Musuh Bersama

Konon, the enemy of my enemy is my friend. Menurut Wikipedia, ungkapan itu merupakan ancient proverb which suggests that two opposing parties can or should work together against a common enemy. Di tahun 1998, Orde Baru di bawah Soeharto menjadi musuh bersama yang menyatukan banyak elemen mahasiswa Indonesia. Belakangan, mencari musuh bersama tidak gampang karena dalam iklim keterbukaan dan kebebasan ini siapa saja bisa menjadi apa saja, bergantung dari mana aliran dananya.

Sosok Yesus juga menjadi musuh bersama bagi aneka kelompok orang Yahudi. Bacaan yang diambil hari ini adalah lanjutan kisah kebangkitan Lazarus. Setelah Lazarus dibangkitkan, sekelompok orang kemudian percaya kepada Yesus, tetapi sebagian yang lainnya melaporkan peristiwa itu kepada imam-imam kepala dan kaum Farisi. Mereka pun segera berkumpul melakukan sidang darurat. Kelihatan bahwa mereka sebenarnya mengkhawatirkan aneka dampak perbuatan Yesus dan sudah kewalahan mengantisipasinya. Pengakuan mukjizat Yesus tidak mendorong mereka untuk percaya kepada Yesus, tetapi untuk mengambil langkah represif. Maklumlah, mereka takut kehilangan kuasa.

Wacana hukuman mati diintensifkan. Tak ada Peninjauan Kembali (atau ada, tapi ditolak ya?). Kayafas justru menegaskan pelenyapan Yesus dari muka bumi. Ia punya lebih dari satu alasan untuk hukuman mati itu. Pemerintahan Romawi selama ini sudah sangat toleran terhadap negeri jajahan mereka itu: punya raja sendiri, punya otonomi terhadap tempat ibadat, punya Mahkamah Agama sendiri, punya mata uang tanpa gambar kaisar. Ini adalah toleransi yang tinggi dan Kayafas melihat bahwa kalau saja sampai terjadi keributan di antara mereka, habislah mereka semua karena Roma pasti akan turun tangan menumpas apa saja yang berbau-bau pemberontakan. Maka dari itu, daripada jauh lebih banyak orang menjadi korban, mendingan satu orang ini aja mati!

Begitulah, kelak Yesus benar-benar mati demi hidup banyak orang. Teks Injil Yohanes ini mempersiapkan disposisi sengsara dan penyaliban Yesus. Secara teologis, teks ini bermakna dalam: tidak hanya menyatakan bahwa Yesus mesti mati, tetapi juga menegaskan konteks dan tujuan kematiannya. Ia mati demi mengumpulkan kembali umat Allah yang tersebar, tercerai berai di seluruh penjuru negeri (lih. ayat 52). Yang percaya dan tak percaya kepada Yesus berkumpul (dan meskipun tidak semua orang menjadikan Yesus sebagai musuh bersama) mereka yang percaya kepadanya pun tampak tak berdaya di hadapan kekuasaan nan korup yang menobatkannya sebagai musuh bersama!

Bebaskanlah kami, ya Tuhan, dari aneka kompromi, taktik, dan strategi yang berisiko mengenyahkan kebenaran universal dari muka bumi ini.


HARI SABTU PRAPASKA V
28 Maret 2015

Yeh 37,21-28
Yoh 11,45-56

Posting Tahun Lalu: Divide et Impera, Hari Gini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s