Minta Dihargai Berapa?

Dalam panggung drama politik kita tentu ada ungkapan-ungkapan heroik yang dilontarkan tokoh-tokohnya: saya akan pasang badan, saya akan berdiri di garis depan, saya orang pertama yang akan menurunkan, dan sejenisnya. Apakah ungkapan-ungkapan itu sungguh-sungguh heroik akan bergantung pada integritas tokoh yang bersangkutan. Nah, susahnya, namanya panggung politik ya, yang punya integritas itu cuma secuil. Tentu saja, who am I to judge? Akan tetapi, tanpa sikap menghakimi pun orang tetap bisa mengendus karakter seperti apa yang berintegritas dan karakter mana yang tak berintegritas.

Dalam bacaan hari ini disodorkan gambaran yang bertolak belakang antara pastor yang baik dan pastor yang ja’at. Tentu ini bukan soal mengevaluasi kinerja pastor paroki, misalnya. Pastor di sini lebih dilihat sebagai karakter pemimpin. Karakter pertama ialah sifat pemimpin yang mencintai orang-orangnya dan bahkan siap mati untuk melindungi mereka. Karakter kedua ialah sifat manajer bayaran yang tak mencintai orang-orang yang dipercayakan kepadanya dan ia malahan mengeksploitasi mereka.

Perbedaan antara kedua karakter itu ialah cara mereka mengenal orang-orang yang dipercayakan kepada mereka. Karakter pertama punya kualitas cura personalis (baca: kura personalis), perhatian terhadap keunikan pribadi, sebagai wujud relasi cinta. Karakter kedua tentu tidak punya kualitas itu karena mata duitan, tak punya orientasi cinta, semua karena duit semata, entah jadi guru, mahasiswa, petugas penyuluhan, wartawan, dokter, pedagang dan sebagainya. Ini adalah orang-orang yang tidak happy dalam pekerjaannya sendiri.

Saya kasih contoh karakter kedua ini ya, bukan orangnya, melainkan mentalitas yang disodorkan.Di sebuah rumah sakit pemerintah (tapi tampaknya tidak cuma sebuah RSUD sih), saya dapati banner stand dengan tulisan yang lebih besar daripada tulisan lainnya: HARGAILAH PETUGAS KAMI! Loh, belum apa-apa kok sudah minta dihargai, mau dihargai berapa? Persis itulah mentalitas yang hendak dibangun oleh mereka yang menempati posisi eksekutif bukan dengan landasan relasi cinta. Orang mencari respek bukan dengan kinerja, melainkan dengan status yang barangkali diperolehnya juga dengan KKN. Barangkali begitulah negeri tercinta kita: yang namanya pemerintah ya memerintah, bukan melayani! Padahal, jelas-jelas mereka dibayar oleh rakyat yang semestinya mendapat pelayanan, kok malah di depan langsung disodorkan perintah untuk menghargai oknum pemerintah! Mosok sih gak tau bahwa respek, sebagaimana cinta, tidak muncul dari represi?

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami semakin mampu mencinta tanpa syarat. Amin.


SENIN PASKA IV A/1
8 Mei 2017

Kis 11,1-18
Yoh 10,11-18

Posting Tahun 2014: Keselamatan Itu Inklusif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s