Tangan Tuhan

Di akhir abad lalu ada frase ‘tangan Tuhan’ yang dilekatkan pada legenda sepak bola dunia yang bernama Maradona. Ia mencetak gol bagi Argentina ke gawang Inggris dengan tangan sedemikian rupa sehingga wasit tak menganggapnya sebagai pelanggaran. Bacaan-bacaan hari ini juga menyodorkan frase ‘tangan Tuhan’, yang menyertai para murid dan membuat banyak orang jadi percaya dan orang yang percaya itu takkan direnggut dari tangan Tuhan. Tinggal memilih saja makna frase ‘tangan Tuhan’ mana yang Anda idealkan. Teorinya, Anda memilih frase yang disodorkan bacaan hari ini. Praktiknya lain lagi.

Ada banyak momen, mungkin terlalu banyak, ketika orang tak tahu lagi mesti berbuat apa: perkawinan yang ‘keliru’ (sudah terlanjur hamil duluan, terpaksa married, dijodohkan karena kepentingan politik ekonomi), anak yang tak lagi bisa saling bicara dengan orang tua, sakit kanker yang tak tersembuhkan, kematian mendadak, dan sebagainya. Tak jarang orang dihadapkan pada situasi nelangsa, kehilangan, frustrasi, dan sejenisnya. Ini momen-momen yang pada ujungnya menjadi ujian akhir apakah orang bisa melakukan sinkronisasi (atau transisi sih?) dengan slogan ‘In God We Trust’ atau malah orang kehilangan kepercayaannya.

Pada momen seperti itu, pun ketika orang tak mengerti apa yang mesti dilakukannya, ada baiknya ia duduk tenang dan semakin mengerti makna Allah Mahabesar. Allah lebih besar dari kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan, lebih besar dari keterbatasan Anda, lebih besar dari sakit Anda, dan seterusnya. Pun kalau akhirnya nyawa orang terenggut, Allah yang mahabesar itu tetap memegang jiwanya.

Woh, kalo gitu bunuh diri aja ya, Mo, kan sama aja tetap dalam genggaman Allah yang Mahabesar itu. Eaaa betul, Allah tetap mahabesar, entah Anda putus asa atau tidak. Bedanya terletak pada jiwa Anda saja: jiwa yang frustrasi atau jiwa yang berserah kepada-Nya. Beda tipis memang antara pasrah dan frustrasi, tetapi dampaknya sangat bertolak belakang. Yang pasrah itu Rest In Peace bahkan meskipun ia mengeluarkan segala daya upayanya, sedangkan yang frustrasi itu Rest In Pain meskipun ia menghilangkan ambisi, hasrat, dan keinginannya. Istirahat dalam damai hanya berlaku untuk mereka yang percaya kepada-Nya, entah bagaimanapun ‘Nya’ itu dirumuskan.

Ya Allah, mohon rahmat untuk senantiasa percaya pada penyelenggaraan-Mu. Amin.


SELASA PASKA IV
9 Mei 2017

Kis 11,19-26
Yoh 10,22-30

Posting Tahun 2016: Bertindak Heroik
Posting Tahun 2015: Kristen atau Kriminal

Posting Tahun 2014: ID Card – ID Body

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s