Yakin Suka Love Story?

Kisah sengsara, kisah derita, kisah sedih, kerap menjerumuskan orang pada sentimen negatif: sedih, marah, sesal, rasa bersalah, dan sebagainya. Begitu juga kisah sengsara yang dinarasikan oleh para penulis Injil. Akan tetapi, umat beriman seyogyanya sadar betul bahwa kisah sengsara Yesus adalah sebuah narasi cinta, yang tak bisa direduksi sebagai sentimen-sentimen negatif tadi. Maka, masuk dalam pekan suci bermodalkan perasaan-perasaan negatif itu malah bisa jadi bikin gagal paham. Umat beriman perlu berfokus pada cinta yang memasuki tahap krusialnya.

Tahap krusial cinta ini oleh para penginjil dikisahkan secara berbeda, bergantung pada penekanan mereka. Tahun ini, Gereja Katolik menyodorkan Injil Lukas untuk melihat narasi cinta itu. Mari kita lihat pokok-pokok penting yang disodorkan Lukas secara lebih detail daripada sajian penginjil lainnya:

  1. Narasi cinta dimulai dari kerinduan akan perjamuan Paska dan pada saat perjamuan itulah Yesus menyatakan rumusan yang terus akan diulang dalam perayaan Ekaristi: Lakukanlah ini untuk mengenangkan aku! De facto, rumusan itu memang terus menerus diulang dalam ibadat Gereja Katolik, tetapi tentu saja bukan pengulangan rumusan yang diinginkan Yesus, melainkan hidup Yesus sendiri. Umat beriman diundang supaya seluruh hidupnya menjadi roti hidup bagi sesama, memberi kehidupan bagi orang lain. Menariknya, segera setelah undangan Yesus itu, Lukas menempatkan wacana siapa yang terbesar di antara para muridnya. Kenthir! Gurunya omong apa, muridnya ngobrolin apa! Yesus sadar akan wacana itu karena tidak cuma sekali diwacanakan. Ia menyodorkan dua jawaban: (1) survival of the fittest, yang kelak dirumuskan dalam teori evolusi, dan (2) service of the greatest, yang lebih direkomendasikan Yesus. Kebesaran orang terletak pada disposisinya untuk melayani banyak orang supaya hidup semakin bermartabat.
  2. Lukas menunjukkan poin penting doa untuk meminimalisir sifat destruktif dari godaan. Yesus menyarankan para muridnya untuk berdoa dan dia sendiri memang sedang bergumul mengatasi godaan roh jahat dengan doa yang begitu intens. Pada momen doa seperti inilah malaikat hadir memberikan penguatan kepada Yesus. Malaikat ini tak perlu ditangkap sebagai laki-laki bersayap seperti pada ‘gambar-gambar suci’. Ini adalah manifestasi roh yang memberi kekuatan konkret kepada Yesus; mungkin berupa pencerahan rohani, mungkin berupa insight yang memberi peneguhan pada pilihannya. Pokoknya, kekuatan itu munculnya dari doa yang intens, bukan dari kekuatan rasio belaka. Jadi, dalam doa yang intenslah kekuatan ilahi bisa ditimba. Doa yang intens bukanlah pendarasan rumusan, melainkan pemeliharaan terus-menerus dalam hati undangan yang diberikan Yesus, Sabda Allah. Tapi, kenapa Lukas menggambarkan ‘keringat darah’ ya, padahal Yesus mendapat kekuatan ilahi?
  3. Lukas menggambarkan penderitaan batin Yesus dalam tiga komponen penting: (1) pergumulan, pergulatan sebagai pertempuran yang memang begitu dahsyat karena konsekuensi kematian berdarah-darah, (2) hematidrosis atau hematohidrosis sebagai fenomen langka, dan (3) kesedihan para murid. Lukas menyodorkan cinta yang memuat kerapuhan, yaitu kelemahan para murid yang mengklaim cinta kepada Yesus, tetapi bahkan tak bisa memahami penderitaan yang dialami Yesus sendiri.
  4. Yesus menolak lingkaran kekerasan justru dengan merawat provokator kekerasan. Muridnya tak lagi bertanya apakah boleh memakai pedang, tetapi memang sudah angkat senjata. Yesus menolaknya, tetapi tragedi tak terhindarkan, jatuh korban, dan Yesus menaruh simpati pada korban, betapapun dia juga yang mengawali tindak kekerasan.
  5. Yesus mengerti betul cinta besar Petrus dan teman-temannya, sekaligus mengerti betapa rapuhnya mereka. Cinta besar, tenaga kurang. Tatapan Yesus terhadap Petrus yang telah menyangkalnya kerap digambarkan dalam film sebagai tatapan penghakiman,”Nah, betul kan apa yang kubilang: kamu pasti akan menyangkal aku, tak seperti yang kamu koar-koarkan.” Tatapan Yesus sejatinya ialah empati luar biasa terhadap kerapuhan para muridnya. Ia tahu bahwa di kedalaman hati manusia, orang menginginkan kebaikan, tetapi seringkali tak berdaya terhadap kekuatan jahat (ya karena kurang doa yang intens tadi). Tak apa, pupuk saja kehendak pada kebaikan itu.
  6. Seluruh kerinduan Herodes, sosok tanpa kepribadian, sosok yang menertawakan Yesus, menganggapnya remeh, tetapi menantikan keajaiban seperti diceritakan banyak orang, tak terjawab. Lukas menunjukkan motivasi korup untuk mengenal Yesus. Mengikuti Yesus demi mendapat afirmasi diri, mendapat mukjizat, mendapat jaminan kenyamanan hidup, adalah suatu contradictio in terminis.
  7. Penghiburan Yesus kepada para wanita yang menangisinya: tangisilah apa yang akan terjadi padamu. Para wanita ini adalah mereka yang menanggung dosa orang lain. Peperangan yang berlangsung sampai sekarang memakan banyak korban yang justru bukan pelaku perangnya sendiri.
  8. Lukas melukiskan dua penjahat di sampingnya. Sejak kelahirannya, Yesus dikelilingi oleh orang-orang yang tersingkirkan dari masyarakat yang mengejar survival of the fittest. Yesus hadir untuk orang-orang seperti ini. Secara detail, Lukas menggambarkan bahwa salah satu penjahat di sampingnya masih menunjukkan potensi tobatnya. Menariknya, perkataan salah satu penjahat itu bisa diletakkan sebagai konteks komentar Yesus: Bapa, ampunilah mereka karena mereka tak tahu apa yang mereka perbuat. Itulah kata terakhir Yesus untuk kejahatan yang menerpanya. Pengampunan itu juga yang menuntaskan misinya; memberkati bahkan orang-orang yang melakukan kejahatan.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami dapat terlibat dalam kisah cinta-Mu. Amin.


HARI MINGGU PALMA C/2
Mengenangkan Sengsara Tuhan
20 Maret 2016

Yes 50,4-7
Mzm 22,8-9.17-18a.19-20.23-24
Flp 2,6-11
Luk 22,14-23,56

Minggu Palma B/1 Tahun 2015: No Faith Out Of Fear
Minggu Palma A/2 Tahun 2014: Welcoming The Wisdom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s