Happy kok Maksa

Bacaan pertama dari Kitab Yeremia menyodorkan seruan Yeremia setelah ia mulai ‘menarik diri’ dari kerja publiknya. Bisa dimaklumi; kerja cuma-cuma untuk membantu orang banyak tetapi malah terus menerus mendapat cemooh dan bahkan perlawanan! Mana tahan!!! Mengeluhlah Yeremia, tetapi syukurlah ia mengeluh kepada Tuhan; ia mencari dan menemukan tempat ‘sampah’ yang tepat.

Kerendahan hati Yeremia terletak pada autentisitasnya: meskipun mengeluh, melihat aneka kenyataan faktual yang tak cocok dengan pewartaannya, ia tetap mengakui kata hatinya: apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; Sabda-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku (Yer 15,15).

Begitulah Kerajaan Allah diumpamakan: seperti seorang yang menemukan mutiara berharga dan menjual seluruh hartanya demi mendapatkan mutiara itu. Karakter kerohanian kristiani memang kurang lebih seperti itu: upaya mencari dan menemukan mutiara, yaitu Sabda Allah, kehendak Allah, atau Kristus itu sendiri bagi hidupnya. Kegembiraan umat beriman semata-mata berasal dari penemuan seperti ini. Memang menggembirakan menjadi penemu listrik, penemu mesin uap, penemu teknologi yang dihargai banyak orang; tetapi kegembiraannya tak akan lebih heboh daripada penemuan kehendak Allah bagi hidup seseorang.

Penemuan mutiara seperti ini lebih eksistensial sifatnya dan menggerakkan seluruh hidup seseorang. Betapapun hidupnya bisa tampak hancur lebur, tetapi karena hidupnya itu seperti harta yang hendak dijualnya untuk memperoleh mutiara berharga itu, ia tetap happy. Kebahagiaan ini tidak menghapus aneka rasa kecewa dan bahkan memuat juga aneka keluhan kepada Tuhan. Orang boleh kecewa, tetapi tetap happy karena Tuhan yang ditemukannya jauh lebih berharga. Orang boleh sedih, tetapi tetap happy karena Tuhan jauh lebih besar dari aneka perasaan orang.

DSC05689

Orang beriman adalah orang yang autentik, yang mengakui kekalahan, kelemahan, kesalahan, kepicikan, kebodohannya dan tetap menaruh harapan dan kegembiraannya pada Sabda Allah. Itulah yang dimaksud sebagai konsolasi dan konsolasi inilah yang bisa jadi tolok ukur apakah seseorang sedang dalam proses menjual harta demi mutiara yang paling berharga dalam hidupnya. 


RABU BIASA XVII
30 Juli 2014

Yer 15,10.16-21
Mat 13,44-46

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s