Catatan untuk Seksi Liturgi (4)

Tulisan ini saya buat bertepatan dengan peringatan wajib Santo Yustinus, martir pada abad ke-2 yang di sana sini dijadikan acuan untuk bahasan mengenai Liturgi Gereja Katolik. Akan tetapi, sebelum masuk dalam pokok persoalan, supaya kesalahpahaman bisa diminimalisir, saya mau menegaskan beberapa posisi saya:
(1) Saya imam Gereja Katolik dan happy dengan hidup yang saya jalani saat ini dan saya menaruh hormat kepada seluruh pembesar saya (rektor, provinsial, uskup, kardinal, paus) tanpa kehilangan kepercayaan diri bahwa dengan baptisan yang sama ya jadi sederajad dengan mereka meskipun fungsi yang diemban berbeda.
(2) Liturgi bukan kompetensi saya, meskipun saya pernah mengenyam kuliah liturgi, tetapi saya menaruh perhatian karena di sana sini ada ‘keributan’ mengenai ini itu berkaitan dengan tata liturgi.
(3) Saya tidak memiliki sikap anti terhadap aneka perayaan Liturgi (Misa Latin, misa kharismatik, misa kaum muda, misa anak-anak, misa Jawa, dlsj) meskipun tidak berarti saya merasa nyaman terhadap aneka perayaan Liturgi itu.
(4) Saya juga tidak anti Tata Perayaan Ekaristi atau aturan-aturan lainnya dalam Liturgi. Saya menghargai tatanan, tetapi tak bisa menolak bahwa Roh pun bisa melampaui aneka tatanan yang dibuat oleh manusia yang punya kerapuhan.
(5) Agenda saya sederhana: menghindarkan umat dari macam-macam bentuk fundamentalisme, juga dalam hal Liturgi (klaim bahwa hanya misa seperti misa tertentulah yang paling sakral, misalnya), yang bisa menghambat umat beriman dalam berelasi dengan Allahnya. Fundamentalisme tidak eksklusif milik agama tertentu.

Catatan kali ini berkenaan dengan teks Yustinus yang memberi kesaksian bagaimana jemaat Kristiani pada abad awal perkembangan agama Kristiani itu berdoa bersama dalam Ekaristi. Ini saya sampaikan sebagai informasi belaka (meskipun saya tentu punya kepentingan juga dalam menyajikan informasi). Yang saya sodorkan di sini cuma bagian yang sangat sepele dari tulisan Yustinus Martir yang disitir dalam Katekismus Gereja Katolik: Tulisan-tulisan para Rasul dan kitab-kitab para nabi dibacakan, sejauh waktu memungkinkannya.

Saya tertatih-tatih membaca teks asli Yustinus, tetapi syukurlah ada terjemahannya. Terjemahan yang paling saya percaya adalah terjemahan Bahasa Latin dan Italia. Bagaimana bunyinya?
Et commentaria Apostolorum aut scripta Prophetarum leguntur, quoad licet per tempus. (Latin)
Si leggono le memorie degli Apostoli o gli scritti dei profeti, finché il tempo consente. (Italia)

Bagaimana terjemahan Indonesianya? Silakan lihat pada Katekismus Gereja Katolik yang dalam Konstitusi Apostolik “Fidei Depositum“, 25 Juni 1992, ditegaskan oleh Paus Yohanes Paulus II sebagai “alat yang sah dan legitim dalam pelayanan persekutuan Gereja, selanjutnya sebagai norma yang pasti untuk ajaran iman“. Dalam edisi cetak (1995) yang ada di perpustakaan sebelah rumah saya kalimat itu diterjemahkan seperti tadi sudah saya tuliskan. Situs Vatikan yang berbahasa Inggris pun memuat terjemahan yang sama dengan KGK: The memoirs of the apostles and the writings of the prophets are read, as much as time permits. Sementara pada buku cetak mengenai Yustinus Martir berbahasa Inggris (Leslie William Barnard, 1997) dituliskan: And the memoirs of the Apostles or the writings of the prophets are read, as long as time permits. Di situs ini pun dituliskan seperti itu.

Di mana letak perbedaan teks Inggris, Indonesia, Italia, dan Latin?
Pada kata “DAN” yang menghubungkan ‘tulisan-tulisan para rasul’ dan ‘kitab-kitab para nabi’. Kata hubung ‘dan’ dipakai dalam terjemahan Inggris situs Vatikan dan KGK.

Dalam upaya tertatih-tatih, saya memang menemukan banyak kata hubung καὶ (baca: kai, berarti ‘dan’) dalam bahasa Yunani tetapi itu tampaknya tidak menghubungkan ‘tulisan para rasul’ dan ‘kitab para nabi’, melainkan sebagai penghubung kalimat. Bahasa Latin membantu saya. Kata hubung yang dipakai ialah “AUT” yang berarti ‘atau’ (dekat dengan bahasa Indonesia bukan, cuma kurang satu ‘a’ dan memindah ‘u’ ke belakang?). Bahasa Italia meyakinkan saya. Kata hubung yang dipakai ialah ‘O‘ yang juga berarti ‘atau’ (dekat dengan bahasa Jakarta bukan, cuma tinggal menghilangkan ‘at’ sebelum ‘o’?). Jadi, semestinya buku KGK menuliskan: Tulisan-tulisan para Rasul atau kitab-kitab para nabi dibacakan, sejauh waktu memungkinkannya.

Ngapain sih kata hubung gini aja dibahas, Romo?
Iya, saya juga bertanya-tanya: ngapain sih bacaan pertama misa Hari Minggu cuma satu saja njuk diributkan dan bawa-bawa nama Yustinus Martir segala? Lha wong jelas Yustinus saja mengatakan bahwa sebelum kotbah (pemimpin perayaan) dibacakan ‘tulisan para rasul’ ATAU ‘kitab para nabi’. Itu pun dengan catatan: sejauh waktu memungkinkan!

Bahwa kemudian ditetapkan dua bacaan dalam Liturgi Sabda, tentu saja ini perlu kita terima sebagai bagian dari tatanan umum, yang tak perlu juga diributkan. Gereja Katolik tentu bermaksud baik: supaya umat berkesempatan mendengar Sabda Allah seluruhnya dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam lingkaran liturgi. Tetapi maksud baik itu tidak perlu dibakukan sebagai kriteria benar salahnya umat beriman merayakan Ekaristi (itu jadi formalisme, legalisme). Bukankah imam masih bisa menyampaikan dalam homilinya pokok Kitab Suci yang tak dibacakan dalam Liturgi Sabda (tetapi yang diandaikan sudah dibaca oleh umat beriman yang mempersiapkan diri baik-baik untuk merayakan Ekaristi)? Bukankah dalam reksa pastoralnya imam bisa merancang suatu pendalaman Kitab Suci dalam ibadat sabda?

Ada alternatif yang bisa ditempuh untuk mengakomodasi niat baik Gereja dan sangatlah tersiksa Roh yang dikerangkeng dalam apa yang disebut legalisme. Jika umat ‘beriman’ happy dengan legalisme, Gereja  kehilangan Rohnya.

11 replies

  1. “τά ἀπομνημονεύματα τῶν ἀποστόλων, ἤ τά συγγράμματα τῶν προφητῶν ἀναγινώσκεται μέχρις ἐγχωρεῖ.” Memang, St. Yustinus menggunakan kata “ἤ” (atau).

    Liked by 1 person

  2. Sejujurnya terlalu banyak perubahan pada jenis misa juga nggak bagus. Kenapa kita terlalu menganggap hal yg dinamis itu bagus. Kadang saya iri dengan agama Islam, mereka punya peraturan yg dari dulu mereka pegang dan tidak ada yg mengubah itu, dan hasilnya pun bagus. Mereka bisa doa secara khusuk.

    Like

    • Bpk. Probo yang baik, terima kasih berkenan mampir. Memang keterangan ‘terlalu’ itu bertendensi memperburuk (bahkan hal yang baik) dan karena tolok ukur ‘terlalu’ itu bukan perkara mudah, justru dinamikalah yang menjadi indikator bagi gerakan Roh supaya orang tidak jatuh pada ‘terlalu’ yang satu atau ‘terlalu’ yang lainnya. Sejarah liturgi kiranya menunjukkan suatu dinamika. Mengenai perayaan Ekaristi sendiri, rasa saya tidak ada terlalu banyak perubahan: sejak abad ke-2 struktur dasarnya ya begitu itu, Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi (dan yang utama jelas Liturgi Ekaristinya). Perubahan paradigmatik terjadi saat Konsili Vatikan II: para uskup dan teolog menyadari bahwa Gereja tak bisa lagi dimengerti melulu sebagai hirarki. Ini membawa konsekuensi juga pada cara perayaan Ekaristi: imam tidak lagi membelakangi umat (tapi ya manusia… ada saja yang masih tetap menginginkan umat dibelakangi imam).
      Soal khusyuk tidaknya, saya kira ini lebih berkenaan dengan keterarahan atau sikap batin orang yang berdoa daripada keseragaman eksternal (yang bisa diatur dengan aneka rubrik); sekurang-kurangnya itu yang saya dapat dari Wikipedia mengenai kata khusyuk.
      Salam,

      Like

  3. Apakah Romo yakin bhw perubahan yg dilakukan adalah kehendak Allah dan Roh? Dari mana anda tahu bahwa Roh merasa tersakiti?
    Mengapa kebahagiaan utk taat justru anda katakan Gereja kehilangan Rohnya. Saya bahagia bisa taat pd aturan2 pemerintah…bahkan saya salut pd penduduk Singapura yg begitu tertib. Demikian juga pd hukum Gereja. Dengan sangat bahagia saya melaksanakannya dan saya berusaha menghayati betul apa yg saya lakukan. Apa berarti saya termasuk dalam golongan “beriman”?

    Like

    • Ibu Gracia, terima kasih berkenan mampir dan berkomentar. Bahasa kita ini memang terbatas. Roh kiranya tak tersakiti seperti kita tersakiti, tetapi mohon Ibu renungkan dulu ya apakah ketaatan kepada Roh itu bisa diibaratkan dengan ketaatan kepada hukum. Menurut saya, konsisten dengan kepercayaan kita bahwa hukum terutama adalah hukum kasih, dan Allah adalah kasih, ketaatan kepada Roh jauh lebih sulit daripada ketaatan terhadap aturan. Maaf saya tidak bisa berpanjang lebar; kalau Ibu berkenan membaca beberapa tulisan dalam blog ini, orientasi dasarnya memang ke arah pendalaman iman; bukan pendalaman hukum. Mungkin suatu saat akan saya tulis soal ‘ketaatan’ ini. Terima kasih sudah memberi bahan. Salam.

      Like

  4. “pada cara perayaan Ekaristi: imam tidak lagi membelakangi umat (tapi ya manusia… ada saja yang masih tetap menginginkan umat dibelakangi imam)” … knp tampaknya romo sinis sekali dgn komunitas yg mencintai misa latin tradisional, yg komunitasnya mulai banyak di indonesia… padahal yg namanya Imam bisa jg dimaknai sbgai pemimpin, dan wajar kalo imam berada a didepan dan umat dibelakangnya, sdgkan kalo imam dan umat berhadap2 hadapan trus knp ? imamnya suka ngeksis gitu? egaliter gitu? tdk hierarkis? maaf itu contoh saja kalo kita mau menanggapi sesuatu dgn sinis, kalo org sinis bahkan bisa mengatakan menghadap salib dan tabernakel = menghadap tembok… hehehehe…. semoga tetap bisa damai dan tidur nyenyak romo…

    Like

    • Bapak Satrio yang baik, terima kasih atas harapannya. Sejauh ini harapan itu senantiasa terpenuhi. Nanti malam mungkin lain soal karena ada final Liga Champions. Terima kasih juga penilaiannya. Silakan menempatkan saya pada label yang Bapak inginkan dan ampunilah saya kalau kalimat yang Bapak kutip itu menimbulkan reaksi tertentu dalam chemistry Bapak. Salam dan doa,

      Like

  5. sy suka baca tulisan2nya, krn byk ironika yg real di dpn mata, klo kita tdk berakar pd makna berbuat kasih, menjalankan ritual sebatas harafiah teks tua (yg terjemahannya pun bisa meleset) semua bisa jadi meaningless, mungkin bsa request saja next time ada bahasan ttg pengakuan dosa dlm hubungannya dg ritualisme dan perbuatan kasih? trims 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s