Afirmasi via negasi

Barangkali hidup ini adalah rangkaian jawaban “ya” dan “tidak”, dan kebanyakan dari rangkaian itu ialah jawaban “tidak” terhadap panggilan kebenaran ilahi. Setelah Yeremia menyampaikan nubuatnya, para imam dan nabi mereka serta rakyat justru menyodorkan ancaman bahwa Yeremia harus mati! Ini tak jauh berbeda dengan pengalaman mudik Yesus; bukannya mendapat sambutan melainkan cemoohan, ketidakpercayaan; singkatnya, penolakan di kampung sendiri. Romero, Martin Luther King, para yesuit yang dibantai di Salvador dan belum lama ini di Siria, dan banyak martir yang tak terkenal menjadi bukti bahwa penolakan terhadap kebenaran dan kesucian hidup lebih mainstream daripada aneka penghargaan (entah formal atau tidak) terhadap para pejuang kehidupan.

Mungkin hidup ini memang rangkaian dominasi jawaban “tidak”. Sejak balita bisa jadi anak menolak apa saja yang dimintakan orang tua untuk dilakukannya. Anak-anak ini mengafirmasi diri justru dengan menegasi (kata dasar bukan tegas, melainkan negasi dengan vokal ‘e’ pada kata ‘mega’; artinya cari sendiri ya). Yang dinegasi itu rupanya bukan tindakan yang diminta darinya untuk dilakukan, melainkan pertama-tama ditujukan kepada sosok yang memintanya untuk melakukan sesuatu. Jadi, sebagai contoh, sebetulnya bukan anak tidak bisa atau tidak mau makan, melainkan anak tidak mau tunduk terhadap pribadi yang memerintah alias tidak patuh kepada otoritas di luar dirinya. Sebetulnya itu ya tidak jelek-jelek amat, orang toh perlu punya harga diri, tetapi kalau terlalu banyak afirmasi diri dengan negasi terhadap otoritas orang lain, ada bahaya orang jatuh pada arogansi bahkan terhadap Allah. Mekanisme itu bisa jadi pola hubungan orang dengan Allah sendiri.

faithful obedience

Celakanya, memang cara berpikir orang lebih condong berbeda dari cara berpikir Allah (bdk. Yes 55,8); pertama-tama karena orang hanya berorientasi pada apa saja yang secara instingtif menyenangkan kecenderungan fisik dan psikologisnya. Karena itu, tak mengherankan bahwa masyarakat yang menegasi cara pikir Allah menjadi masyarakat yang tak manusiawi justru karena lebay dengan kemanusiawiannya. Jika di hadapan Allah seseorang lebay, di hadapan sesama dia juga lebay. Kapan orang lebay di hadapan Allah? Saat ia mengafirmasi dirinya melalui negasi terhadap ‘hukum’ Allah sendiri (yang senantiasa terus dicari dan dirumuskan secara baru oleh manusia sepanjang zaman)….


JUMAT BIASA XVII A
Peringatan Wajib St. Alfonsus Maria de Liguori
1 Agustus 2014

Yer 26,1-9
Mat 13,54-58

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s