Mau Tunggu sampai Kapan?

Andaikan di dunia ini ada 5 milyar orang, kiranya ada 5 milyar kisah cinta dan dalam 5 milyar kisah itulah ada panggilan untuk mengikuti Kristus (yang tidak secara langsung terhubung dengan agama Kristen). Dalam 5 milyar kisah cinta itu juga terdapat panggilan yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad untuk menyerahkan hidup orang kepada Allah yang Esa (yang tentu berlaku tak eksklusif bagi agama Islam). Panggilan itu senantiasa hadir dalam kesibukan konkret orang sebagaimana dalam bacaan pertama dinarasikan bagaimana Elisa dipanggil untuk meneruskan tugas kenabian Elia pada saat ia membajak (pasti bukan pesawat, karena saat itu belum ada landasan pesawat, loh).

Begitu pula halnya dengan bacaan ketiga. Dikisahkan bagaimana Yesus sudah mencium waktunya untuk menuju klimaks tugas kenabiannya. Ia mengutus ‘tim sukses’-nya supaya ada orang-orang yang mau menerima tawaran panggilan hidupnya dan setelah itu ada juga narasi beberapa orang yang menyatakan diri untuk mengikuti dia. Tentu ada yang menolak, bahkan menolak para murid yang jadi ‘tim sukses’ itu dan reaksi para murid wow banget,“Apa perlu kita minta api turun dari langit dan menyambar orang-orang itu?”

Wakakakak…. mana ada panggilan cinta isinya paksaan bahkan kutukan? “Kalau kamu gak mau caraku, sumpah biar disambar gledhek kamu!” Panggilan untuk mengikuti Kristus, panggilan untuk berpasrah kepada Allah, menuntut komitmen bebas setiap orang. Tak ada gunanya terpaksa memeluk agama A B C D E dan selebihnya memakai kebebasan untuk hidup dalam narcisisme ‘sukak-sukak gue’ dan prinsip balas dendam!

Omong-omong, maaf, tak bisa berpanjang lebar. Silakan baca saja posting jadul yang bisa diparalelkan dengan tiga model orang menanggapi panggilan Kristus ini, yaitu tentang Tiga Golongan Orang (klik atau tap pada yang merah-merah itu). Bisa jadi orang punya orientasi dasar untuk memperalat agama dan Tuhan, bisa jadi gak peduli meskipun omongannya suci-suci melulu, mungkin juga orang beneran mengikuti panggilan Allah meskipun tak pernah koar-koar. Kalau kita bicara orientasi dasar, jelas dengan sendirinya bahwa panggilan itu sifatnya bukan juxtaposing (satu setelah yang lainnya, sebelah menyebelah): bukan ‘aku mau gini dulu ya setelah itu baru mikir untuk itu’, ‘aku puas-puasin hidup bejad dulu ya nanti kalau dah kira-kira kepepet baru tobat’ (ini gak klop dengan prinsip kebebasan dalam bacaan kedua), dan sejenisnya. 

Ya Allah, bantulah kami supaya dapat senantiasa menyadari panggilan-Mu dalam peristiwa-peristiwa konkret. Amin.


MINGGU BIASA XIII C/2
26 Juni 2016

1Raj 19,16b.19-21
Gal 5,1.13-18
Luk 9,51-62

Posting Minggu Biasa XIII B/1 Tahun 2015: Life-Giving Touch