapi tak perlu dimutlakkan sampai-sampai kita merasa putus hubungan dari Allah akibat tafsir genderuwo itu.

Supaya tidak salah paham: aneka aturan agama itu, jika tidak diletakkan di bawah tujuan quest for Truth, hanya jadi beban. Hanya mereka yang menatap Allahlah yang menerima agama sebagai jalan menuju Allah. Sebagai jalan, seberapa pun terjalnya, orang menitinya tanpa berkeluh kesah demi happiness, serenity, peace, justice, harmony, silence, atau apa pun istilahnya.
Jadi, pertama Dio, Tuhan, baru kedua, verso Dio [seperti ada bau promosi].
Kalau mau pakai bahasa biblis Kristiani: carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Mat 6,33).
Kalau mau pakai bahasa biblis Islami: Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya (Q 65,2-3).
Kalau mau bahasa Indonesia: wujudkanlah dahulu Keadilan Sosial, maka empat sila lainnya auto-tervalidasi dan Anda sungguh happy.

Semoga Anda dan saya mendapat rahmat kesadaran untuk mencari jalan-jalan menuju Allah, juga melalui agama. Amin.


KAMIS BIASA XV C/1
17 Juli 2025

Kel 3,13-20
Mat 11,28-30

Kamis Biasa XV C/1 2019: Dunia Kita Berbeda
Kamis Biasa XV A/1 2017: Ego Eimi
Kamis Biasa XV B/1 2015: Allah Beneran Gak Eksklusif

Previous Post
Next Post