Syukur

Published by

on

Pada umumnya orang berterima kasih karena menerima sesuatu, entah sesuatu itu ia harapkan atau tidak ia harapkan. Tentu, ada orang yang tak tahu berterima kasih, tetapi ada juga yang terima kasihnya cuma basa-basi yang lahir dari kepentingan transaksional, kebiasaan, sopan santun. Singkatnya, pojok ekstrem dari orang tak tahu berterima kasih ialah mereka yang melontarkan terima kasih dari kepentingan ideologisnya.

Apakah sopan santun itu jelek? Ya tidak, atau sekurang-kurangnya tidak selalu. Akan tetapi, kalau itu jadi ideologi, bisa jadi bikin hidup lebih runyam. Anda tahu kan ada saja pejabat yang mengedepankan ideologi sopan santun di atas kritik? Ya, mengritik itu boleh-boleh saja, tapi pakailah sopan santun! Dia lupa bahwa yang korup dan omongannya tanpa data dan ngawur sebagai pejabat publik itu tidak pakai sopan santun! Ini contoh standar ganda: elu tu ya pada sopan kalo mau kritik! Biar gua aja yang gak sopan! Contoh tuh demo yang sopan.

Sekali lagi, apakah demo yang sopan itu jelek? Sama sekali tidak! Akan tetapi, ada kalanya demo yang sopan itu jadi ideologi dan ujung-ujungnya tidak transformatif karena yang didemo tidak punya tanggung jawab moral. Dalihnya tampak mulia: kalau saya mundur, bukankah itu malah bukti saya lari dari tanggung jawab? Orang seperti ini mungkin kehilangan sensibilitas moral seperti yang ditunjukkan oleh pejabat-pejabat publik di negara maju.

Kisah yang disodorkan teks bacaan hari ini bukan perkara orang mesti tahu berterima kasih. Yesus sudah sejak awal menegaskan ketulusan. Ngapain dia malah ribet mempersoalkan sembilan orang yang tidak tahu berterima kasih? Lagi pula, apakah poinnya ialah soal mereka tidak berterima kasih?
Tidak begitu, Ferguso. Jelas digambarkan Yesus terheran-heran kok malah yang bersyukur itu malah orang kafir? Bukankah kafir itu berarti juga tak tahu bersyukur?

Yesus tidak sedang memberi nasihat supaya orang tahu berterima kasih, tetapi menggarisbawahi bahwa seyogyanya orang bersyukur: memuliakan Allah. Ini bukan pertama-tama bahwa ia mendapatkan sesuatu, melainkan bahwa Allah itu nyata; Allah itu satu-satunya yang pantas disembah seperti ditegaskan oleh Naaman, orang asing yang mendapat sentuhan Allah lewat nabi Elia.

Penyakit kusta dalam teks Injil hari ini kiranya tak perlu semata dilekatkan pada sakit lepra zaman sekarang, tetapi lebih-lebih dimengerti sebagai kondisi kemanusiaan yang sekarang ini tercabik-cabik karena etika ndhasmu. Semua kebolak-balik sedemikian rupa sehingga sensibilitas moral makin langka. Piye jal kalau Anda diyakinkan oleh pemuka agama Anda untuk korupsi asalkan tujuannya baik!

Jika tujuan menghalalkan cara, jangan harap tahun depan masuk Piala Dunia. Saya mengingatkan saja: bukan hanya tujuan yang perlu kita kaji, melainkan motivasi dan prosesnya. Modal etika ndhasmu adalah wujud orang yang tahu berterima kasih tanpa ketulusan. Semua jadi kalkulasi kepentingan.

Syukur, tidak bergantung pada apa yang diperoleh, tetapi pada relasi yang tulus dengan Dia yang Emmanuel. Semoga Anda dan saya semakin memiliki sensibilitas bahwa Dia selalu hadir dan kehadiran-Nya selalu transformatif, alih-alih pro status quo. Amin.


MINGGU BIASA XXVIII C/1
12 Oktober 2025

2Raj 5,14-17
2Tim 2,8-13

Luk 17,11-19

Posting 2022: Sepuluh Persen
Posting 2019: Tuna Sathak Bathi Sanak
Posting 2016: Katanya Siap, Kok…

Previous Post
Next Post