Minta Jemput Dong…

Pernah dengar dulu ada seorang wakil ketua Dewan yang membayar dua juta rupiah untuk bensin dan tips driver yang menjemput putrinya dari JFK ke tempat temannya untuk transit sebelum pergi ke tempat camping? Murah hati sekali kan anggota Dewan ini terhadap staf Konsulat Jendral Republik Indonesia? Kurang apa coba, wakil ketua Dewan loh, doktor jebulan kampus ternama, kok ya mau-maunya membayar bensin dan tips untuk driver! Itu kan memang sudah haknya warga negara Indonesia untuk minta fasilitas KJRI?! Murah hati tenan toh? Waaaaadejigggg!!!

Bener kata Ahoy… (loh, kok nongol lagi), mestinya kalau wakil ketua Dewan ini dizolimi, ia bisa bikin pansus untuk membongkar mafia jahat bangsa ini yang hendak menjatuhkan namanya. Tapi sudahlah, ini cuma intermezzo (lah intermezzo kok di awal!) untuk memahami teks yang disodorkan hari ini. Persoalan yang dilihat wakil ketua Dewan nan doktor itu cuma duit, duit, dan duit. Cowo’ matre’ kali ya’. Wakil ketua Dewan nan doktor ini mungkin gak ngerti apa artinya relasi kekuasaan dan semuanya bisa dibungkam dengan duit. Asal ada duit, semua bisa diaturlah. Jadi itu cuma soal bensin dan tips. Selesai. Orang-orang dengan mental seperti ini jugalah yang lantang mengkritik mereka yang dengan segala keterbatasan hendak menata hidup bersama.

Ini gak cuma terjadi di ranah politik praktis di negeri tercinta, tetapi juga pada ranah sakral bangsa Israel. Seorang imam bernama Amazia hendak menjatuhkan nabi Amos yang menubuatkan kehancuran raja dan Israel. Ia menyebut Amos sedang melakukan makar dan mengusirnya dari Betel,”Sana cari makan di luar, jangan di tempat suci sini!” Amazia menegaskan bahwa Betel adalah tempat suci raja, bait suci kerajaan Israel. Amazia lupa bahwa sebetulnya dia sendirilah yang mengawinkan kepentingan ekonomis dengan legitimasi religius dan politik busuk kerajaan Yerobeam. Ia memproyeksikannya kepada Amos. Ia seperti picek alias buta terhadap kenyataan bahwa Amos sama sekali tak memakai fasilitas kerajaan untuk menyampaikan nubuatnya.

Panggilan kenabian Amos tidak datang karena ia keturunan nabi, juga bukan karena dia kéré lalu mencari popularitas yang mendatangkan fulus dengan melontarkan nubuat kontroversial. Panggilan dari Allah itu autentik dan Amos mengikutinya. Malang benar nasib Amazia; maksud hati melaporkan Ahoy… eh, Amos, malah tulah kenabian itu mengenai dirinya sendiri, aih aih aih.

Dalam bacaan kedua dituturkan para ahli Taurat yang di kepalanya cuma ada aturan dan hatinya keruh itu akhirnya dibuat mak clakep (bungkam) sendiri. Kiranya bagi Yesus tak banyak gunanya badan sehat (entah dengan treadmill atau fitness) tapi pikiran dan hatinya penuh orientasi busuk yang senantiasa mengarahkan orang pada kedosaan. Tak mengherankan, Yesus menyembuhkan orang lumpuh itu dengan mengundangnya pada kepercayaan akan pengampunan dosa. Ahli Taurat cuma mikir ini soal penghujatan besar, tetapi fakta menunjukkan orang lumpuh yang punya iman itu sembuh karena pengampunan dosa.

Asumsinya: orang mesti menilik ke dalam dirinya sendiri; kalau memang hati keruh, akuilah keruh dan mohon rahmat supaya dibersihkan, diberi kemurnian intensi dalam bertutur dan bertindak, bukannya minta maaf njuk mencak-mencak karena suratnya bocor, hahahaaaa….

Tuhan, mohon rahmat untuk jujur melihat diri secara autentik. Amin.


HARI KAMIS BIASA XIII
30 Juni 2016

Am 7,10-17
Mat 9,1-8

Posting Kamis Biasa XIII B/1 Tahun 2015: Iman Yang Tuntas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s