Yesus Beristri, Emang Gue Pikirin?

Mau tahu salah satu bahan pertentangan antara agama Katolik dan Protestan? Teks Injil terpilih untuk hari ini adalah salah satunya. Di situ diindikasikan adanya saudara-saudari Yesus. Lha, yang Katolik memahami saudara-saudari itu seperti kalau kita menangkap sebutan saudara terhadap orang satu marga, saudara sepupu, saudara sekampung, saudara seiman, dan sejenisnya. Nah, yang Protestan memahami atribut saudara-saudari Yesus itu sebagai adik-adik kandungnya. Pada masa panas-panasnya pertentangan itu, kedua kubu itu saling menghujat, tetapi jelas kalau kita lihat dari segi kejiwaan saja, sebetulnya itu problem sederhana. Orang butuh pembenaran diri atas pilihan-pilihan sikap dan tindakannya.

Orang Katolik memegang ajaran keperawanan Maria. Orang Protestan tidak punya perangkat ajaran Gereja mengenai Maria, apalagi yang dirumuskan sebagai dogma dan dirayakan dalam liturgi (Maria diangkat ke surga, Maria Perawan dan Bunda Allah…. siapa juga yang pernah lihat, mana ada Allah kok punya ibu, bla bla bla). Nah, logisnya, kalau orang tidak menerima keperawanan Maria, dia harus mengatakan bahwa Maria punya anak lagi setelah melahirkan Yesus dong! Nah, akibatnya, atribut ‘saudara-saudari Yesus’ itu harus ditangkapnya sebagai saudara kandung. Sesederhana itu. Ini cuma utak-atik-otak. De facto, tak ada bukti fisik yang meyakinkan apakah Maria ibu Yesus itu perawan atau tidak!

Entah Maria perawan atau tidak, entah Yesus berambut gondrong atau tidak, entah Yesus punya istri atau tidak, itu suka-suka dia! Yang jelas, kalau saya mau perawan, itu bukan karena Maria perawan dan Yesus perjaka sampai tua. Kalau Anda mau tidak beristri, juga bukan karena Yesus tak punya istri. Saya kok yakin Yesus tidak akan senang jadi pemimpin kawanan bebek! Pembenaran diri atas pilihan sikap dan tindakan kita tidak sewajarnya dilandaskan pada apa yang dibuat orang lain (betapapun orang lain itu adalah Yesus, atau orang besar lainnya). Pembenaran macam itu berlaku untuk anak-anak atau sosok Sinchan.

Landasan pilihan sikap dan tindakan umat beriman senantiasa, sekali lagi, adalah relasi dengan sosok yang diimani. Tanpa itu, takkan ada mukjizat, orang tinggal dalam menara otaknya (yang toh runtuh jika syarafnya terkena serangan). Dikatakan dalam teks hari ini: karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mukjizat diadakannya di situ. Relasi kepercayaan iman tidak dibangun di dunia otak, tetapi dalam pengalaman eksistensial orang.

Ignasius dari Loyola, misalnya, tahu betul bahwa dalam Kitab Suci memang tidak ada kisah penampakan Yesus kepada Bunda Maria. Akan tetapi, klop dengan mission statement penulis Injil (Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya (Yoh 20,30-31 ITB), ia meyakini bahwa Yesus pertama-tama menampakkan diri kepada ibunya sendiri. Keyakinan ini tentu muncul dari relasi atas dasar pengalamannya dengan sosok Maria, tetapi kiranya juga dengan sosok ibunya sendiri.

Entah Yesus menampakkan diri pertama-tama kepada Bunda Maria atau tidak, pasti itu bukan poin yang hendak dipertaruhkan oleh Ignasius. Poin Ignasius sederhana sekali: berpikirlah dengan kaidah lumrah, hidup nan luas ini takkan bisa dimuat oleh Kitab Suci apa pun. Yang penting kaidah lumrah itu benar-benar mengantar orang pada pelanggengan relasi personal dengan Allah sendiri. Kalau mau ngoyoworo dengan dogma ya sumonggo, tetapi itu tak membuktikan apa-apa. Kalau saya sih mending hargai saja utak-atik-otak orang lain dengan segala konsekuensi pilihannya. Pokoknya, apa pun utak-atiknya, kita toh perlu bersama-sama membela kehidupan yang diciptakan Allah, yang rusak oleh kemiskinan, ketidakadilan, dan tipisnya iman. Itu yang diharapkan Yesus: supaya orang semuanya bisa hidup dan bukan sekadar survive, melainkan hidup dalam keutuhan (Yoh 10,10).

Tuhan, bantulah aku supaya dapat hidup seturut roh yang menggerakkan Ignatius dan orang-orang suci lainnya. Amin.

(Nota bene: dalam litani para kudus pada perayaan tahbisan imam SJ dimasukkan di dalamnya juga sosok seperti Munir, Gus Dur, dan lain sebagainya. Ini indikasi bahwa roh yang menggerakkan Ignatius diyakini bisa bekerja kepada siapa saja yang bekerja untuk memperjuangkan keadilan sosial, menentang fundamentalisme agama, perusakan ekologi)


HARI JUMAT BIASA XVII B/1
Peringatan Wajib St. Ignatius dari Loyola
31 Juli 2015

Im 23,1.4-11.15-16.27.34b-37
Mat 13,54-58

Posting Tahun Lalu: Afirmasi via Negasi

5 replies

  1. Romo, permenungan yang mengelitik nurani dengan cara yang cerdas.

    By the way, mengenai litani para kudus dalam misa tahbisan imam SJ itu, akan sangat mencerahkan bila Romo berkenan sharing kisah mengenai itu.

    Semangat apa yang menjadi latar belakang hingga masuknya orang-orang hebat dan “kudus” asli Indonesia itu di dalam litani para kudus tersebut. Serta mungkin kisah singkat dimana hal tersebut dilakukan.

    Semoga berkenan Mo.

    Like

    • Mas Yulianus, banyak terima kasih sudah berkenan mampir. Dalam dua minggu ini kiranya saya akan mengalami kesulitan untuk koneksi internet. Usulan mas Yulianus saya pertimbangkan, mungkin akan saya sisipkan pada posting2 yang cocok. Saya sendiri tidak terlibat dalam penyusunan teks liturgi tahbisan, tetapi memang litani para kudus yang memuat nama2 pejuang ham kontemporer itu sudah ada sejak awal milenium ini, hehe… Salam.

      Like

      • Siap Romo. Terima kasih atas tanggapannya. Semoga segera dapat kembali ke “peradaban” 🙂 Semoga suatu hari nanti saya dapat sowan ke Kolsani. Salam buat Frater Dam dan Frater Eron bila bertemu. Saya sedang menunggu jadwal frater-frater itu kembali dari Klaten juga.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s