Oh Guru Agama

Kalau orang mengira bahwa beriman adalah inisiatif dan jerih payah manusia untuk mencapai kualitas hidup tertentu (entah dalam dimensi moral ataupun spiritual), kiranya ia perlu belajar sesuatu dari Yohanes Pembaptis. Kemarin sudah diulas bahwa kualitas kemuridan yang dimiliki Yohanes terletak pada keterbukaan hati, intuisi rohaninya terhadap misteri ilahi, yang jauh lebih besar daripada pengetahuan manusia. Dalam teks hari ini dikatakan bahkan Yohanes tak mengenal manifestasi misteri ilahi itu. Dibutuhkan waktu.

Yohanes tak langsung punya keyakinan akan Allah yang hadir di tengah-tengah umat manusia. Intuisi rohaninya dipertajam oleh Roh yang menyingkap tanda,”Kalau kamu lihat Roh turun dan tinggal atas seseorang, maka Dia itulah orangnya.” Ini jelas bukan suatu achievement Yohanes dengan aneka teknik meditasi atau olah rohani tertentu. Dari pengalaman hidupnya bisa dipahami bahwa iman itu adalah something revealed, not discovered, not even invented. Kalau sesuatu itu diwahyukan, berarti inisiatifnya selalu datang dari Allah. Masih ingat bagaimana Kitab Kejadian menceritakan manusia pertama yang ‘jatuh dalam dosa’? Pencarian tidak dilakukan oleh manusia, tetapi oleh Allah,”Di manakah engkau?”

Memang manusia bisa melakukan pencarian dengan bantuan guru agama, tetapi tidak semua guru agama sungguh-sungguh adalah ‘guru iman’. Barangkali kebanyakan guru agama hanyalah tukang transfer ilmu seperti guru pelajaran lainnya. Mereka mengajari murid untuk menghafalkan ajaran agama, mengingat-ingat tokoh-tokoh besar agama, dan celakanya, ada juga di antara mereka yang mengajarkan kepada murid-muridnya untuk membenci teman yang beragama lain, memusuhi orang yang tidak memeluk agama yang dipeluknya, memupuk dendam dan sikap chauvinis juga dalam hal agama. Ngeri dong kalau guru-guru agama cuma begitu doang.

Andaikan saja guru-guru agama itu, apapun merk agamanya, mau belajar dari kesaksian Yohanes Pembaptis, barangkali penangkalan terorisme dengan tameng agama bisa sangat tersokong. Belajar apa dari Yohanes Pembaptis? Belajar untuk membuka diri terhadap sesuatu yang berbeda, sesuatu yang sebelumnya tak dikenal orang, sesuatu yang menarik orang untuk mengubah hidupnya ke arah yang lebih bermartabat. Singkatnya, belajar untuk menangkap inisiatif Allah yang senantiasa hendak mengundang orang kembali ke dalam pelukan cinta-Nya, bukan untuk membangun dunia seragam, bukan untuk berebutan pemeluk agama dan menorehkan rekor jumlah penganut agama terbesar di dunia! Orang yang punya kehendak untuk belajar seperti ini, ia belajar menjadi ‘guru iman’.

Tak banyak orang yang berminat menjadi guru agama dan dari yang tidak banyak itu, sedikit saja yang menghayati hidupnya sebagai ‘guru iman’. Syukurlah, untuk menjadi ‘guru iman’ itu orang tidak mutlak mesti jadi guru agama. Ia bisa jadi apa saja, tetapi hidupnya adalah suatu kesaksian akan keterbukaan hatinya terhadap inisiatif Yang Lain.

Ya Allah, kami mohon curahkanlah rahmat-Mu supaya kami semakin jeli menangkap panggilan kebenaran-Mu. Amin.


HARI BIASA MASA NATAL
Selasa, 3 Januari 2017

1Yoh 2,29-3,6
Yoh 1,29-34

Posting Tahun 2015: Orang Beriman Itu Telmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s