Manusia modern percaya bahwa segala hal dapat dipecahkan dengan sains, bukan doa. Menurut Friedrich Hegel, doa orang modern ya berarti baca koran, atau kalau disesuaikan dengan kondisi sekarang, ambil gawai dan telusuri saja dunia melaluinya. Apa saja tersedia di sana, termasuk rumusan doa-doanya; dan begitulah, orang beragama pun memahami doa sebagai repetisi atau replikasi rumus, bahkan meskipun Yesus dari Nazaret sudah lama bilang,”Kalau kalian berdoa, janganlah bertele-tele.” Apa boleh baut, begitulah nasib orang beragama di zaman modern. Doa itu nomor sekian dan yang nomor sekian itu hanya berarti resitasi rumus.
Tambah lagi, di balik praktik doa macam begitu, ada landasan transaksional: orang berdoa minta ini itu, entah bagi diri sendiri atau bagi orang lain. Selamat di jalan, sukses usaha, dapat jodoh, banyak rezeki, dan sebagainya.
Loh, lha ya memang begitu, kan, Rom? Bukankah itu bentuk pengakuan ketergantungan total kepada Allah? Bukankah dari dulu ya memang Gereja sendiri mengendorse ziarah, berdoa dengan perantaraan para kudus, dan sejenisnya?
Iya tentu saja. Itulah praktik populer yang kalau tidak disikapi baik-baik nanti malah mengembangkan sikap naif dalam diri orang beragama.
Teks bacaan utama hari ini menyodorkan doa yang menurut narasinya diajarkan oleh Yesus dari Nazaret. Akan tetapi, mengingat bahwa Kitab Suci bukanlah reportase wartawan, redaksi doa yang disodorkan di situ sesungguhnya adalah refleksi komunitas pengikut Yesus sendiri, bukan replikasi verbatim dari Yesus sendiri. Lord’s Prayer ini adalah poin-poin yang digarisbawahi Yesus jika orang sungguh mau berdoa. Pertama, interlokutornya disebut Bapa, bukan sosok abstrak impersonal dengan landasan filsafat yang njelimet; bukan pula santo ini itu yang sudah meninggal, seakan-akan mereka perlu membujuk Allah supaya mengabulkan doa orang. Saya kira bukan begitu konsepnya: baiklah orang berdoa bersama mereka (itu mengapa disebut persekutuan para kudus), tetapi tak perlu memakai perspektif transaksional bahwa melalui mereka Allah mengabulkan doa-doa orang.
Kedua, kata ganti empunya terhadap interlokutor itu tidak tunggal, tetapi jamak. Artinya, menyebut Bapa kami, berarti menyadari bahwa Allah itu Bapa bagiku, tetapi juga bagimu, baginya, dan bagi mereka yang menerima Allah sebagai pribadi yang hendak menyapa manusia. Alhasil, sapaan itu sendiri sudah mengundang pendoanya supaya memperlakukan orang lain juga sebagai saudara, yang sama-sama membutuhkan rezeki dan pengampunan.
Dua hal itu saja sesungguhnya sudah cukup menjadi modal orang untuk berdoa; tetapi ya itu tadi apa boleh baut, orang beragama memakainya sebagai rumus repetitif di mulut. Menjadi naif jika tidak dipakai untuk membangun kesadaran untuk mendatangkan Kerajaan Allah yang sesungguhnya adalah keadilan sosial bagi kemanusiaan yang adil dan beradab.
Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk menjadikan hidup kami sebagai doa anak-anak-Mu. Amin.
HARI MINGGU BIASA XVII C/1
Hari Kakek Nenek, Orang Tua Sedunia
27 Juli 2025
Kej 18,20-33
Kol 2,12-14
Luk 11,1-13
Posting 2022: Anak Siapa
Posting 2019: Mukjizat Doa
Posting 2016: Berdoa Kapan-kapan
