Aroma Cinta

Nabi yang sejati melihat dunia sebagaimana Allah melihat dunia. Kalau belum bisa jadi nabi sejati, ada baiknya orang mencecapi aroma cinta yang dihirup pendosa. Dengan aroma ini, pelan-pelan orang bisa melihat hidup dengan cara Allah melihat kehidupan ini. Aroma cinta ini tak bisa dirasakan oleh orang-orang yang cuma basa-basi, yang terus menerus menyiarkan kepada dunia suatu refren: saya ini bukan orang suci, hidup saya berantakan, saya ini orang rendahan, masih muda, belum bijaksana, dan aneka bla bla bla yang lainnya. Pada diri orang-orang ini, aroma cinta malah bisa terblokade oleh perfeksionisme atau arogansi dirinya.

Dalam episode kecil hari ini, Yesus diundang makan oleh seorang Farisi. Tak sembarang orang berani mengundang makan seorang tokoh publik. Akan tetapi, bisa jadi orang Farisi ini punya pikiran bahwa ia dapat menampilkan kualitas terbaiknya di hadapan Tuhan dengan apa yang dimilikinya, konkretnya makanan yang disediakannya. Sebaliknya, seorang pendosa publik datang dan menyerahkan kualitas hidup terburuknya pada penilaian Yesus sendiri. Mencengangkan banyak orang, pendosa publik ini tidak hanya dibiarkan menyentuhnya, tetapi juga kemudian diampuninya!

Ini murni renungan, tak ada tafsir-tafsiran: jika orang mengklaim hidupnya adalah hidup bersama Allah, apapun rumusannya (AMDG kek, pembela Tuhan nek, hamba Tuhanlah, abdi Allah sekalipun), dan karena itu ia membanggakan materi yang dimilikinya, ia sedang menebarkan aroma kompetitif materialisme; ia menempatkan diri sebagai pemenang. Iman direduksi sebagai keindahan materi, yang tidak vital dan efektif. Hidupnya malah tidak bersama Allah.

Sebaliknya, seperti wanita pendosa itu, tak ada hal yang dibanggakan dari dirinya tetapi ia datang kepada Tuhan dan mengosongkan dirinya (secara simbolik dengan membawa minyak yang muahalnya setengah mati untuk mengurapi Yesus) dengan tindak hormat dan cinta yang rendah hati, yaitu pertobatan. Dari pertobatan itu muncul harum semerbak aroma cinta, yaitu pengampunan (dosa).

Itulah paradoksnya: aroma cinta, hidup bersama Allah, justru autentik ketika orang menerima hidupnya yang terus dilucuti (secara mental maupun material) dan dengan itu malah jadi efektif membangun Kerajaan Allah. Hidup beriman pada umumnya adalah hidup paradoksal. Semakin kaya dan semakin bersyukur, itu tak banyak artinya, bukan paradoks. Akeh tunggale. Punya luka, broken home (atau broken English), defisit materi, tetapi hidupnya memantik api orang lain untuk menebarkan proyek cinta Allah (bukan proyeknya sendiri), itulah hidup beriman yang sesungguhnya.

Ya Tuhan, aku bersyukur bukan atas apa yang kupunyai, melainkan atas kemurahan hati-Mu yang menghitung aku ke dalam sustainibility-Mu. Amin.


HARI KAMIS BIASA XXIV B/1
Peringatan St. Roberto Bellarmino (SJ)
17 September 2015

1Tim 4,12-16
Luk 7,36-50

Posting Tahun Lalu: Am I Really A Sinner?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s