Damai Aja Bang

Setiap awal tahun, Gereja Katolik senantiasa merayakan Santa Perawan Maria sebagai Bunda Allah. Telolet! Tak perlu menistakan agama ya: theotokos memang diterjemahkan sebagai Bunda Allah, tetapi untuk kesekian kalinya, kalau kita bicara tentang Allah, kita hanya bisa memakai metafora atau analogi. Maria pastilah bukan ‘ibunya Allah’! Menurut ahli bahasa tetangga sebelah saya, theotokos itu bermakna “yang membuat keilahian lahir”. Katanya, pengakuan bahwa Maria ialah manusia yang membuat keilahian lahir (yang ilahi itu jadi nyata) di antara umat manusia ini resmi diterima dalam Konsili Ekumenis di Efesus tahun 431.

Dengan demikian, Maria memungkinkan manusia mengalami keilahian sebagai berkat, sebagai sumber kekuatan bagi usaha orang-orang yang berkehendak baik untuk mewujudkan kedamaian. Bacaan pertama hari ini mengantar kita masuk ke dalam tahun berkat. Masih ingat bukan apa artinya memberkati? Lawannya ialah mengutuk dan kata tetangga saya itu, kutukan terbesar ialah membiarkan orang menjadi mangsa daya-daya maut. Dalam kesadaran orang dulu, kekuatan-kekuatan jahat tak perlu didatangkan atau diguna-gunakan. Daya-daya hitam itu sudah ada di sekeliling dan selalu mengancam. Tindak memberkati membalik ancaman kekuatan hitam ini sehingga orang mengalami kedamaian.

Akan tetapi, kedamaian macam apa yang bisa diharapkan di hadapan aneka macam perseteruan, persaingan, peperangan, teror, himpitan hidup, penistaan agama dan lain-lainnya? Bagaimana mau damai kalau orang hidup di lingkungan yang ramah fitnah dan hoax? Tentu tak cukup hanya dengan upload foto bersama kawan dan lawan dengan gaya salam dua jari. Mesti mencoblos atau mencontrengnya juga #ehmalah kampanye. Mungkin ada baiknya kedamaian itu dikontemplasikan dalam setting bacaan ketiga hari ini: sunyi senyap, tak gaduh, bukan aksi massa bela agama, tetapi dalam keterbukaan bagi kelompok orang yang lemah, terpinggirkan (karena lewat mereka juga kabar gembira diwartakan).

Maria menjaga bayinya tanpa banyak kata. Dua makhluk ini saling mengakui eksistensi mereka melalui tatapan, saling mengenali tanpa repot-repot menjelaskan siapa yang satu bagi yang lainnya. Perjumpaan dua wajah itu merupakan ruang relasi dan kedamaian adalah soal hati: ketika hati mencecapi semacam ‘hak’ untuk berada dan mencinta, saat itulah manusia mengalami sumber kedamaian. Pengalaman itu tidak meniadakan kebingungan, tetapi Maria mengakui sifat misteri dalam hal-hal yang membingungkan itu dan menyimpannya dalam hati. Ia connect dengan Allah dalam tindak menjaga bayinya.

Begitulah Maria menunjukkan jalan kepada umat manusia. Kedamaian adalah soal menjaga, tanpa tunduk kepada kelelahan, sering kali melawan arus kegaduhan (d.a. kedamaian bisa membuat orang malah gaduh). Ini soal menjaga keilahian yang hendak lahir dalam dunia nyata. Menariknya, penjagaan ini malah memungkinkan Allah menjadi penjaga manusia itu sendiri. Ada aja cara Tuhan menjaga manusia damai itu, tentu dengan timeline Dia dan akhirnya manusia sendiri menangkap mana yang hoax dan mana kedamaian sesungguhnya. Kedamaian sesungguhnya itu tentu tak bisa dimanipulasi survei ketenaran karena kedamaian lebih akrab dengan Kebenaran.

Tuhan, semoga damai-Mu sungguh terwujud dalam keterlibatan kami untuk merawat dunia yang semakin panas ini. Amin.


HARI KEDELAPAN OKTAF NATAL
Hari Raya Santa Maria Bunda Allah
Minggu, 1 Januari 2017

Bil 6,22-27
Gal 4,4-7

Luk 2,16-21

Posting Tahun Lalu: Tahun Haram
Posting Tahun 2015: Pernah Serius Mikir?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s