Super Damai

Saya lebih percaya gerakan mahasiswa berbasis kepentingan bersama daripada demonstrasi berbasis agama. Memang bisa saja sih gerakan mahasiswa tersusupi agenda politik dengan kekerasan, tetapi barangkali kalau diteliti baik-baik, mahasiswa yang tersusupi itu tidak mendapat pengetahuan cukup mengenai logika berpikir dan kurang mengerti bahwa dalam kancah politik, mahasiswa pertama-tama merepresentasikan kekuatan moral universal. Meskipun begitu, rasa saya kok masih lebih parah kerentanan yang dimiliki agama, yang dengan mudah bisa diperalat oleh politik kotor secara samar.

Saya rada-rada alergi dengan yang namanya doa bersama untuk kepentingan politik, pun kalau doa bersama itu dikatakan demi kedamaian seluruh umat manusia [Lha opo ya ada doa yang tidak dimaksudkan untuk kepentingan seluruh umat manusia alias cuma membela kepentingan kelompok tertentu?]. Doa adalah soal relasi.
Ya, tapi relasi itu kan punya dimensi horisontal dan vertikal, Rom? Yang vertikal terhubung dengan Tuhan dan yang horisontal dengan sesama sehingga yang horisontal itu mau tidak mau bersifat politis dong! Jadi, doa pun mesti punya konsekuensi politis, bukan?
Betul sekali! Persoalannya ialah bahwa orang hobi membolak-balik antara sarana dan tujuan, antara motif dan dampak atau ekses, dan itulah yang menyebabkan relasi amburadul. Formalisme tak banyak membantu relasi macam begini dan malah rentan terhadap kooptasi kepentingan politis. Iman dan doa adalah soal hati, bukan bibir. Iman dan doa bukanlah soal utak-atik-otak, melainkan intimitas jiwa manusia.

Tapi gimana ya, memang agama itu rentan terhadap formalisme, yang jadi makanan empuk bagi mereka yang punya kekuasaan atau harta. Akan tetapi, agama di sini tentu bukan sesuatu yang abstrak, melainkan orang-orangnya itu sendiri. Mungkin baik untuk koreksi diri: kalau pastor itu diundang misa keluarga sederhana sulitnya setengah mati, tapi kalau yang minta ‘bikin misa’ itu orang berduit, cepat-cepat dia batalkan acara lainnya. Ini memprihatinkan, dan kenyataannya bisa seperti itu. Si kaya tak punya relasi pribadi dengan pastor, tetapi toh dia bisa dengan mudah mengakses tukang bikin misa itu karena berduit. Tentu saja yang perlu koreksi diri bukan hanya pastornya, melainkan juga umatnya sendiri, yang meminta pelayanan bukan karena dorongan batin untuk membangun relasi personal dengan Allah dan sesama, melainkan karena harga diri atau nama baik, misalnya.

Titik temu dimensi vertikal dan horisontal ada pada hati, bukan pada agenda politik, partai, bahkan agama. Itulah yang jadi pondasi kokoh suatu relasi, juga relasi kebangsaan. Konon Gus Dur pernah mengingatkan kita akan kebenaran yang masuk akal ini: Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca Kitab Suci, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Kitab Suci. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah.

Tuhan, semoga kami mampu berdamai dengan diri sendiri untuk membangun pondasi bangsa yang kokoh. Amin.


KAMIS ADVEN I
1 Desember 2016

Yes 26,1-6
Mat 7,21.24-27

Posting Tahun 2014: Menanti Timpukan Batu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s