Puasa Pesta atau Pesta Puasa?

Pesta dan puasa kiranya merupakan dua dinamika yang dikenal dalam semua agama. Saudara-saudara Muslim sekarang masih berpuasa dan nanti pada hari kemenangan kita rayakan pesta (lah, Romo ini gak ikut puasa cuma ikut pestanya). Memang, pesta menandai kepenuhan atau purnanya sesuatu. Ada pesta sunatan, wisudaan, mantenan, dan sebagainya. Meskipun itu bukan akhir, toh tetap ada nuansa orang menyelesaikan sesuatu, dan pantaslah orang merayakannya dengan pesta. Sebaliknya, puasa adalah simbol dari kurangnya sesuatu, ‘belum’ atau ‘gak lagi’.

Baik orang Farisi maupun murid-murid Yohanes Pembaptis berpuasa. Orang Farisi berpuasa karena begitulah aturan agama dijalankan turun temurun sejak zaman Musa dulu. Murid-murid Yohanes Pembaptis berpuasa karena begitulah semangat yang menggerakkan mereka untuk menantikan Mesias. Lha, murid-murid Yesus gimana dong? Apakah mereka berpuasa? Secara implisit dia sendiri mengatakan bahwa murid-muridnya tak perlu berpuasa, TETAPI ‘waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa’. Lagi, muncul gambaran pesta (perkawinan) yang diletakkan berseberangan dengan puasa, meskipun keduanya terhubung.

Orang Farisi berpuasa dengan membawa masa lalu (ajaran Musa dan Tauratnya), Yohanes Pembaptis dan murid-muridnya berpuasa dengan menatap ke depan (menantikan Mesias yang mereka yakini akan segera datang). Tidak ada dari mereka yang menghayati puasa dengan semangat ‘hic et nunc‘ (kini dan di sini); semuanya ada dalam pendulum ‘membawa masa lalu’ dan ‘penantian akan pahala Mesias’. Jangan salah, ini tidak mau mengatakan bahwa yang ini salah dan yang itu benar! Ini cuma mau mengatakan bahwa begitulah puasa yang dihayati orang-orang Farisi dan Yohanes Pembaptis.

Murid-murid Yesus menghayati hidup di sekitar guru mereka sebagai suatu pesta, pesta manten bersama sang mempelai, yaitu sosok yang mereka percayai sebagai Mesias yang menyelamatkan mereka. Itulah keselamatan, bukan ‘membawa masa lalu’, bukan pula ‘mengangankan masa datang’. Letaknya di tengah-tengah, dalam proses menjadi, dalam tindakan yang lahir dari roh yang ‘sudah tapi belum’ (piye kuwi, mboh!). Ini soal who is God for me!

Maka dari itu, pengikut Kristus zaman sekarang gak juga bisa pêtèntang pêtèntèng menanamkan dalam dirinya,”Sori ya, gua bukan penganut Perjanjian Lama atau orang yang gak percaya pada keselamatan Mesias. Gua dah dibaptis, dah diselamatkan Mesias. Ngapain pake’ puasa segala! Munafik!” Wahahaha, orang macam ini lagi ngimpi, punya ilusi bahwa dia seperti para murid Yesus 2000 tahun lalu! Ini tahun 2016 Bro’! Yesus yang kamu agung-agungkan itu masa lalu. Yang ada sekarang ini Roh, Sabda-Nya, yang butuh ditafsirkan bersama; jadi tak perlu berlagak kamu sedang bersama Yesus sehingga gak butuh puasa lagi!

Justru orang seperti kamu ini yang butuh puasa karena Sabda-Nya itu kerap absen dalam pikiran, tutur kata, dan tindakanmu. Pada saat seperti itulah ‘mempelai’ dicabut darimu dan kamu berpuasa bukan demi pahala setelah mo’ik, melainkan demi pahala hic et nunc: Sabda itu mewarnai hidupmu. Terserah caramu berpuasa mau bagaimana, pokoknya poinnya ialah mempersilakan Sabda itu hidup. Nah, mana ada Sabda yang tidak menuntut askese, ingkar diri, penyangkalan diri di pihak manusia?

Tuhan, mohon rahmat supaya hidupku menyuburkan Sabda-Mu sekarang ini dan di sini. Amin.


HARI SABTU BIASA XIII
(PW S. Bernardino Realino SJ, dll)
2 Juli 2016

Am 9,11-15
Mat 9,14-17

Posting Sabtu Biasa XIII B/1 Tahun 2015: Ngapain Puasa Segala?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s