Jakarta Puas?

Setiap orang punya wilayah gelap yang butuh penyembuhan supaya bisa melihat kenyataan hidup ini secara lebih terang dan jelas. Bisa jadi wilayah gelap itu adalah kerapuhan atau sakit fisik, tetapi terutama adalah kerapuhan hati dan jiwa. Sayang, penyembuhannya takkan terjadi tanpa pengenalan akan Allah. Kenapa sayang? Karena orang cenderung mengabaikan pengenalan akan Allah itu dan malah sibuk dengan atribut agama, bendera partai, nama besar, dan sejenisnya.

Pengenalan akan Allah lambat laun mencerahkan orang untuk menjadi manusia autentik: menyambut Tuhan dan memercayakan diri kepada-Nya juga wilayah-wilayah gelap yang jadi hambatan itu. Celakanya, Tuhan bukanlah sosok despot yang menjadikan manusia sebagai wayang nan pasif. Tak mengherankan kalau Yesus si sableng itu menekankan frase ‘anak Allah’ sebagai atribut bagi manusia. Tak perlu ribet berdebat soal Allah yang tak memperanakkan dan diperanakkan, sebagaimana kunci atau panah tidak memperanakkan dan diperanakkan. Doktrin punya konteks politik dan kalau sudah masuk ranah politik, orang perlu lebih jeli, bukan malah membutakan diri.

Frase ‘anak Allah’ sebagai atribut manusia beriman bukanlah atribut eksklusif agama. Itu baru eksklusif kalau ditempelkan pada proses inisiasi agama tertentu, misalnya baptisan dalam agama Kristen. Jelas baptisan tidak hendak mengatakan bahwa sebelum baptis seseorang bukan ‘anak Allah’. Frase ‘anak Allah’ merujuk pada adanya relasi antara Allah dan manusia dan karena relasi itulah ada unsur keterlibatannya. Kalau begitu, orang tidak sedang berhadapan dengan sosok despot, tetapi dengan pribadi Allah yang hendak membangun kebersamaan hidup di dunia ini. Allah bukan tiran yang hendak memasang anak-Nya untuk proyeksi tampuk kepresidenan pada masa depan. Dia lebih seperti sosok stakeholder yang interaktif dalam hati manusia dan kepentingannya bukanlah narsisme melainkan suatu bonum commune, kesejahteraan umum, keadilan sosial, dan sebangsanya.

Semalam ada tayangan hasil survei merosotnya tingkat kepercayaan masyarakat Jakarta setelah gubernurnya non aktif. Ada juga berita yang non aktif jadi aktif lagi di DPR dan seorang pelaksana tugas gubernur menempatkan dirinya seolah-olah sebagai gubernur pilihan rakyat Jakarta tetapi tak berkoordinasi dengan gubernur non aktif (tentu dengan alasan non aktif itu). Entah ini permainan apa lagi, tetapi saya yang nun jauh di sini (loh… jauh ya di sana to, Rom) berasa jadi impoten, tak punya daya untuk berbuat sesuatu. Doa yang bisa saya haturkan: semoga masyarakat Jakarta semakin cerdas dan humanis (halah ini kan motto universitas!), alias kritis terhadap apa yang bergerak dalam masyarakat dan tidak salah pilih, syukur-syukur bisa berbuat sesuatu (mahasiswa mana mahasiswa? Terbuai gadgetkah? Atau sibuk dengan powerpoint tanpa poin?) meski tanpa suntikan dana segar dari konglomerat atau politisi.

Memang, semakin dalam pengenalan akan Allah, semakin besarlah kemungkinan orang untuk kritis dan tak mudah ditipu oleh aneka slogan, juga yang berbau-bau agama atau kultur (Betawi) misalnya. Semua orang perlu membuat bracketing apakah yang dikatakan ketua majelis atau kepala badan atau bos partai itu cocok dengan realitas sesungguhnya. Seringkali terjadi bahwa suatu foto jauh lebih indah dari aslinya.

Ya Tuhan, Engkau mahabesar, Engkau mahatahu, Engkau mahamurah, Engkau maharahim, lindungilah umat-Mu yang sungguh hanya mengharapkan-Mu lebih dari agama, ideologi, kultur, dan lain sebagainya.


JUMAT ADVEN I
2 Desember 2016

Yes 29,17-24
Mat 9,27-31

Posting Tahun Lalu: Hati Teroris
Posting Tahun 2014: T3M vs M3T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s