Layu Sebelum Berkembang? Plis Deh

Hari ini Gereja Katolik memperingati Santo Ignasius dari Loyola, seorang pencari Tuhan yang dalam suatu tahap hidupnya mengerti bahwa Allah campur tangan dalam hidupnya, mendidiknya seperti seorang guru mendidik muridnya. Kutipan Kitab Yeremia hari ini lebih keras lagi mengumpamakan Allah sebagai tukang periuk yang bisa dengan bebas meliak-liukkan tanah seturut bentuk yang diinginkannya. Akan tetapi, Allah rupanya tidak sewenang-wenang juga karena manusia jelas lebih dari seonggok tanah liat: Ia sungguh-sungguh menghargai kebebasan manusia!

Sayang, penghormatan martabat manusia itu justru kerap kali luput dari manusianya sendiri. Barangkali justru karena kepicikan manusia, orang merasa punya kemampuan seperti Allah sendiri dan bisa sewenang-wenang menghakimi manusia lainnya dan merasa berhak bahkan untuk menghilangkan nyawa sendiri maupun hidup orang lain. Perumpamaan hari ini mengenai Kerajaan Allah semestinya membuka wawasan umat beriman bahwa tugas Gereja di dunia ini ‘hanyalah’ menjadi pukat, menjadi jaring bagi sebanyak-banyaknya jenis ikan, jenis orang. Seleksinya nanti kalau jaring itu sudah ikut berlabuh. Siapa yang menyeleksi? Jelas bukan pukatnya sendiri!

Tidak ada yang bisa mengetahui talenta sesungguhnya yang diberikan Tuhan kepada setiap ‘ikan’, dan itulah sebabnya kita tidak berhak menilai, mengkategorikan dan memilih ‘ikan’: Tuhanlah yang akan melakukannya kelak. Selama peziarahan di dunia ini, orang bersukacita bersama semua saudara karena semua tertangkap oleh Allah dalam jaring(an) yang sama. Kiranya ada baiknya saling bantu untuk menjadi ikan yang ‘baik’ sebelum penyortiran, dan bukannya malah berpretensi sebagai asisten bos yang sewenang-wenang!

Ignatius-Loyola

Santo Ignasius menyediakan bantuan Latihan Rohani yang berasal dari kebebasan batinnya, dan sayangnya bantuan itu tak banyak faedahnya jika orang yang menerimanya tidak memiliki kebebasan batin. Ia menyodorkan metode pemeriksaan batin yang berguna untuk membebaskan diri dari blokade roh jahat dengan aneka kelekatan yang mengasyikkan. Semakin orang memelihara kelekatan tak teraturnya (tak tertata seturut azas dan dasar), semakin hidup orang mengkerut, laksana bunga yang tak pernah mekar atau malah layu sebelum berkembang….


KAMIS BIASA XVII A
Peringatan Wajib St. Ignasius Loyola
31 Juli 2014

Yer 18,1-6
Mat 13,47-53

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s