Sedikit Logika

Tadi malam, tanpa maksud antisipatif pada pesta misionaris Gereja Katolik hari ini, seorang bapak membagikan pengalaman perjumpaannya dengan para pastor misionaris, sekian generasi setelah Fransiskus Xaverius menjejakkan kakinya di Indonesia. Ia menyebut sekian nama yang cuma beberapa yang pernah saya dengar dan hanya satu yang pernah saya jumpai. Maklumlah, bapak ini seumuran pakdhe saya, padahal bapak saya sudah 70-an tahun, dan yang diceritakan bapak ini adalah pengalamannya selagi ia masih belasan tahun. Halah… dibahas.

Perjumpaan dengan para pastor misionaris ini rupanya begitu membekas kuat dalam dirinya: para pastor itu seperti makhluk lain, mereka begitu tekun dan gigih mendidik orang-orang yang mereka dampingi. Pokoknya litani kehebatan dan kebaikan para pastor misionaris itu terus masuk ke telinga saya. Jadi ngaca deh saya dan tahu diri bahwa yang di cermin terlihat begitu superior. Akan tetapi, obrolan bapak itu sebetulnya cukup seimbang karena ketika saya katakan bahwa sekarang ini tak ada pastor yang seperti misionaris itu kecuali beberapa misionaris di beberapa tempat, ia melontarkan pandangan bahwa mentalitas zaman sudah berbeda sehingga challenge and response juga berbeda. Maksudnya, ia menghibur saya bahwa wujud kegigihan dan ketekunan para pastor sekarang tentu berbeda.

Teks yang disodorkan untuk pesta Santo Fransiskus Xaverius hari ini oleh sebagian kecil komunitas Gereja ditangkap secara unik. Ada yang membolak-balikkan posisi antara sarana dan tujuan, antara tujuan dan konsekuensi, antara janji dan prediksi. “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka … akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka.” (Mrk 16,17-18 ITB) Lha kok njuk orang berfokus pada memegang ular dan minum racun, alih-alih membangun relasi kepercayaan kepada Allah!

Sepintas memang logis ya: kalau orang percaya, ia gak akan celaka. Kalau orang celaka, berarti ia tak percaya. Eaaaa…. sepertinya ada yang salah dengan silogisme ini ya. Tentu saja, wong cuma ada dua term (‘orang percaya gak akan celaka’ dan ‘orang celaka itu tak percaya’). Kalau mau logis, mesti ada tiga term yang salah satunya menjadi term antara. Misalnya, (1) orang percaya gak akan celaka, (2) Gimin percaya, maka (3) Gimin gak akan celaka. Lha, kalau mau kesimpulannya berbunyi ‘Gimin pasti gak percaya’, premis mayor mestinya berbunyi ‘semua orang celaka gak percaya’ dan term antaranya ‘Gimin celaka’ sehingga bisa disimpulkan Gimin pasti tak percaya.

Sayangnya, juga dalam beriman kadang orang mengabaikan penalaran yang benar dan lurus sehingga keputusan-keputusan yang diambilnya juga sesat. Orang bisa mendewakan tanda lebih daripada yang ditandakan. Mentang-mentang Tuhan memberi berkat juga dengan kelimpahan harta, lalu orang bisa saja menguber-uber kelimpahan harta lebih daripada berkat-Nya yang lain.

Fransiskus Xaverius, seperti dikatakan oleh bapak yang berbagi dengan saya tadi malam, adalah sosok yang gigih dan tekun menghidupi berkat Tuhan yang membakar jiwanya untuk mengundang orang untuk percaya kepada Allah yang mahamurah, maharahim, mahabesar, maha penyayang, dan sebagainya. 

Tuhan, kami mohon berkat-Mu dalam setiap momen hidup, terlepas dari untung rugi atau selamat celaka badan kami.


PESTA S. FRANSISKUS XAVERIUS (SJ)
(Sabtu Adven I)
3 Desember 2016

1Kor 9,16-19.22-23
Mrk 16,15-20

Posting Tahun Lalu: Lagak Dapet Watak Cupet
Posting Tahun 2014: Tanpa Passion Jadi Pasien Doang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s