Jangan Ngikut Orang Kristen

Hari Minggu kemarin disajikan bacaan yang menyinggung soal ‘mengikuti Kristus’ (yang tidak identik dengan beragama Kristen atau Katolik) dan hari ini disodorkan teks yang mirip, tetapi dari buku yang berbeda. Kemarin diambil dari tulisan Lukas, hari ini dari tulisan Matius. Kita ingat, Lukas menuliskan bukunya untuk orang-orang pagan (yang waktu itu artinya orang non-Yahudi), sedangkan Matius membuat tulisannya untuk orang-orang Yahudi yang menerima kritik Yesus terhadap penghayatan agama Yahudi yang naif dan berminat untuk mendalami ajaran barunya. Artinya, meskipun sama-sama menyodorkan fragmen singkat soal ‘mengikuti Kristus’, teks Lukas dan Matius punya perbedaan juga.

Menurut Lukas, Yesus sudah menetapkan hatinya untuk pergi ke Yerusalem menyongsong konsekuensi risiko ajaran kritisnya: mati di tangan bangsanya sendiri. Dalam perjalanan ke Yerusalem itulah  ada tiga orang yang terlibat dalam wacana ‘mengikuti Yesus’. Tiga orang itu kiranya adalah orang Samaria yang pada umumnya berseberangan dengan bangsa Yahudi dan dianggap kafir. Lukas hendak menekankan keterbukaan ajaran Yesus bahkan terhadap mereka yang dianggap kafir. Menurut Matius, orang yang hendak mengikuti Yesus itu adalah ahli hukum Yahudi, sosok yang punya otoritas bagi bangsa Yahudi, yang mau mengikuti Yesus. Seolah-olah ia mau berkata,”Tuh, kan, orang yang punya otoritas dalam hidup bangsa Yahudi pun menyatakan keinginannya untuk nyantrik pada Yesus. Jadi ini pasti gak main-main.”

Entah siapa yang mengikuti Yesus, jawabannya mirip: kamu mesti punya self-awareness, tahu benar apa yang kamu lakukan. Lebih dari itu, ia menyampaikan catatan penting: kamu perlu detach terhadap apapun yang kamu punya, termasuk bahkan apa yang dianggap wajib hukumnya oleh agama! Tapi, sik sik sik, kalimat ini bisa dijadikan senjata oleh orang yang malas menjalankan kewajiban agama: lha kan, mengikuti Kristus tuh berarti juga mesti lepas bebas terhadap aturan-aturan agama. Hahahahah…. mbok bilang aja malas atau bosan, gak usah kebanyakan cing cong dengan rasionalisasi!

Memang menguburkan orang mati itu adalah bagian dari kewajiban (bdk. Tob 4) dan ungkapan yang disodorkan Yesus “biarlah orang mati menguburkan orang mati’ itu merupakan ungkapan populer. Akan tetapi, ada makna kiasannya (lha mosok orang mati menguburkan orang mati, gimana ceritanya?): gak perlulah membuang-buang energi untuk hal-hal yang gada masa depannya dan gak relevan untuk hidup ini. Dalam konteks jawaban Yesus ya artinya kurang lebih supaya orang fokus pada pokok yang jadi acuan self-awareness tadi: ada risiko yang mesti diambil, termasuk menanggalkan banyak hal yang gak diperlukan untuk mengikuti Kristus.

Di masa sekitar hidup Yesus, mengikuti Kristus berarti (1) meniru teladannya (Yoh 13,15) untuk merealisasikan suatu bonum commune, bukan pertama-tama soal hasil, melainkan suasana yang dibangun oleh tindakan praktis seperti ditindakkan Yesus, (2) berpartisipasi juga dalam ‘nasib’ atau konsekuensi yang mesti ditanggung jika orang menindakkan aneka hal untuk mewujudkan bonum commune, dan (3) menghidupi Roh yang menggerakkan Yesus untuk menjalankan misinya (Gal 2,20). Tiga hal itu keknya saling terpaut dan kalau ini tak masuk dalam self-awareness orang, meskipun ia dibaptis berulang-ulang, ia takkan pernah lulus untuk nyantrik sebagai murid.

Tuhan, semoga kami bertekun dalam memberikan kontribusi untuk suatu kesejahteraan bersama bagi siapa saja dengan pikiran, kata, dan tindakan yang adil dan beradab. Amin.


SENIN BIASA XIII
27 Juni 2016

Am 2,6-10.13-16
Mat 8,18-22

Posting Senin Biasa XIII Tahun 2014: Social Injustice: Mass Offside

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s