Ikon

Published by

on

Sebagian orang yang punya jabatan publik itu memang bisa jadi seperti komedian. Mereka bisa melucu meskipun tujuannya bukan untuk menghibur publik. Kalau sebagian komedian menjadikan lawakan sebagai profesi, sebagian pejabat melawak untuk mempertahankan posisi. Untuk itu, mereka tak segan-segan membawa Tuhan dalam lawakan defensif mereka.

Ini contoh dagelan yang bisa muncul di media: manusia berusaha, Tuhanlah yang menentukan. Lha kalau memang Tuhan yang menentukan, ngapain manusia berusaha, kan? Gak usahlah buang-buang waktu dan duit untuk menunggu ketentuan Tuhan; semua Dia sudah atur, sampai papan skor atau papan saham!

Lha ya kan justru karena manusia tidak tahu apa yang ditentukan Tuhan, Rom, makanya manusia mesti berusaha.
Ya, kalau memang gitu, usahanya juga jangan lupa bawa-bawa Tuhan dong: waktu menentukan program, memilih pelatih, menentukan pemenang tender, memilih skema kerja sama, mempersiapkan infrastruktur, dll.  Mosok ketika prosesnya Tuhan gak cawe-cawe, lalu saat hasilnya ancur, njuk dengan entengnya bilang “Manusia bisa berusaha, Tuhan juga yang menentukan!” Kalau Tuhan ini tak ikut usaha tapi Dia menentukan, apa itu namanya? Komisaris, direktur, presiden, owner, atau apa? Seberapa monsterkah Tuhan seperti ini?

Teks bacaan hari ini menggarisbawahi bahwa pada akhirnya tanda yang diminta kebanyakan orang yang tidak menerima pewartaan Kabar Gembira adalah sebuah idol dan ditegaskan oleh Yesus bahwa kepada generasinya tidak ada tanda. Sudah ada ikon yang jauh lebih besar dari Yunus tetapi ikon itu tak akan tertangkap oleh siapa saja yang membawa-bawa Tuhan untuk lari dari tanggung jawab dengan slogan “Tuhanlah yang menentukan”.

Semoga Anda dan saya tidak diberi karunia untuk menentukan apa-apa saja sendirian dan setelah hasilnya amburadul njuk bilang “Manusia berusaha, Tuhan menentukan”. Semoga Anda dan saya diberi karunia untuk menjadi ikon kerahiman Allah yang adil. Amin.


SENIN BIASA XXVIII C/1
13 Oktober 2025

Rm 1,1-7
Luk 11,29-32

Senin Biasa XXVIII C/1 2019: Entah Apa Yang Merasukimu
Senin Biasa XXVIII A/1 2017: Percaya pada Sein?
Senin Biasa XXVIII B/1 2015: Apa Pun Agamanya

Previous Post
Next Post