Mari Berbuka

Sosok Paulus memang jauh lebih populer daripada Petrus. Dalam nominasi 100 tokoh paling berpengaruh, Michael H. Hart menyebut nama Paulus, tetapi Petrus tak muncul dalam daftarnya. Itu masuk akal karena Michael H. Hart memakai tolok ukur “kesuksesan agama dan lingkup duniawi“. Saya kira Petrus itu buta huruf dan satu-satunya yang bisa dia andalkan untuk capaian pengetahuan hanyalah pengalaman hidupnya bersama Yesus. Lagipula, memang sudah ada semacam pembagian tugas bahwa Petrus bergerak di lingkungan Yahudi sedangkan Paulus bekerja di lingkungan luar dan karena itulah Paulus lebih berpeluang dikenal lingkungan yang lebih luas daripada Petrus.

Akan tetapi, Gereja Katolik merayakan Petrus dan Paulus bersama-sama sebagai pewarta hidup Kristus yang tentu saja tak masuk dalam kriteria Michael H. Hart tadi. Mereka tak terpisahkan sebagai pribadi yang kepincut dan terenggut passion kepada sosok Kristus itu. Elemen ini tak terlihat oleh sebagian besar orang yang membebankan kristenisasi pada Paulus. Bagi mereka, Pauluslah yang menyebarkan agama Kristen sedemikian hebat sehingga kekristenan jadi besar seperti sekarang. Sebagian orang juga menilai Paulus ini membuat truth claim serampangan karena ia tak pernah punya pengalaman seperti yang dimiliki Petrus. Ia tak pernah jumpa fisik dengan Yesus tetapi tahu-tahu karena pengalaman di Damsyik lalu mengklaim itulah perjumpaannya dengan Yesus. Dari sosok penuh nafsu membunuh pengikut Kristus, ia berubah menjadi pengikut Kristus.

Saya tak yakin bahwa Paulus sewenang-wenang membuat truth claim justru karena ia terhubung dengan Petrus. Paulus ini orang sangat terpelajar yang utak-atik-otaknya tak tertandingi oleh orang terpelajar pada umumnya. Tentu ia takkan berbalik 180° jika utak-atik-otaknya itu tak dijungkirbalikkan. Apa yang menjungkirbalikkan otaknya? Pengalaman. Pengalaman siapa? Ya pengalaman dia sendiri. Tapi, kalau gitu apa bukan berarti sewenang-wenang karena tolok ukurnya cuma pengalaman pribadi? Kalau orang cuma menafsirkan kenyataan dengan pengalaman sendiri, tentu saja risikonya ada pada subjektivisme yang berujung pada relativisme “kembali ke pribadi masing-masing”.

Paulus tidak sendirian. Ia terbuka pada pengalaman orang lain. Bukan mentang-mentang mendengar wangsit ‘Akulah Yesus yang kauaniaya itu’ (Kis 9,5) lantas dia otomatis berbalik 180° begitu saja. Masih ada proses lain dalam penafsiran terhadap pengalamannya itu. Ia berjumpa dengan Ananias dan murid-murid lainnya, yang tentu terhubung dengan Petrus, yang akhirnya bertemu juga dengan Paulus. Lewat perjumpaan-perjumpaan itulah Paulus memperluas cakrawala pengetahuannya untuk menafsirkan pengalaman pribadinya. Ini juga dialami Petrus sendiri sewaktu ditanyai siapa Yesus bagi dirinya.

Itulah iman kepada Allah: bukan soal “what is God” (mahaesa kek, triniter kek, substansi murni kek, atau bagaimana lagi mau dirumuskan oleh otak), melainkan soal “who is God for me“. Soal pertama lebih menyangkut utak-atik-otak. Yang kedua mengandaikan adanya relasi, sekurang-kurangnya kerinduan akan relasi, dengan yang disebut Allah itu. Ini tidak berarti ‘what is God’ tak penting, tetapi tak punya relevansi bagi hidup orang jika tak tiba pada jawaban pertanyaan ‘who is God for me’. Paulus tak mungkin diterima orang banyak tanpa jaminan Petrus yang punya pengalaman perjumpaan autentik dengan Yesus.

Tuhan, semoga kami terbuka untuk senantiasa memperluas cakrawala pengetahuan iman kami juga dengan pengalaman orang lain. Amin.


HARI RAYA SANTO PETRUS DAN PAULUS
Rabu, 29 Juni 2016

Kis 12,1-11
2Tim 4,6-8.17-18
Mat 16, 13-19

Posting Tahun 2015: Ada Baiknya Bertengkar
Posting Tahun 2014: What You Choose Is What You Get

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s