Akulah Kebenaran?

Kalau ditanya siapa murid pertama Yesus, seorang anak lulusan SD yang mendapat pelajaran agama Kristen/Katolik mestinya akan menyebutkan satu dua nama dari dua belas rasulnya. Memang gak keliru. Tetapi kalau jawaban macam itu terus dibawa sampai orang selesai kuliah, itu pertanda bahwa sampai selesai kuliahnya, ia tak pernah berpikir lebih jauh mengenai imannya. Ia berpuas diri dengan pelajaran agama tanpa pernah mengolah imannya secara mandiri sehingga tidak kreatif dalam memahami misteri kehidupannya sendiri. Memang ini bukan kekeliruan si anak semata. Ada andil sistem masyarakat yang membuat orang tak bebas juga dalam menghayati imannya.

Konon, seorang uskup yang bernama Augustinus, yang bermasa lalu ‘kelam’, pernah memberi penjelasan berkenaan dengan perayaan yang kemarin dipestakan Gereja Katolik: Santa Perawan Maria Bunda Allah. Katanya, sebelum Maria itu menjadi Bunda Allah, ia pertama-tama adalah seorang murid. Murid Kristus, tepatnya. Piye jal, wong anaknya aja belum mbrojol lahir kok dia sudah jadi murid-Nya? Ya persis di situlah persoalannya: orang cuma berpikir dengan paradigma linear belaka, dengan pola relasi sebab-akibat belaka. Sebelum ia melahirkan bayi yang kelak oleh orang Kristen disebut Kristus itu, Maria sudah menjadi murid Kristus saat ia mendengar panggilan Allah dan menjawab ‘ya’.

Begitu pula halnya dengan Yohanes Pembaptis. Ia bisa juga disebut murid Kristus itu karena ia memberi kesaksian mengenai Dia. Menariknya, tidak seperti para rasul, kesaksian yang diberikannya itu punya karakter khusus. Ia tidak memberi kesaksian karena perjumpaan pribadi dengan Yesus seperti dialami para rasul. Kesaksiannya tidak berasal dari pengalaman empiris hidup sehari-hari bersama Yesus. Barangkali bisa disebut sebagai suatu intuisi. Yohanes punya intuisi tajam mengenai sifat-sifat Mesias (meskipun nantinya dia punya juga keraguan akan hal itu).

Para pemuka agama, yang menginginkan kepastian dan kejelasan, mendesak Yohanes untuk memastikan identitasnya, apakah ia Sang Mesias itu. Yohanes menjawab negatif: bukan Mesias, bukan pula Elia yang datang kembali, bukan pula nabi yang akan datang. Lah, bukan ini itu njuk opo? Dia menjawab,”Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun.” Apa seruannya? Seruan yang diserukan Yesaya: luruskanlah jalan Tuhan. Jelas ya seruannya: bukan belalah agama, melainkan luruskanlah jalan Tuhan.

Saya menarik perhatian pada jawaban Yohanes. Ia memastikan dirinya bukan Mesias, tetapi mempersiapkan jalan bagi Mesias. Siapa Mesias itu? Ia hanya bisa menyodorkan intuisinya akan sosok yang lebih besar darinya, yang bahkan belum dikenal orang. Yohanes tak pernah merasa diri sebagai Mesias meskipun dengan jatuh bangun menyerukan revolusi mental supaya orang berpikir dengan pikiran Allah, memandang dengan pandangan Allah, merasa dengan perasaan Allah. Artinya, ia tak pernah menjadikan diri sendiri sebagai acuan kebenaran, merasa benar sendiri dan orang lain keliru; ia punya keterbukaan hati terhadap misteri ilahi yang mengatasi kemuliaan diri, yang berjaya cuma di bawah langit.

Loh kalau memang nyata-nyata orang lain itu keliru, Rom? Dia keliru bukan karena sayalah yang benar sendiri, melainkan karena ia belum connect dengan Kebenaran, Allah sendiri.

Tuhan, kami mohon intuisi rohani seperti yang Kauberikan kepada Yohanes untuk meluruskan jalan-Mu. Amin.


HARI BIASA MASA NATAL
Peringatan Wajib St. Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze
Senin, 2 Januari 2017

1Yoh 2,22-28
Yoh 1,19-28

Posting Tahun Lalu: Mana Suaranya?
Posting Tahun 2015: Mau Menyuarakan Apa atau Siapakah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s